Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARI ANAK NASIONAL

Begini Pendidikan Kiai Said pada Masa Kanak-kanaknya 

Begini Pendidikan Kiai Said pada Masa Kanak-kanaknya 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj

Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bercerita tentang pendidikan yang diperoleh pada masa kanak-kanaknya. Sebagai putra seorang kiai, ia mendapat pendidikan langsung dari ayahandanya, KH Aqil Siroj, pengasuh pondok pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. 


“Saya masih ingat bagaimana ayahanda saya almarhum Kiai Aqil Siroj mendidik anak-anaknya semenjak kecil kami bersaudara,” katanya melalui video yang dibagikan melalui akun Instagramnya, @saidaqilsiroj53, Kamis (23/7), dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. 


Lima bersaudara itu adalah KH Ja'far Shodiq, KH Said Aqil Siroj, KH Musthofa Aqil Siroj, KH Ni'amillah Aqiel Siroj, dan KH Ahsin Syifa Aqil Siroj. Kelima bersaudara itu kini menjadi kiai. Dua di antaranya telah wafat, yakni KH Ja'far Shodiq (sulung) dan KH Ahsin Syifa Aqil Siroj (bungsu).


“Kami lima bersudara disiplin shalat berjamaah lima waktu, disiplin menghafal Al-Qur’an dan menghafal pelajaran-pelajaran,” katanya. 


Kiai Said menyebut kitab-kitab yang harus dihafal bersama saudara-saudaranya itu. Pertama dalam bidang ilmu tata bahasa Arab (nahwu), yakni kitab Jurumiyah, Amrity, Mutammimah dan Alfiyah


Dalam bidang fiqih, ia dan saudara-saudaranya harus belajar memahami kitab Safinah, Sulam Taufiq, Fathul Qarib, Fathul Wahab. Sementara dalam bidang tafsir adalah Jalalayn.


“Itu semua diajarkan kepada anak-anaknya dengan sangat disiplin yang tinggi,” kata pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqofah Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini.  


Artinya, kata dia, ayahandanya sangat menekankan ia dan saudara-saudaranya harus memahami kitab-kitab yang biasa diajarkan di pesantren tersebut. 


“Kata ayah, ‘saya rugi ngajar santri-santri kalau anak saya sendiri tak paham’; maka anaknya pun dianggap seperti santri, diperlakukan seperti santri. Kalau santri harus hafal, harus paham; anak harus lebih unggul,” tegasnya. 


Selepas dididik ayahandanya, Kiai Said kemudian menimba ilmu di pondok pesantren Lirboyo, Kediri (Jawa Timur), kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Krapyak (Yogyakarta). Setelah itu melanjutkan pendidikannya di Arab Saudi, di Universitas Ummul Qurra. Di kampus tersebut Kiai Said menghabiskan waktu selama 13 tahun menyelesaikan jenjang S1 hingga S3.  


Pewarta: Abdullah Alawi 
Editor: Alhafiz Kurniawan 
 

BNI Mobile