Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Silaturahim PCINU Sedunia, Kiai Said Serukan Jaga Budaya Nusantara

Silaturahim PCINU Sedunia, Kiai Said Serukan Jaga Budaya Nusantara
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj. (Foto: NU Online/Miftahuddin)
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj. (Foto: NU Online/Miftahuddin)

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj pada acara silaturahim Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) sedunia menekankan warga NU di luar negeri agar tidak sampai menghilangkan nilai dan budaya nusantara.


Baginya, budaya yang sudah berjalan demikian baiknya di Indonesia sangat luhur. Dan belum tentu di luar negeri mempunyai budaya yang lebih mulia daripada budaya Indonesia. "Kalau bangsa Indonesia yang mencari ilmu di luar negeri, pulang ke Indonesia bawa ilmu, bukan bawa budaya," jelasnya melalui virtual, Sabtu (25/7).


Warga Indonesia harus belajar dari sejarah, bahwa tidak sedikit dari bangsa kita sendiri yang justru berubah haluan bahkan secara ideologi tatkala belajar ilmu pengetahuan dan produk budaya luar negeri. Puncaknya mereka mudah menganggap orang lain kafir karena tidak sepaham dengan dirinya.


"Karena tidak sedikit warga Indonesia yang mencari ilmu seperti di Timur Tengah pulang membawa budaya Arab, sehingga sedikit-sedikit (dianggap) kafir, sesat, bid'ah, dan lain-lain," tuturnya.


Ia menyebut, salah satu budaya asli Indonesia dari aspek pakaian seperti mengenakan sarung, kopiah, dan baju batik untuk beribadah kepada Allah SWT. Hal ini bukan berarti yang memakai gamis lebih baik daripada budaya Indonesia, meski pakaian gamis adalah budaya Arab.


"Jangan sampai orang yang menggunakan gamis untuk shalat merasa lebih mulia ketimbang orang yang memakai sarung, karena kemuliaan di hadapan Allah bukan terdapat pada penampilan, namun pada ketaqwaan hatinya," tegas Kiai Said.


Belum lagi soal upaya merekatkan kebersamaan dan solidaritas, bangsa Indonesia memiliki budaya tersendiri dengan gotong royong atau tolong menolong antarsesama. Ada juga budaya halal bihalal sebagai upaya saling memaafkan yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya.


"Belum lagi dengan kata sapa, di Indonesia manggil nama KK dengan nama itu sudah tidak sopan, sedangkan di Arab itu sudah biasa. Ditambah dengan orang lewat di hadapan orang tua dan orang yang sedang shalat. Kalau melewati kepala orang yang sedang sujud di Arab sudah biasa," ujarnya.


Oleh karena itu, kiai yang kerap disapa Kang Said ini mengimbau Nahdliyin yang berada di luar negeri agar senantiasa menjaga kelestarian budaya Indonesia, baik dalam berpakaian, bertutur sapa, hingga pada upaya menjaga keutuhan bangsa dan negara.


"Maka saya titip kepada semua agar menjaga nilai dan budaya Indonesia yang seutuhnya, karena saya juga kuliah disana selama 13,5 Tahun pulang bawa ilmu, bukan bawa budaya dari sana," tandasnya.


Kontributor: Muhammad Salim
Editor: Syamsul Arifin

BNI Mobile