Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Said Kenang 30 Tahun Wafatnya Syekh Yasin Padang

Kiai Said Kenang 30 Tahun Wafatnya Syekh Yasin Padang
KH Said Aqil Siroj berpendapat Syekh Yasin Padang merupakan ulama Nusantara berkaliber dunia, panutan ulama Ahlussunah wal Jamaah. 
KH Said Aqil Siroj berpendapat Syekh Yasin Padang merupakan ulama Nusantara berkaliber dunia, panutan ulama Ahlussunah wal Jamaah. 

Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak untuk melanjutkan perjuangan Syekh Yasin Padang, ulama Indonesia yang lahir dan wafat di Tanah Suci Makkah, Aarab Saudi. Ulama Ahlussunah wal Jamaah, yang merupakan guru ulama-ulama NU. 


“Tepat pada hari ini di tiga puluh tahun lalu, yaitu 21 Juli 1990, dunia Islam kehilangan sosok ulama terbaiknya. Beliau adalah Syekh Muhammad Yâsîn bin ‘Îsâ al-Fâdânî al-Makkî, atau yang dikenal dengan Syekh Yasin Padang,” ungkapnya melalui akun Instagram @saidaqilsiroj53


Menurut kiai pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqofah Jagakarsa, Jakarta Selatan ini, Syekh Yasin Padang merupakan ulama Nusantara berkaliber dunia, panutan ulama Ahlussunah wal Jamaah. 


“Mari kita melanjutkan apa yang telah diperjuangkan selama hidupnya seraya membacakan ummul Qur’an, Al-Fatihah…,” ungkapnya. 


Ungkapan tersebut, merupakan keterrangan dari videografis selintas tentang Syekh Yasin Padang. Videografis itu menjelaskan bahwa Syekh Yasin al-Fadani adalah ulama asal Padang, Sumatera Barat bermukim dan mengajar di Haramain. Lahir di Makkah pada tahun 1916. Mengajar di Darul Ulum, dan halaqah Masjidil Haram sejak 1946. 


Videografis itu juga menjelaskan bahwa ulama ini produktif berkarya. Jumlah karya Syekh Yasin mencapai 97 kitab. Sembilan kitab tentang ilmu hadits, 25 kitab tentang ilmu fiqih dan ushul fiqih, 36 kitab tentang ilmu falak, dan sisanya tentang beragam disiplin keilmuan. 


“Selain dikenal sebagai ulama nasionalis, Syekh Yasin al-Fadani juga hidup sederhana,” ungkapnya. “Kecintaannya terhadap Indonesia ditunjukkan dengan mengunjungi murid-muridnya di sejumlah pesantren di Nusantara,” tambahnya. 


Syekh Yasin memiliki kedekatan emosional dengan Nahdlatul Ulama. Ia hadir dalam Muktamar NU ke-26 di Semarang, Jawa Tengah, pada 1979. Kemudian mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa. 


Syekh Yasin wafat pada 21 Juli 1990 (28 Dzulhijjah 1410 H) dan dimakamkan di Pemakaman Ma'Ia Makkah.


NU Online melihat vidoegrafis tersebut pukul 23.07. Instagram menjelaskan videografis tersebut diunggah sejam lalu dengan 676 kali tayangan dan 4 empat komentar. 


Pewarta: Abdullah Alawi 
Editor: Alhafiz Kurniawan  

BNI Mobile