Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Im dan Ayat Suci yang Terus Terucap Sebelum Wafat

Gus Im dan Ayat Suci yang Terus Terucap Sebelum Wafat
Almaghfurlah KH Hasyim Wahid (Gus Im).
Almaghfurlah KH Hasyim Wahid (Gus Im).

Jakarta, NU Online

Sebulan lalu, tepatnya sebelum hari lahir ke-17 tahun NU Online diperingati, salah seorang yang terus mendampingi KH Hasyim Wahid atau Gus Im kala sakit, Muhammad Syafi’ Alielha atau yang karib disapa Savic Ali datang ke kantor redaksi NU Online untuk sebuah keperluan penting. Tentu saja di samping menyeruput kopi dan berbincang banyak hal dengan sahabat-sahabat redaksi.


Sesaat setelah berbincang, Savic terlihat bergegas untuk menemani seseorang di salah satu rumah sakit di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Dia ditemani sahabatnya, H Syaifullah Amin. Mereka berangkat bersama-sama dari Jalan Kramat 164 Jakarta Pusat.


Penulis sendiri yang turut berbincang bersama Mas Savic, sapaan kami kepada beliau, belum mengetahui pasti siapa seseorang yang hendak ditemaninya di rumah sakit. Yang jelas, pasti orang tersebut merupakan sosok penting.


Setelah Mas Savic pertama kali memposting keberadaan dirinya di rumah sakit dengan caption, “Sarapan ketiga di rumah sakit. Jaga kesehatan ya teman-teman...” pada 10 Juli 2020 lalu, barulah penulis paham ia menemani sosok siapa dengan informasi sesama teman di redaksi NU Online. Ya, beliau sedang setia menemani Gus Im yang sedang dirawat di RS Mayapada, Lebak Bulus.


Sebelumnya, dari postingan 10 Juli 2020 itu yang memperlihatkan sebuah bolu kukus dan dua buah kue arem-arem di atas piring yang dialasi tisu itu, beberapa teman mengira bahwa Mas Savic-lah yang sedang sakit. Namun demikian, beberapa teman mengomentari, “semoga beliau lekas sembuh”. Dari ucapan doa itu memperlihatkan bahwa ada seseorang yang sedang dia temani di rumah sakit.


Setelah beberapa hari, tepatnya pada 25 Juli 2020, Mas Savic meminta doa teman-teman melalui postingan Facebook untuk kesembuhan Gus Im. “Mohon doanya untuk Gus Im (Hasyim Wahid), anak terakhir KH Wahid Hasyim, adik bungsu Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), yg saat ini sdg sakit,” tulis Mas Savic.


Alasan dia sederhana, ingin menjaring doa sebanyak-banyaknya untuk Gus Im setelah beberapa hari dirawat belum ada tanda-tanda membaik. “Siapa tahu ada salah satu doa teman-teman yang nyangkut dan qobul,” katanya di Kantor Redaksi NU Online saat hendak beranjak dari lantai 5 Kantor PBNU.


Mas Savic dan kawan-kawan masih berusaha keras membantu kesembuhan penulis buku kumpulan puisi “Bunglon” itu. Beberapa hari lalu, dia mencari golongan darah B dari para pendonor yang mau rela mendonorkan darahnya.

 

“Adakah teman-teman bergolongan darah B yg bersedia mendonorkan darahnya?” tulis Mas Savic di Facebook 4 hari lalu. Untuk keperluan ini, Mas Savic hanya menawarkan ke beberapa teman dekat, tidak ditawarkan secara umum.


Hari kepiluan itu datang, Gus Im akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Sabtu, 1 Agustus 2020 pukul 04.18 WIB di RS Mayapada Jakarta Selatan. Letak rumah sakit ini tidak jauh dari RSUP Fatmawati. RS Mayapada biasa dilewati oleh para pengendara yang bertujuan ke Pondok Cabe, Tangerang Selatan lewat jalur alternatif di seberang RS Fatmawati.


Mas Savic yang kurang lebih satu bulan setia menemani Gus Im merasakan kesedihan mendalam atas kepergian anak bungsu KH Wahid Hasyim itu untuk selama-lamanya. Mas Savic mengungkapkan bahwa sebelum meninggal dunia, Gus Im beberapa kali melantunkan salah satu ayat suci Al-Qur’an, “kullu nafsin dzaiqatul maut.”


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (QS Al-Ankabut: 57)


“Hampir sebulan nungguin Gus Im, dan akhirnya harus merelakan beliau pergi. Sebelumnya, beliau sudah beberapa kali mengucap, kullu nafsin dzaiqatul maut,” ungkap Mas Savic, Sabtu (1/8) lewat twitternya sembari memberikan informasi bahwa jenazah akan dimakamkan di Denanyar Jombang setelah dishalatkan di Masjid Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

BNI Mobile