Filolog Paparkan Kiprah Pesantren sebagai Penjaga Peradaban Aksara Nusantara

Filolog khazanah ulama Nusantara, A Ginanjar Sya'ban. (Foto: Istimewa)
Filolog khazanah ulama Nusantara, A Ginanjar Sya'ban. (Foto: Istimewa)
Filolog khazanah ulama Nusantara, A Ginanjar Sya'ban. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Pesantren memiliki kiprah luar biasa sebagai penjaga peradaban aksara Nusantara. Ia hadir sebagai penyambung lokus tradisi pendidikan Islam layaknya Timur Tengah, Andalusia, Eurasia, dan wilayah lainnya. Salah satu hal yang menunjukkan hubungan Islam di Nusantara dengan wilayah lain dibuktikan adanya sanad keilmuan.


Hal tersebut disampaikan oleh filolog khazanah ulama Nusantara, Ahmad Ginanjar Sya'ban, dalam Pidato Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) melalui Zoom, Rabu (15/7).


Para kiai, kata dia, kerap menyampaikan kepada santrinya mengenai runtutan gurunya atas kitab yang akan, sedang, atau telah dikajinya. Kiai menyebut bahwa ia telah membaca kitab tersebut di hadapan gurunya, gurunya membaca kepada gurunya, dan seterusnya hingga sampai pada pengarangnya.

Baca juga: Filolog: Pesantren sebagai Benteng dan Pengarus Utama Islam Nusantara


“Kemudian, para santri akan kembali meneruskan pemahaman dan pengetahuan atas teks yang telah dikaji di hadapan kiainya itu kepada murid-muridnya kelak,” tutur Ginanjar.


Ia mencontohkan, karya-karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang ditulis 1.000 tahun lalu, seperti Minhajul Abidin, Bidayatul Hidayah, Kimyaus Sa'adah, al-Wajiz, hingga Ihya Ulumiddin masih bisa dijumpai, dipelajari, diajarkan, dilestarikan, ditulis ulang, diterjemahkan dari bahasa aslinya. Bahkan, diberi catatan tambahan oleh akademisi. Dalam hal ini, kiai dan santri di sejumlah pesantren tradisional.


Menurut dia, keberadaan pesantren juga sebagai sumber pengetahuan Islam Nusantara yang terkodifikasi. Selain mengajarkan ilmu klasik, pesantren juga mampu hadir sebagai produksi teks keilmuan Islam.


“Banyak ulama Nusantara yang melahirkan beragam karya dalam berbagai bidang, seperti tata negara, tafsir, etika, filsafat, sastra, tata bahasa, yurisprudensi, hingga perobatan,” ungkapnya.


Ginanjar mencontohkan dalam bidang tafsir di antaranya Kitab Tarjuman al-Mustafid karya Syekh Abdurrauf Singkel, Tafsir Marah Labid (Syekh Nawawi al-Bantani), Tafsir Faidl al-Rahman (Syekh Soleh Darat Semarang), hingga Tafsir al-Ibriz (KH Bisri Mustofa Rembang).


Dalam bidang fiqih, ada kitab Safinatunnaja karya Syekh Salim bin Sumair Hadramaut yang syarahnya ditulis oleh Syekh Nawawi Banten berjudul Kasyifatussaja. Kitab tipis itu juga dinazamkan dengan judul Tanwirul Hija oleh KH Ahmad Qusyairi bin Kiai Shiddiq, saudara dari KH Ahmad Shiddiq dan KH Mahfudz Shiddiq.


“Kitab nazam tersebut ditulisnya ketika masih masa remaja sekitar 17 tahun. Kitab itu lalu diberi komentar penjelasan oleh ulama bermazhab Maliki, yakni Syekh Muhammad bin Ali bin Husein Al-Maliki dengan judul Inaratud Duja,” terangnya.


Dalam bidang tata bahasa Arab, ada kitab al-Amtsilat al-Tashrifiyah karya KH Ma'shum Ali, menantu Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari, kitab Tasywiqul Khallan, hasyiyah atas kitab Mukhtashar Jiddan Syekh Zaini Dahlan yang ditulis oleh KH Muhammad Ma'shum bin Salim.


Ada pula kitab Sirajut Thalibin karya Syekh Ihsan Dahlan Jampes Kediri. Kitab syarah (penjelas) atas Minhajul Abidin karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali itu sampai sekarang dikaji oleh Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.


Butuh Museum
Karya yang sedemikian banyaknya itu belum tereksplorasi dan terpublikasi dengan baik. Karenanya, Ginanjar menegaskan bahwa meskipun peradaban Islam Nusantara ini disebut pinggiran itu bisa dinyatakan tidak benar, tetapi tidak bisa 100 persen disalahkan. Hal itu karena adanya pengabaian karya-karya intelektual yang sudah ditulis oleh para leluhur ulama Nusantara itu.


"Karya-karya ulama Nusantara itu ingin kita kukuhkan sebagai warisan heritage ulama Nusantara," kata filolog yang menamatkan studi sarjananya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu.


Oleh karena itu, Ginanjar menegaskan perlunya legasi peradaban aksara Nusantara sebagai warisan peradaban intelektual Nusantara bisa terawat sebagaimana mestinya. Hal ini bisa dilakukan dengan pendirian museum yang menghimpun ribuan karya ulama Nusantara tersebut.


"Ada museum yang kemudian menghimpun menjaga, melestarikan manuskrip ulama Nusantara," katanya, "ada pusat studi terhadap karya tersebut untuk menjadi semacam mercusuar peradaban yang bisa kita banggakan wariskan kepada anak cucu kita," pungkasnya.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Musthofa Asrori
 

BNI Mobile