Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Hati-hati Penipuan Berkedok Pindah Agama (Bagian 3)

Hati-hati Penipuan Berkedok Pindah Agama (Bagian 3)
Agustinus Prapto (tengah) saat berada di salah satu masjid di Mangkang, Kota Semarang (Foto: Istimewa)
Agustinus Prapto (tengah) saat berada di salah satu masjid di Mangkang, Kota Semarang (Foto: Istimewa)

Semarang, NU Online

Modus penipuan yang dilakukan Agustinus Prapto dengan cara berpindah agama juga dilakukan di Pesantren Roudlatul Qur'an An-Nasimiyah Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah.

 

Menurut Pengasuh Pesantren Roudlatul Qur'an An-Nasimiyah KH Hanif Ismail, kedatangan Agustinus Prapto terjadi sekitar setahun silam di SMA Nasima Jalan Arteri Semarang Barat. 

 

Saat itu, Prapto bertemu dengan Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang H Ilyas Johari. Kepada Ilyas, Prapto mengaku kehilangan pekerjaannya sebagai seorang advokat, diusir dari keluarga di Jepara dan menanggung seorang anak.

 

"Waktu ia ngakunya rumahnya di Jepara. Ia mengaku sebagai seorang mualaf. Dia diusir oleh keluarganya. Datang ke sini ingin mendapatkan bimbingan," ujar Kiai Hanif saat ditemui di kediamannya, Puspanjolo Barat Semarang, Kamis (13/7).

 

Setelah dibimbing membaca dua kalimat syahadat, Prapto langsung menyampaikan niatnya untuk ke Jombang. "Dia mengaku disuruh bergabung dengan temannya di Rumah Mualaf Jombang. Nah, dia minta dibantu agar bisa ke Jombang," ungkapnya. 

 

Karena itu Kiai Hanif memberi uang sejumlah Rp500.000 sekedar untuk membantu biaya transportasi dan akomodasi selama perjalanan. "Waktu itu saya beri sekedar uang saku. Ya sekiranya cukup untuk perjalanan ke Jombang," tuturnya.

Baca juga : Hati-hati Penipuan Berkedok Pindah Agama (Bagian 2)

Karena sudah ada kejelasan niat untuk ke Jombang, Kiai Hanif pun meminta Ilyas untuk mengantarkan ke agen bus di daerah Banyumanik. Bermaksud melakukan cek terhadap layanan terhadap tamu, sehari setelahnya Rais Syuriah PCNU Kota Semarang ini lantas menanyakan perihal keberangkatan Prapto ke Jombang. Ilyas pun menjawab sampai di agen bus, akan tapi tidak ditunggu sampai berangkat. 

 

"Jadi tidak tahu beneran naik bus, beneran ke Jombang atau tidak. Dia juga minta tambahan uang saku ke Pak Ilyas," terangnya.

 

Setelah itu, Prapto kembali menemui Kiai Hanif di kediamannya dan menyampaikan kabar terbarunya sebagai modus mendapatkan uang. "Selang dua hari dia (Prapto) ke sini lagi. Katanya anaknya mau nyusul di ke Jombang, masuk Islam. Terus dia menawarkan jam, tidak langsung minta duit tapi menawarkan jam tangannya untuk transportasi anaknya," kata Kiai Hanif menjelaskan.

 

Merasa tak perlu mengajak tamunya berbicara lebih banyak, Kiai Hanif segera masuk ke dalam dan menitipkan uang Rp200.000 kepada menantunya, Ahmad Mundzir Alhafidz. 

 

"Waktu itu saya sudah merasa curiga. Lha waktu mau berangkat ke Jombang mengatakan tidak bawa apa-apa kok bisa ditelpon anaknya, bilang mau nyusul dia masuk Islam dan ikut ke Jombang. Lha dia menerima telpon dengan apa?," terangnya.

 

Perlu diketahui, Kiai Hanif memang dikenal gemar membantu masyarakat sekitar, baik di kediaman lamanya di Kauman Semarang Tengah maupun di Puspanjolo. Tak jarang pula amplop yang ia terima dari panitia langsung diberikan oleh orang lain atau disumbangkan kembali ke panitia kegiatan tanpa dilihat berapa isi dalam amplop tersebut.

 

"Terus ya sudah urusannya tak serahkan ke Mundzir. Saya tidak mau berpikir macam-macam. Kalau niat bantu ya sudah bantu saja," tutur kiai yang mendapat sanad thariqah Mujaddadiyah Kholidiyah dari KH Munif Zuhri atau yang dikenal Mbah Munif Girikusumo.

 

Meski demikian, kiai asal Kauman Semarang ini mengingatkan untuk waspada terhadap modus penipuan berkedok pindah agama. "Kita bisa saja bantu siapapun itu yang menjadi mualaf, tapi tetap harus waspada," pesannya.

 

Menjelaskan kelanjutan modus penipuan berkedok pindah agama yang dilakukan Prapto, Ustadz Mundzir mengatakan, dirinya mendapatkan hal yang sama, menawarkan arloji. 

 

"Sama saya, dia juga nawarkan jam. Lalu saya iseng cek merk tersebut di pasar online. Harganya sekitar satu setengah jutaan," katanya.

 

Lantas, ustadz jebolan dari Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo dan Pesantren Huffadz Nazzalal Furqoon Pos Tingkir Salatiga ini pun mengantarkan Prapto di halte BRT yang ada di Jalan Sugiyopranoto, depan UTD PMI Kota Semarang.

 

"Sesuai pesan abah, jamnya dipakai saja. Ini ada amplop dari abah untuk sekedar transport. Ternyata dia minta tambahan uang saku, ya saya beri," tutupnya.


Kontributor: Ahmad Rifqi Hidayat
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile