Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Soal Program Organisasi Penggerak, Mendikbud Minta Maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan PGRI

Soal Program Organisasi Penggerak, Mendikbud Minta Maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan PGRI
Mendikbud Nadiem Makarim (Foto: itjen.kemdikbud.go.id)
Mendikbud Nadiem Makarim (Foto: itjen.kemdikbud.go.id)

Jakarta, NU Online 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan duduk perkara terkait Program Organisasi Penggerak (POP) yang menjadi polemik dan perbincangan publik dalam beberapa hari ini. ia menyampaikannya dalam video yang tersebar di media sosial Selasa (28/7). 


Dalam video itu juga ia mengapresiasi masukan dari organisasi yang selama ini banyak berkontribusi dalam pendidikan di Indonesia yakni NU, Muhammadiyah, dan PGRI. Sebagaimana diketahui, dalam POP, ketiga organisasi tersebut justru mengundurkan diri. 


“Ketiga organisasi ini telah berjasa di dunia Pendidikan - bahkan jauh sebelum negara ini berdiri.  Tanpa pergerakan mereka dari Sabang sampai Merauke, identitas, budaya, dan misi dunia Pendidikan di Indonesia tidak akan terbentuk. Dengan penuh rendah hati, saya memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang timbul dan berharap agar ketiga organisasi besar ini bersedia terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program, yang kami sadari betul masih jauh dari sempurna,” katanya. 


Berikut ini adalah pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim


Assalamualaikum  warahmatullahi wabarakatuh...
 

Saya ingin memulai dengan menyatakan terima kasih atas semua saran dan juga masukan yang disampaikan oleh berbagai pihak terkait dengan program organisasi penggerak.


Saya memutuskan melakukan penundaan sementara dan evaluasi lanjutan minggu lalu, namun polemik serta kebingungan masih terjadi di masyarakat, yang terus saya cermati dan akan selalu saya upayakan untuk menjawab secara langsung. 


Niat kami sejak awal adalah untuk bermitra dengan para penggerak Pendidikan, dan menemukan inovasi-inovasi yang bisa dipelajari oleh pemerintah serta diterapkan dalam skala nasional. Itulah makna dari Program POP, agar Kemdikbud bisa belajar dari masyarakat pergerakan pendidikan. Hanya satu misi program kami, mencari jurus dan pola terbaik untuk mendidik penerus negeri ini. 


Setelah mendengar semua masukan masyarakat, Kemdikbud juga telah  berkomunikasi dengan pihak Tanoto Foundation dan Putera Sampoerna Foundation, dan menyepakati bahwa partisipasi mereka dalam kolaborasi dengan Kemdikbud,  tidak akan menggunakan dana dari APBN sepeserpun. Mereka akan mendanai sendiri aktifitas programnya tanpa anggaran dari pemerintah. Harapan kami, ini akan menjawab kecemasan masyarakat mengenai potensi konflik kepentingan, dan isu kelayakan hibah yang sekarang dapat dialihkan kepada  organisasi yang lebih membutuhkan. 


Saya juga ingin menyatakan apresiasi sebesar-besarnya atas masukan dari pihak NU, Muhammadiyah, dan PGRI mengenai POP yang juga telah dikomunikasikan langsung kepada Kemdikbud. Ketiga organisasi ini telah berjasa di dunia pendidikan - bahkan jauh sebelum negara ini berdiri. Tanpa pergerakan mereka dari Sabang sampai Merauke, identitas, budaya, dan misi dunia pendidikan di Indonesia tidak akan terbentuk.  Dengan penuh rendah hati, saya memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang timbul dan berharap agar ketiga organisasi besar ini bersedia terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program, yang kami sadari betul masih jauh dari sempurna. 


Besar harapan kami agar tokoh dan pimpinan NU, Muhammadiyah dan PGRI dapat turut serta menyempurnakan program ini, Bersama.  Tanpa dukungan dan partisipasi semua pihak, mimpi kita bersama menciptakan pendidikan berkualitas untuk penerus bangsa akan sulit tercapai. Kami siap mendengar, kami siap belajar.


Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Mendikbud


Editor: Abdullah Alawi
 

BNI Mobile