Kiai Maddah, Si Pendekar dan Mustasyar PCNU Kencong Jember, Tutup Usia

Mustasyar PCNU Kencong, Jember, Jawa Timur, KH Achmad Maddah Zawawi. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Mustasyar PCNU Kencong, Jember, Jawa Timur, KH Achmad Maddah Zawawi. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Mustasyar PCNU Kencong, Jember, Jawa Timur, KH Achmad Maddah Zawawi. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Mendung duka berarak menyelimuti  Jember, Jawa Timur. Pasalnya, salah seorang putra terbaik NU Cabang Kencong, Kabupaten Jember,  KH Achmad Maddah Zawawi berpulang ke pangkuan Allah di usia 85 tahun, Kamis (16/7). Pria yang akrab disapa Kiai Maddah tersebut wafat  di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Assunniyah, Kencong ketika jam menunjuk angka 1.30 WIB.


Selain mengasuh santri, almarhum juga menjadi Mustasyar PCNU Kencong, Jember.  Kiai Maddah adalah adik kandung KH Jauhari Zawawi sekaligus paman KH Syadid Jauhari. Ia merupakan saudara ‘sambung’  KH Sahal Mahfudz karena  istrinya adalah adik kandung  mantan Rais ‘Aam PBNU itu. Salah seorang putra Kiai Maddah, KH Abdullah Khoiruzzad Maddah saat ini menjadi  Wakil Rais Syuriyah PCNU Kencong.  Sebelumnya ia menjabat Rais Syuriyah PCNU Kencong  tiga periode.


Kiai Maddah dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan sabar. Kesederhanan beliau bisa dilihat dari rumahnya yang sama sekali tidak ada kemewahan apapun. Begitu juga  penampilannya, sangat sederhana, sama sekali tak tergoda untuk hidup mewah.


“Beliau sabar dan zuhud.  Juga istikamah dalam shalat  berjamaah dan mengasuh  (mengaji) kitab,” tutur Ketua PCNU Kencong, Kiai Zainil Ghulam di rumah duka, Kamis (16/7).


Saat masih muda, Kiai Maddah dikenal sebagai pendekar yang sakti mandraguna. Meskipun perawkannya tidak kekar, tapi ia cukup disegani oleh pesilat dan pendekar lain.  Kelebihannya tidak hanya di bidang kanuragan, tapi juga dalam seni hadrah.


Selama hidupnya, Kiai Maddah aktif   dalam  ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) Cabang Kencong.  Konon, kalau beliau lagi menabuh rebana, suaranya cukup nyaring, bahkan mampu menghipnotis  hadirin.


“Cerita soal kelebihan beliau, termasuk adalam menabuh rebana itu sudah masyhur sejak lama,” tambah Gus Ghulam, sapaan akrabnya.


Kesabaran dan kelembutan sikap Kiai  Maddah juga diakui oleh mantan Wakil Ketua PCNU Kencong, H Marsuki Abd. Gofur. Menurutnya, kelembutan pribadi beliau tidak hanya tampak lewat  ucapan yang mengalir dari lisannya, tapi terbaca dari prilaku   kesehariannya, termasuk dalam menerima tamu.


“Masyaallah, beliau adalah orang  yang  sangat lembut kepada tamu dan siapapun,” jelasnya.


H Marsuki, sapaan akrabnya, mengaku sangat merasa kehilangan terhadap sosok almarhum Kiai Maddah.  Dikatakannya, jika dunia kehilangan orang alim, maka ada ‘barang’ lain yang  juga ikut lenyap, yaitu ilmunya. Sehingga ketika Kiai Maddah pergi, maka otomatis aliran ilmu yang berasal dari dirinya juga terputus.


“Makanya terus terang kita merasa sangat kehilangan beliau,” pungkasnya.


Kiai Maddah telah pergi untuk selamanya. Namun ‘peninggalannya’ tak akan pernah lenyap ditelan zaman. Dalam jiwa ribuan santri dan alumni Pondok Pesantren Assunniyah, Kencong, dan para kader NU,  tentu telah mengalir darah  keilmuan dari sang kiai.  Ilmu tersebut akan terus berkembang biak menjadi ‘virus’  yang  membentuk karakter  tangguh bagi generasi muda Nahdlatul Ulama.


Oh, selamat  jalan Kiai Maddah. Selamat jalan wahai jiwa yang tenang.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile