Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Mu`allim Radjiun: dari Berdagang Sampai Mengimami Jumatan Bung Karno di Istiqlal

Mu`allim Radjiun: dari Berdagang Sampai Mengimami Jumatan Bung Karno di Istiqlal
Muallim Radjiun ulama Betawi anggota Konstituante dan dipercayai untuk menjadi Imam Shalat Jum`at pertama di Masjid Istiqlal bersama Presiden RI Bung Karno.
Muallim Radjiun ulama Betawi anggota Konstituante dan dipercayai untuk menjadi Imam Shalat Jum`at pertama di Masjid Istiqlal bersama Presiden RI Bung Karno.

Setelah belasan tahun di Makkah, Mu`allim Radjiun kembali ke tanah air dan bergabung dengan beberapa teman serta juniornya di Jam`iyatul Qurro wal Huffazh, organisasi NU yang menaungi para qari dan penghafal al-Qur`an. Mereka adalah KH Tb Mansur Ma`mun, KH Shaleh Ma`mun Serang, Banten, KH Abdul Hanan Said, dan KH Abdul Aziz Muslim. Ia juga aktif di NU (Nahdlatul Ulama).


Ia juga bersahabat karib dengan KH Abdullah Syafi`i (pendiri pergururuan Asy-Syafi`iyyah), Bali Matraman, dan KH Thahir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyah) Bukit Duri Kampung Melayu. Karir Muallim Radjiun di birokrasi sempat mencapai Penasihat Ahli Bidang Agama Menteri Utama Bidang Kesra RI yang ketika itu dijabat oleh Dr KH Idham Cholid.


Mu`allim Radjiun juga memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat. Jika dirunut, ia memiliki darah keturunan petani dan pedagang kembang di Rawa Belong, Jakarta Barat. Namun usaha jual dan beli kuda yang basis peternakannya di Sumbawa, NTB menjadi pilihannya.


Sambil berdagang, Muallim Radjiun juga bertabligh hingga ke wilayah Waingapu, NTT yang pengaruhnya masih terasa di sana sampai sekarang. Aktivitas tablighnya juga dilakukan di Jakarta sampai ke Kepulauan Seribu.


Selain bertabligh, ia juga mengajar di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang dan di daerah Pekojan, Jakarta Barat. Ia berada di Pekojan ini karena ia beristri seorang syarifah (perempuan terhormat keturunan Arab) dari Pekojan yang bernama Chadidjah, walau tidak dikaruniai keturunan. Karenanya, nama kampung tersebut melekat pada namanya, Pekojan: Muallim Muhammad Radjiun Pekojan.


Ia memperoleh keturunan ketika menikah dengan R Hj Siti Maryam yang salah seorang anaknya meneruskan kiprah keulamaannya, yaitu KH Abdurrahim Radjiun yang juga mengaji kepadanya.


Kealiman dan penguasan Muallim Radjiun terhadap kitab kuning dikenal luas oleh masyarakat Betawi. KH. Zainuddin MZ dan Mu`allim KH. Syafi`i Hadzami menyebut Muallim Radjiun dengan ”guru saya” (perlu penelitian lebih lanjut atas pernyataan ini).


Ia juga dikenal sebagai ulama yang tawaddu` sebagaimana yang diungkapkan oleh almarhum KH Saifuddin Amsir dan juga oleh Dr. Habib Sechan Shahab, salah seorang muridnya yang pernah mengaji Kitab Tafsir Jalalain kepadanya.

 

 

Relasinya yang kuat dengan berbagai pihak di Timur Tengah juga memberikan manfaat kepada putra-putra terbaik Betawi yang ingin memperdalam ilmu di Timur Tengah. Salah satu dari mereka adalah Ketua Umum MUI Bekasi KH Amin Noer Lc, salah satu putra KH Noer Alie. Mu`allim Radjiun membantunya untuk dapat kuliah di Mesir.


Muallim Radjiun juga tercatat sebagai ulama Betawi yang duduk sebagai anggota Konstituante dan memperoleh kepercayaan untuk menjadi Imam Shalat Jum`at pertama di Masjid Istiqlal bersama Presiden RI Bung Karno.


Muallim Muhammad Radjiun Pekojan wafat pada  13 Juni 1982. Ia dimakamkan di pemakaman Karet, Jakarta Pusat, berdekatan dengan makam ayahnya, H Abdurrahim dan kakeknya H Nafi. Tidak jauh dari makamnya juga dikuburkan istri Soekarno, almarhumah Ibu Fatmawati.


Penulis: Rakhmad Zailani Kiki

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile