Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Hati-hati Penipuan Berkedok Pindah Agama (Bagian 1)

Hati-hati Penipuan Berkedok Pindah Agama (Bagian 1)
Saat Agustunis Prapto (kanan) warga Kudus ikrar syahadat di Pesantren utri Modern Ni'matul Qur'an, Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi pesantren)
Saat Agustunis Prapto (kanan) warga Kudus ikrar syahadat di Pesantren utri Modern Ni'matul Qur'an, Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi pesantren)

Semarang, NU Online

Agama merupakan sebuah keyakinan yang tak dapat dipaksakan. Dengan demikian, motif orang memeluk agama Islam merupakan sebuah hidayah Allah yang tak dapat ditawar. Namun demikian, ada pula yang menggunakan alasan pindah agama hanya sebagai motif mencari uang. 

 

Kasus penipuan berkedok mualaf hampir dialami Nyai Hj Lilik Mufirotun Ni'mah, AH yang tinggal di Kota Semarang, Jawa Tengah. Pagi itu, Selasa (28/7) seseorang yang bernama Agustinus Prapto mendatangi kediamannya, Pesantren Putri Modern Ni'matul Qur'an, Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

 

Kepadanya, Prapto mengutarakan niat mencari suami Nyai Lilik, Ustadz H Abdul Wahab untuk membimbing dirinya mengucap dua kalimat syahadat, menjadi seorang mualaf.

 

"Saat itu Abah (Ustadz Abdul Wahab) sedang kerja. Dia (Prapto-red) tanya rumah Pak Abdul Wahab, sebelumnya dia belum pernah ke sini dan belum pernaha ketemu suami saya," kata Nyai Hj Lilik kepada NU Online, Kamis (6/8).

 

Prapto pun bercerita ihwal alasannya dirinya hendak berpindah agama, yakni pesan mendiang ayahnya sebelum meninggal dunia. Ayah Prapto menginginkan semua anggota keluarganya memeluk agama Islam. 

 

"Katanya, ia bermimpi terus-terusan didatangi ayahnya agar memeluk Islam. Sesuai wasiatnya sebelum meninggal dunia," ujar Nyai Lilik.

 

Untuk meyakinkan, Prapto juga menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP). Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Nyai Hj Lilik segera menelpon suaminya untuk membimbing syahadat dan Sibahul Khoir (mantan Ketua IPNU Kota Semarang) untuk menjadi saksi. 

 

"Waktu itu, saya langsung telpon suami dan Sibah," ungkapnya.

 

Sepulang kerja, Ustadz Wahab pun menemuinya dan berbincang santai di ruang tamu. Kepada Ustadz Wahab, Prapto mantab meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam sebagai keyakinan barunya. Prapto juga menceritakan mimpinya, tentang dirinya yang harus kehilangan pekerjaannya sebagai advokat Gereja dan keluar dari rumah lantaran diusir istrinya. Tanpa berburuk sangka, Ustadz Wahab mengikuti penuturan tersebut. 

 

"Kami pikir itu hidayah Allah," ucapnya.

 

Setelah bertukar nomor seluler, selang dua hari, Kamis, 9 Dzulhijjah 1441 H atau 30 Juli 2020 Prapto dibimbing membaca syahadat, disaksikan beberapa pengurus pesantren dan mantan pengurus IPNU. Tanpa pernah diduga, Prapto menyatakan niatnya untuk meminjam sejumlah uang. 

 

"Kemarin nelpon mau hutang 2 juta buat usaha warung kucingan bersama temennya Prapto, tapi tidak saya kasih karena memang pas tidak ada uang," ungkapnya.

 

Usai kejadian tersebut, ia mendengar hal serupa di lokasi yang berbeda dari Ustadz Rifa'i, petugas penyuluh agama Kecamatan Ngaliyan. "Ternyata, dia (Prapto-red) sudah minta disyahadatkan di Pasadena, Bringin, dan Gondoriyo," ucapnya.

 

Terkait administrasi kepindahan agama, Sibahul Khoir mengaku tak sempat berpikir ke arah tersebut. Ia mengaku hanya melihat niatan tersebut ikhlas dan sebuah hidayah Allah. 

 

"Kami gak kepikiran sampe ke situ. Tahunya ya niatan baik, ikhlas, dan tanpa paksaan dari pihak mana pun," ungkapnya.

 

Bahkan, nomor seluler Prapto tak dapat dihubungi lagi. Padahal, maksudnya untuk menawarkan kelanjutan belajar agama, utamanya tentang shalat sebagai kewajiban pertama. 

 

"Kemarin dia sempat telpon, tapi kebetulan pas tidak saya terima. Kemudian saya dengar kabar dia pinjam duit ke Bu Nyai. Setelah itu sudah offline. Tidak sempat menawari datang lagi ke pesantren untuk belajar karena sudah tidak bisa dihubungi," bebernya.

 

Ia pun mengingatkan, agar masyarakat, utamanya tokoh agama berhati-hati dalam menerima tamu tak dikenal yang hendak berpindah keyakinan, "Pastikan dulu administrasinya, fotokopi KTP, KK, surat pernyataan bermaterai dan orang yang bersedia membantu pergantian data KTP," pesannya.

 


Sebelumnya NU Online pun sempat percaya dengan kepura-puraan Agustinus Prapto, berdasar surat bermaterai dan tanda tangan yang ditunjukkannya. Kami mohon maaf atas pemuatan berita sebelumnya, dan meralat "fakta" masuk Islamnya Agustinus Prapto setelah melakukan investigasi lebih lanjut dan menemukan fakta-fakta lain atas kasus ini.

 

Kontributor: Ahmad Rifqi Hidayat
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile