Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

KH Cholil Nafis: Jangan Impor Konflik Luar Negeri ke Indonesia

KH Cholil Nafis: Jangan Impor Konflik Luar Negeri ke Indonesia
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis (Foto: Istimewa)
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan agar umat Islam lebih menekankan pada upaya penyelesaian sebuah masalah dari pada terlibat menjadi bagian dari sebuah masalah yang sedang terjadi. Ia juga menambahkan, upaya penyelesaian konflik harus dilakukan melalui mekanisme yang mengedepankan nilai rahmat di dalam menjalankannya.


“Misalnya kalau terjadi konflik, kita jangan masuk pada konfliknya, tetapi bagaimana menyelesaikan konflik itu sendiri. Dan yang paling efektif adalah dengan membangun toleransi serta membangun dialog. Sehingga ada keterbukaan, saling sepemahaman dan saling menyayangi, bahkan kita bisa melakukan kerja-kerja konkret agar agama itu bisa hadir kepada mereka untuk menyampaikan bahwa agama membawa kedamaian di dunia dan bukan sebaliknya,” ujar KH. Muhammad Cholil Nafis di Jakarta, Ahad (26/6).


Penekanan ini menurutnya penting untuk terus diingatkan, mengingat berbagai konflik yang terjadi baik di dalam ataupun luar negeri kerap dibumbui dengan varian keagamaan yang kadang kala menyebabkan seseorang kesulitan melihat sebuah masalah secara lebih objektif. Padahal, lanjutnya, konflik banyak terjadi ketika berkenaan dengan pemaksaan untuk mendapat kekuasaan.

 

“Oleh karena itu agama harus dikembalikan sebagai spirit untuk membangun nilai peradaban dan kebaikan umat manusia,” tegasnya.


Ia mengkritik sekelompok orang yang membawa masalah dari luar negeri dengan framing (bingkai/bumbu) keagamaan. Sehingga menarik perdebatan masyarakat Indonesia, seolah-olah hal tersebut memancing sekelompok menggunakan identitas keagamaannya dalam berargumentasi dan mengambil sikap.


“Jangan mengimpor konflik-konflik yang ada di luar negeri itu ke Indonesia. Dilokalisir lah konfliknya di tempat itu. Karena konflik itu tidak semata-mata persoalan agama, tapi karena lebih dulu ada persoalan perebutan kekuasaan di sana,” katanya.  


‘Konflik impor’ yang demikian ini, kerap berakhir dengan menghadapkan masyarakat Indonesia pada dua pilihan antara mencintai agama atau mencintai bangsa Indonesia. Padahal keduanya bukan pilihan biner. Sebab umat Islam juga diajarkan untuk mencintai tanah airnya. Ia memberi contoh saat Rasulullah Muhamad SAW datang dari Makkah ke Madinah, Rasulullah menyebutkan tentang betapa rindunya beliau terhadap tanah kelahirannya.


“Rasulullah mengatakan ‘kalau tidak karena terpaksa aku dikeluarkan dari Makkah, aku takkan pernah hijrah ke Madinah’. Hal ini menunjukkan betapa Rasul Muhammad itu cinta terhadap Tanah Airnya. Makanya kita mengenal pepatah atau jargon ‘hubbul wathon minal iman’ yang dikatakan ulama besar kita pada saat itu KH. Hasyim Asy'ari yang artinya Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman itu,” tutur Kiai Cholil


Oleh karena itu ia mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat konflik di luar negeri secara lebih proporsional dan tetap dalam kerangka ukhuwah bainal-muslimin atau persaudaraan sesama umat Islam dan ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa setanah air. Sehingga umat Islam secara objektif dapat menentukan pendapat dan sikap, tanpa mengorbankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa Indonesia.


Pewarta: Ahmad Rozali
Editor: Muhammad Faizin

BNI Mobile