Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
PIDATO KENEGARAAN

Presiden Jokowi Tegaskan Peran Media Bukan untuk Mendulang Klik dan Like

Presiden Jokowi Tegaskan Peran Media Bukan untuk Mendulang Klik dan Like
Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menuju mimbar untuk menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan DPR-MPR RI di Senayan Jakarta, Jumat (14/8). (Foto: Setneg)
Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menuju mimbar untuk menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan DPR-MPR RI di Senayan Jakarta, Jumat (14/8). (Foto: Setneg)

Jakarta, NU Online

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyebut bahwa peran media digital yang saat ini berkembang pesat, bisa diarahkan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Perilaku media tidak hanya dikendalikan untuk mendulang klik dan menumpuk jumlah like. Namun, seharusnya didorong untuk menumpuk kontribusi bagi kemanusiaan dan kepentingan bangsa.


Demikian diungkapkan Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan memperingati HUT RI ke-75 di Gedung DPR-MPR RI, Jakarta yang disiarkan langsung di seluruh stasiun televisi nasional, pada Jumat (14/8) pagi. 


“Saya ingin, semua platform teknologi harus mendukung transformasi kemajuan bangsa,” kata Jokowi yang mengenakan pakaian adat Sabu, Nusa Tenggara Timur. 


Selain itu, ia juga menegaskan agar semua kebijakan yang dibuat harus tetap mengedepankan ramah lingkungan dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia. Presiden juga dengan tegas menyebut bahwa pemerintah tidak pernah main-main dengan upaya pemberantasan korupsi. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. 


“Penegakkan nilai-nilai demokrasi juga tidak bisa ditawar. Demokrasi harus tetap berjalan dengan baik tanpa mengganggu kecepatan kerja dan kepastian hukum, serta budaya adiluhung bangsa Indonesia,” tegas Jokowi. 


Menurutnya, demokrasi memang menjamin kebebasan. Namun, kebebasan itu adalah yang mampu menghargai hak orang lain. Maka, Presiden Jokowi menekankan agar jangan ada yang merasa paling benar sendiri dan yang lain dipersalahkan.


“Jangan ada yang merasa paling agamis sendiri, jangan ada yang merasa paling pancasilais sendiri. Karena semua yang merasa paling benar biasanya tidak benar,” tegas Jokowi.


Dikatakan pula, nilai-nilai luhur Pancasila, NKRI, persatuan dan kesatuan nasional, tidak bisa dipertukarkan dengan apa pun. Negara tidak akan memberikan ruang sedikit pun kepada siapa saja yang menggoyahkan keutuhan bangsa.


“Tujuan-tujuan besar tersebut, hanya bisa dicapai melalui kerjasama seluruh komponen bangsa dengan gotong royong, saling membantu, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan tujuan mulia,” kata presiden kelahiran Solo,  Jawa Tengah ini.


Di tengah pandemi ini, Presiden Jokowi memberikan sebuah semangat optimisme untuk terus melangkah ke depan. Menurutnya, bangsa Indonesia harus menjadikan momentum pandemi ini sebagai sebuah kebangkitan baru untuk melakukan lompatan-lompatan besar. Presiden Jokowi ingin agar bangsa Indonesia tidak berkurang syukurnya dalam memperingati 75 tahun Indonesia merdeka di tengah pandemi.


“Inilah saatnya kita membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi, dan strategi besar di bidang ekonomi, hukum, sosial, politik, dan kebudayaan. Saatnya kita menjadikan momentum ini untuk melakukan lompatan besar,” katanya.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile