Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Abdul Mannan, Wakil Klaten di Muktamar NU Tahun 1935

Kiai Abdul Mannan, Wakil Klaten di Muktamar NU Tahun 1935
Kiai Bambang Riyadi di depan makam Kiai Abdul Mannan dan para leluhurnya (Foto: Dokumen Pribadi)
Kiai Bambang Riyadi di depan makam Kiai Abdul Mannan dan para leluhurnya (Foto: Dokumen Pribadi)

Nama Kiai Abdul Mannan tercatat pernah beberapa kali mewakili NU Cabang Klaten di perhelatan Muktamar NU. Dari data laporan Muktamar NU yang dimiliki penulis, sejak Muktamar NU yang pertama pada tahun 1926, nama Kiai Abdul Mannan dari Klaten tercantum dua kali, yakni pada penyelenggaraan Muktamar NU di Kota Surakarta (tahun 1935) dan Surabaya (1940).


Sebagaimana tertulis dalam buku Poeteosan Congres Nahdlatoel ‘Oelama’ ka 10 di Solo Soerakarta Tanggal 13-19 April 1935 yang diterbitkan oleh Hoofd-Bestuur Nahdlatoel Oelama’ (HBNO), acara ini diikuti dihadiri 516 orang, dengan rincian: 140 ulama, 176 utusan bagian tanfidziyah, dan 200 tamu pengiring. Beberapa ulama besar dan tokoh yang hadir antara lain : Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Cirebon, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Ridlwan Semarang, Kiai Zuhdi Pekalongan, Kiai Ma’shum Lasem, dan lain-lain.


Dalam sebuah sesi, tiap daerah kemudian diminta untuk melaporkan perkembangan NU. Pada saat giliran NU Klaten, Kiai Abdul Mannan menjadi juru bicara untuk menerangkan keadaan NU di daerah tersebut. Dalam pemaparannya, NU Klaten pada tahun 1935, telah memiliki 300 anggota, 3 kring, 1 madrasah yang memiliki 100 murid, 20 mubalighin dan 10 mubalighat. Kemudian, setiap malam Selasa terdapat jadwal Nasihin, dan Jumat siang jadwal Nasihat (kaum perempuan). Juga ianah syahriah yang telah mencukupi dan bahkan mampu setor kepada HBNO.


Kemudian, 5 tahun berselang setelah Muktamar NU di Kota Surakarta, tepatnya pada pelaksanaan Muktamar ke-15 di Surabaya, dalam daftar peserta Muktamar nama Kiai Ngabdoelmanan tercatat mewakili NU Klaten sebagai Syuriah, didampingi pengurus Tanfidziyah NU Klaten, Atmosoedarso. Berbekal, dua data inilah penulis kemudian mencoba untuk mencari tahu tentang riwayat hidup Kiai Abdul Mannan Klaten.

Keturunan Singa Waspada
Saya mulai mencari keluarga Kiai Abdul Mannan, yang menurut keterangan dari Ketua LTN-NU Klaten Minardi, berada di daerah Pengkol, Kaligawe, Pedan, Klaten. Di sana, saya bertemu dengan salah satu cucu Kiai Abdul Mannan yang bernama Bambang Riyadi. Bambang merupakan putra dari Ummul Albab binti Kiai Abdul Mannan. Rumah Bambang, hanya berjarak sekitar 50 meter dari “Ndalem Sepuh”, yang dulu ditempati oleh Kiai Abdul Mannan dan para leluhurnya.


“Kiai Abdul Mannan (memiliki nama kecil Amir) merupakan adik dari Kiai Abu ‘Ammar, yang pernah menjadi pengasuh Pesantren Jamsaren Solo,” terang Bambang Riyadi, saat saya temui di rumahnya, sekitar satu tahun yang lalu (23/9/2019).


Keduanya, Kiai Abdul Mannan dan Kiai Abu ‘Ammar, merupakan putra dari Kiai Abdul Ghoni bin Kiai Maulani bin Kiai Muqoyyad bin Kiai Muqdi (Muqowi) bin Kiai Fatuhudin (Gumantar Juwiring) bin Kiai Dipokerti (berasal dari Ponorogo, dekat dengan Kiai Besari). Selain Kiai Abu ‘Ammar dan Kiai Abdul Mannan, putra-putri Kiai Abdul Ghoni lainnya yakni Nyai Sayuti dan Kiai Umar, yang merupakan anak nomor pertama dan kedua.


Kakek mereka yang bernama Kiai Muqoyyad menjadi salah satu panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) yang bergelar Singa Waspada. Di wilayah Klaten, Kiai Muqoyyad yang memiliki senjata bernama Kiai “Royyan” berjuang bersama Kiai Imam Rozi (Singa Manjat). Dalam perjuangannya, ia gugur dan dimakamkan di daerah Juwiring.


Ketika masih muda, Abdul Mannan selain berguru kepada ayahnya juga nyantri ke Pesantren Tempursari Klaten di bawah asuhan Kiai Zaid. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Pesantren Jamsaren Solo yang diasuh Kiai Idris, yang juga putra dari gurunya di Tempursari. Ia juga nyantri di Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan di Pesantren Kadirejo Karanganom kepada Kiai Ahmad.


Di Jamsaren, ia dan kakaknya mengaji kepada Kiai Idris. Di sela waktu belajarnya, ia juga diberi tugas untuk menjaga perpustakaan Madrasah Mambaul Ulum. Sedangkan, sang kakak (Kiai Abu ‘Ammar) menjadi menantu Kiai Idris dan sepeninggal Kiai Idris (wafat tahun 1923), estafet sebagai pengasuh Pesantren Jamsaren bahkan dipercayakan kepadanya (Kiai Abu ‘Ammar wafat wafat tahun 1965 dan digantikan Kiai Ali Darokah).


Selepas nyantri ke berbagai pesantren tersebut, Abdul Mannan kembali ke Pengkol untuk melanjutkan perjuangan dakwah sang ayah. Di sebuah musholla yang sudah dibangun kakeknya sejak sekitar tahun 1800-an, ia mengajar masyarakat sekitar, bahkan hingga ke Batur Ceper. Ia juga ditunjuk menjadi pengulu di Kecamatan Pedan.


“Saya pernah ikut pengajian Simbah (Kiai Abdul Mannan, pen), yang saya ingat waktu itu lampunya masih pakai lampu sentir, suguhannya jajanan karak dan wedang gula jawa,” kenang Bambang, yang pada saat saya wawancarai, sudah berusia 64 tahun.


Riwayat Perjuangan
Seperti yang telah dipaparkan di awal tulisan ini, Kiai Abdul Mannan ikut aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan tercatat pernah mewakili NU Cabang Klaten di beberapa momen Muktamar NU, di antaranya tahun 1935 dan tahun 1940. Di wilayah eks-Karesidenan Surakarta, Klaten bersama Surakarta dan Boyolali memang ikut termasuk sebagai cabang perintis dan terlibat dalam aktivitas organisasi, baik di sekup lokal maupun nasional.

    
Perwakilan dari Surakarta, seperti Kiai Siradj dan Kiai Mawardi bahkan tercatat hadir sejak Muktamar NU yang pertama di Surabaya tahun 1926. Kemudian, NU Boyolali, baru tercatat di ajang Muktamar, tiga tahun setelahnya, yang diwakili oleh Kiai Raden Ng. Soleh. Sedangkan NU Klaten, baru terlibat ketika diselenggarakan Muktamar ke-X di Surakarta. Pada Muktamar tersebut, tidak dijelaskan secara detail peran Kiai Abdul Man nan di NU Klaten, apakah sebagai Syuriyah atau Tanfidziyah.
    

Pada Muktamar NU tahun 1939 di Magelang, tak jauh dari Klaten, tidak terdapat nama Kiai Abdul Mannan. NU Cabang Klaten mengirimkan beberapa wakilnya, yang tercatat dalam buku laporan Muktamar, yakni Kiai Mataram Moch. Chamdani (Syuriyah) dan Tjokro Soedarmo (Tanfidziyah). Baru setahun kemudian, tahun 1940, ketika Muktamar NU diselenggarakan di Surabaya, Kiai Abdul Mannan tercatat ikut menghadiri sebagai Syuriyah dari Cabang NU Klaten.
    

Dari beberapa catatan yang penulis temukan tersebut, di antaranya peran sebagai juru bicara utusan NU Cabang Klaten di ajang Muktamar, memperlihatkan peran yang besar Kiai Abdul Mannan di lingkup NU Klaten. Terutama posisinya sebagai Syuriah NU Klaten, di masa menjelang kemerdekaan Indonesia.
    

Tentang kisah perjuangannya bersama NU ini, syahdan pada saat Muktamar NU dilangsungkan di Malang, Jawa Timur, Kiai Abdul Mannan ikut menghadirinya, dengan ngonthel (naik sepeda) dari Klaten ke Malang. “Saya diceritani Ibu saya, Simbah dulu pernah berangkat ke Muktamar NU di Malang, ngonthel,” kata Bambang.


Darah pejuang dari sang kakek, ikut mengalir kepada Kiai Abdul Mannan. Di masa perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, ia ikut membantu perjuangan Hizbullah, Sabilillah, dan Barisan Kiai di wilayah Klaten dan sekitarnya. Rumahnya, bahkan dijadikan sebagai tempat perlindungan bagi para pejuang Hizbullah dan Sabilillah. Selepas masa peperangan, Kiai Abdul Mannan kembali kepada aktivitasnya sebagai pegawai di KUA. Ia juga masih mempertahankan aktivitasnya sebagai guru ngaji. Tahun 1972, di usia 83 tahun, Kiai Abdul Mannan wafat. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman yang terletak di sebelah barat Masjid Al-Ikhlas. Lahu al-fatihah!


Penulis: Ajie Najmuddin
Editor: Abdullah Alawi
 

BNI Mobile