Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Raih Doktor, Menaker Ida Fauziyah Berterima Kasih kepada Gus Dur

Raih Doktor, Menaker Ida Fauziyah Berterima Kasih kepada Gus Dur
Ida Fauziyah saat sidang promosi doktor ilmu pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri. (Foto: NU Online/istimewa)
Ida Fauziyah saat sidang promosi doktor ilmu pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri. (Foto: NU Online/istimewa)

Jakarta, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan, Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah meletakkan fondasi penting bagi upaya untuk meningkatkan kedudukan, peran, dan kualitas perempuan. Hal tersebut demi mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam ranah kenegaraan dan kebangsaan.


Hal itu dikatakan Menaker saat menyampaikan pidato kelulusannya dalam sidang promosi doktor ilmu pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jumat (17/7). Sidang promosi doktor disiarkang langsung melalui Iftah Channel di kanal YouTube. 


“Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Presiden ke-4 Republik Indonesia. Sebab, beliau telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional,” ujarnya disambut aplaus hadirin.


“Melalui forum yang mulia ini saya mengajak hadirin semua untuk mengirim al-Fatihah untuk sang guru bangsa, Gus Dur. Lahul Fatihah,” sambung Ida Fauziyah diikuti hadirin.


Ida mengatakan, sebagai bagian dari perempuan Indonesia yang turut merasakan kegundahan yang mendera kaum perempuan, ia menyaksikan fakta bahwa hingga kini perempuan masih dikepung berbagai persoalan.


Perempuan, lanjut dia, masih tertinggal dalam berbagai lini kehidupan dan mengalami berbagai persoalan, seperti kekerasan, trafficking, minimnya akses pendidikan dan kesehatan, problem ekonomi, serta persoalan lain yang tak kalah pelik. Bahkan, kaum perempuan diakuinya masih menjadi penyumbang terbesar kemiskinan di negeri ini.


“Pergulatan saya di dunia gerakan perempuan maupun kancah politik selama hampir dua dasawarsa, telah membuka kesadaran terhadap berbagai masalah yang dihadapi perempuan Indonesia,” papar perempuan asal Mojokerto Jawa Timur ini.


Dijelaskannya, sejumlah persoalan yang menyelimuti perempuan tersebut menjadi latar belakang baginya untuk terjun dan terus mengawal isu-isu perjuangan kaum perempuan.

 

“Termasuk mendalami kajian tentang perempuan melalui program doktoral di IPDN ini,”ungkapnya. 


Menurut Ida, secara khusus dirinya memiliki perhatian terhadap isu pengaurusutamaan gender di parlemen. Sebab, lembaga legislatif merupakan salah satu jantung pengambilan kebijakan negara dalam menentukan arah bangsa. Termasuk menentukan nasib kaum perempuan. 


“Keterlibatan perempuan dalam kancah pengambilan keputusan ini merupakan suatu keniscayaan untuk mendorong kebijakan publik yang berkeadilan dan pro-terhadap perempuan,” tandas Ketua Pengurus Pusat (PP) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) masa khidmat 2015-2020 tersebut. 


Dalam konteks ini, kata dia, banyak sekali regulasi yang secara langsung menentukan nasib dan masa depan perempuan. Tentu karena masalah utamanya adalah soal keterwakilan politik.


“Oleh karena itu, legislasi paling penting adalah paket undang-undang bidang politik, yaitu revisi Undang-Undang Pemilu, Undang-Undang Partai Politik, dan Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3),” tegasnya.


Disertasi Ida yang berjudul ‘Implementasi Pengarusutamaan Gender dalam Tugas dan Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia’ ini diuji oleh Prof Dr Bahrullah Akbar MBA, Prof Dr I Nyoman Sumaryadi Msi, dan Prof Dr Khasan Effendy MPd.


Turut menyaksikan sidang tersebut para pejabat negara, antara lain Ketua DPR RI Puan Maharani, Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati, dan Menteri Desa Abdul Halim Iskandar.


Pewarta: Musthofa Asrori
Editor: Ibnu Nawawi 

BNI Mobile