Makna Solidaritas dalam Kurban Perlu Dikembangkan di Daerah Plural

Ustadz Mumu Mubarok  Omo saat menjadi imam dan khatib dalam Shalat Idul Adha di Community Centre,  South Perth, Australia,  Jumat (31/7). (Foto: NU Online/Ridwan)
Ustadz Mumu Mubarok Omo saat menjadi imam dan khatib dalam Shalat Idul Adha di Community Centre, South Perth, Australia, Jumat (31/7). (Foto: NU Online/Ridwan)
Ustadz Mumu Mubarok Omo saat menjadi imam dan khatib dalam Shalat Idul Adha di Community Centre, South Perth, Australia, Jumat (31/7). (Foto: NU Online/Ridwan)

Australia, NU Online
Makna  penting dari kisah  ‘penyembelihan’ Nabi Ismail oleh ayahandanya, Nabi Ibrahim adalah  keikhlasan.  Tanpa semangat ikhlas  yang tinggi untuk mengabdi pada  Allah,  sulit peristiwa tersebut  terjadi.  Namun kedua Nabi Allah itu telah menunjukkan keikhasannya dalam memenuhi perintah Allah, tanpa reserve.


Demikian disampaikan oleh Ustadz Mumu Mubarok  Omo saat menjadi imam dan khatib dalam Shalat Idul Adha di Community Centre,  South Perth, Australia,  Jumat (31/7).


Menurut tokoh NU  Western Australian itu,  adalah iman kepada Allah yang menjadi landasan keikhlasan keduanya itu.  Tanpa iman tidak ada kisah yang mengharu biru tersebut.


“Iman yang kuat melahirkan keikhlaslasan dalam menghamba kepada Allah,” ujarnya.


Ustadz Mumu menambahkan, peristiwa tersebut  telah  bermetamorfose  dalam bentuk solidaritas  kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat. Kurban telah menjadi lambang  solidaritas, pengikat kebersamaan antara  orang  yang berkurban dan yang menerima kurban.


“Dari  situ, terjalin  kebersamaan, kerukunan, dan sebagainya,” tuturnya.


Oleh karena itu,  ia mengajak seluruh elemen masyarakat agar  solidaritas  yang  muncul dari semangat  berkurban tersebut, juga hadir  di wilayah-wilayah plural yang  umat Islam menjadi penghuni  minoritas.  Jika solidaritas itu  dikembangkan di wilayah-wilayah yang  plural, maka sungguh Indah.


“Solidaritas adalah nilai universal, siapapun memerlukannya dalam menjalani kehidupan ini. Dan peristiwa kurban itu telah mengajarkan  solidaritas yang sesungguhnya,” urainya.   


Shalat Idul Adha tersebut digelar oleh Westren Australia Multicultural Ta’lim a and Dzikir (Wamtaza), yaitu sebuah Ormas Islam di Perth yang fokus pada kajian keIslaman dan dzikir. Terdapat sekitar 200 Jemaah yang mengikuti shalat Idul Adha di lokasi tersebut. Mereka yang kebanyakan berasal dari Indonesia dan Malaysia itu , sejak pagi sudah hadir dan melakukan registrasi ulang.


Dalam kegiatan tersebut, mereka tetap mengikuti protokol pemerintah setempat dengan menggunakan masker dan menjaga jarak . Selain itu, acara silaturahmi dilakukan secara terbatas, makanan hanya dibagikan kepada para peserta dan dibawa pulang.


“Jemaah Muslim Indonesia sangat disiplin menjaga protokol kesehatan untuk menjaga agar  Covid-19 tidak  merebak kembali di wilayah Perth.  Sebab, ada kekhawatiran kalau Covid-19 gelombang ke dua terjadi di Perth seperti di Melbourne, ”ujar satu aktivis NU di Perth, Ridwan al-Makassary.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile