Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
PIDATO KENEGARAAN

Presiden Jokowi: Pandemi Jangan Mengurangi Rasa Syukur terhadap Momentum Kemerdekaan

Presiden Jokowi: Pandemi Jangan Mengurangi Rasa Syukur terhadap Momentum Kemerdekaan
Presiden Jokowi sesaat sebelum menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR-DPR di Senayan Jakarta, Jumat (14/8). (Foto: Setneg)
Presiden Jokowi sesaat sebelum menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR-DPR di Senayan Jakarta, Jumat (14/8). (Foto: Setneg)

Jakarta, NU Online

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR-DPR di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8). Dalam pidatonya, Mantan Wali Kota Solo tersebut mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa masa pandemi Covid-19 jangan sampai mengurangi rasa syukur bangsa Indonesia terhadap peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. 


“Semestinya seluruh kursi di ruangan sidang ini terisi penuh, tanpa ada yang kosong semestinya dua minggu yang lalu berbagai lomba, kerumunan penuh kegembiraan, karnaval-karnaval kemerdekaan dirayakan menyelimuti bulan kemerdekaan 75 tahun Indonesia merdeka. Namun semua yang sudah kita rencanakan tersebut harus berubah total. Semua tidak boleh mengurangi rasa syukur kita dalam memperingati 75 tahun Indonesia merdeka,” kata Jokowi mengawali pidato kenegaraannya di hadapan para petinggi lembaga negara. 


Presiden Jokowi mengatakan, pandemi tidak hanya dialami Indonesia, ada 215 negara yang mengalami krisis akibat pandemi Covid-19 tersebut. Kata dia, semua negeri mengalami masa sulit, bahkan beberapa negara maju kondisi ekonominya lebih parah ketimbang Indonesia.


Indonesia, lanjut Jokowi, pada kuartal pertama masih plus 2,97 persen, kondisinya lebih baik dibanding beberapa negara tetangga. Namun, pada kuartal kedua Indonesia mengalami penurunan menjadi minus 5,32 persen. Meski begitu momentum pandemi tersebut menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengatur kembali tata kelola perekonomian negara. 


“Ekonomi negara-negara maju sampai minus 17,2 persen. Kemunduran negara-negara berada ini bisa jadi peluang dan momentum untuk mengejar ketertinggalan. Ibarat komputer perekonomian negara sedang macet, sedang hank. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan restart dan semua negara memiliki kesempatan men-setting ulang semua sistemnya,” tutur mantan Gubernur DKI Jakarta ini. 


Sidang tahunan digelar dengan protokol kesehatan yang ketat. Kehadiran anggota sidang secara fisik dibatasi. Peserta sidang yang tidak hadir secara fisik dapat mengikuti sidang tahunan secara virtual melalui tayangan digital.


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile