Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ruh Pesantren Tidak Terkikis oleh Perkembangan Zaman

Ruh Pesantren Tidak Terkikis oleh Perkembangan Zaman
Suasana nagji kitab kuning di pesantren. (Foto: Istimewa)
Suasana nagji kitab kuning di pesantren. (Foto: Istimewa)

Lampung Selatan, NU Online 
Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang menjadi tempat mencetak para ulama di Indonesia. Keberadaan pesantren dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan. Berbagai inovasi dan pengembangan dilakukan untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun perubahan ini jangan sampai menghilangkan identitas sekaligus ruh pesantren, yakni kiai, santri, dan ngaji.


Hal ini ditegaskan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Habib Ahmad Ghazali saat kunjungan kerja Lembaga asosiasi pondok pesantren NU yakni Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kabupaten Lampung Selatan di Pondok Pesantren Matras Desa Sukatani, Kalianda, Lampung Selatan, Rabu (12/8).


“Pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu. Tapi lebih dari itu, pesantren mengajarkan adab dan akhlak yang di zaman sekarang ini sudah semakin berkurang. Jadi ruh pesantren yakni kiai, santri, dan ngaji harus dilestarikan,” tegasnya.


Habib Ghazali pun mengisahkan saat ia belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir dan mengaji kitab secara sorogan dengan Grand Syekh Al Azhar Ahmad Thayyib. Saat itu Syekh Ahmad Thayib masih menjabat sebagai Rektor Al-Azhar. Di hari pertama ngaji, yang membahas kitab ushul fiqih Al Mustasyfa karya Imam Ghazali, Syekh Ahmad Thayib mengatakan bahwa keberkahan ada di tempat ngaji tersebut.

Kunjungan RMINU Kabupaten Lampung Selatan di Pondok Pesantren Matras Desa Sukatani, Kalianda, Lampung Selatan

 

“Keberkahan itu ada di tempat ini. Maksudnya model ngaji yang begini (sorogan). Bukan yang di sana, beliau nunjuk kepada kampusnya. Padahal beliau itu rektornya. Maksudnya kalau kita pahami, adalah model ngaji tradisionalis (penuh keberkahan),” ungkapnya.


Sementara kepada orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan pesantren, Habib Ghazali mengingatkan mereka agar tidak lepas dari hubungan baik dengan setiap elemen pesantren seperti para ulama dan kiai pesantren. Harus ada ketersambungan silaturahmi dan psikologis dengan para kiai.


“Karena di situlah letak keberkahan kehidupan kita di dunia dan di akhirat,” tegasnya pada kunjungan kerja RMINU yang kecamatan ketujuh ini.


Sebelumnya, RMINU telah melakukan kunjungan kerja ke enam kecamatan yakni Kecamatan Bakauheni, Sragi, Palas, Penengahan, Ketapang, dan Rajabasa. Menurut Ketua RMINU Lampung Selatan KH Endang Ahmad Arief, pihaknya akan mengunjungi seluruh kecamatan di Lampung Selatan dalam rangka koordinasi sekaligus melakukan pendataan pondok pesantren, madrasah diniyah, dan lembaga pendidikan al-Qur’an. 


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin 

BNI Mobile