Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Habib Husein: Kompetensi Modal Utama Dakwah di Media Sosial

Habib Husein: Kompetensi Modal Utama Dakwah di Media Sosial
Habib Husein Ja’far al-Hadar. (Foto: Twitter)
Habib Husein Ja’far al-Hadar. (Foto: Twitter)

Jakarta, NU Online

Untuk menjadi pendakwah di media sosial, viral bukanlah segalanya. Hal yang terpenting untuk dibangun oleh pemula adalah kompetensinya di satu bidang hingga memunculkan keunikan dan brand diri sendiri.


Hal tersebut disampaikan oleh Habib Husein Ja’far al-Hadar saat menjadi narasumber pada Pelatihan Dai Milenial yang digelar oleh NU Online dan INFID pada Kamis (6/8).


Pasalnya, Habib Husein menjelaskan, seringkali orang yang sudah kadung viral di media sosial, tidak mampu mempertahankan viralitasnya. Demikian ini tak lain disebabkan karena kurangnya kompetensi sehingga orang lain enggan untuk melihat konten-konten yang dibuat lainnya.


“Setelah viral, what’s next? Apa yang membuat orang nonton lainnya, ya tentu konten bagus. Viral tanpa konten bagus ya pesan tidak sampai,” katanya.


Ada misalnya, pendakwah yang kerap membawa-bawa politik ke dalam materinya. Orang demikian ini hanya dianggap sebagai hiburan belaka, bukan dakwah. Buktinya, kata Habib Husein, orang tersebut tidak diundang ke mana-mana untuk menyampaikan dakwahnya.


Oleh karena itu, Youtuber Jeda Nulis itu menegaskan bahwa konten yang menarik, penuh tanggung jawab, serta sesuai dengan kemampuan, kompetensi, dan brand yang dibangun oleh pendakwah itu menjadi penting. “Ini untuk menjelaskan apa yang menjadi keunikan kita sebagai seorang dai,” katanya.


Keunikan itu, menurutnya, bukan sekadar bersifat simbolik, seperti soal gaya bicara ataupun gaya berpakaian belaka, tetapi juga secara kontennya atau materi yang dibawakannya. Ia mencontohkan dirinya yang jika berbicara soal Islam Cinta, tentu dia sendirilah yang akan diundang sebagai narasumbernya. Sebab, Habib Husein yang membangun brand-nya.


Lebih lanjut, habib kelahiran Bondowoso, Jawa Timur itu juga meminta dai untuk tidak berbicara di luar kapasitasnya. “Jangan ngomongin sesuatu yang bukan bidang kita,” tegasnya.


Ia mengaku saban hari mendapat ratusan pertanyaan masalah fiqih melalui direct message yang dikirimkan kepadanya. Akan tetapi, ia enggan menjawabnya, kecuali sebagian kecil saja. Pasalnya, ia merasa bahwa fiqih bukanlah bidangnya.


Kegiatan ini diikuti oleh dai dan daiyah dari berbagai daerah dan latar belakang. Selain Habib Husein, kegiatan ini juga diisi oleh Komika Sakdiyah Ma’ruf.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile