Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

RMINU Kota Semarang Minta Pengasuh Pesantren dan Panti Asuhan Aktif Ajarkan tentang NU

RMINU Kota Semarang Minta Pengasuh Pesantren dan Panti Asuhan Aktif Ajarkan tentang NU
Ketua PC RMINU Kota Semarang, Jawa Tengah KH Ulil Albab Syaichun (Foto: Dokumentasi RMINU Semarang
Ketua PC RMINU Kota Semarang, Jawa Tengah KH Ulil Albab Syaichun (Foto: Dokumentasi RMINU Semarang

Semarang, NU Online

Ketua Pengurus Cabang (PC) Rabhitah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kota Semarang, Jawa Tengah KH Ulil Albab Syaichun meminta pengasuh dan pengurus pesantren maupun panti asuhan berperan aktif mengenalkan hal ihwal tentang NU kepada para santri.

 

"Sejauh ini pesantren memang belum ada kurikulum keNUan, karena itu peran para pengasuh dan pengurus pondok untuk mengajarkan keNUan harus terus diingatkan," kata Kiai Ulil di kediamannya Pesantren Al-Ikhlas Pedurungan, Kota Semarang, Ahad (16/8).

 

Menurutnya, mengenalkan keNUan kepada santri bisa dimulai dari sejarah dan berbagai organisasi yang bernaung dalam NU. Sehingga santri mengetahui sejak dini apa dan bagaimana NU itu.

 

"Santri harus dikenalkan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dan hal-hal yang berkenaan dengan latar belakang lahirnya NU. Ini akan menambah ghirah para santri dalam mengamalkan ajaran agama dan membentengi masyarakat dari paham selain ahlussunnah wal jamaah," tuturnya.

 

Selain pesantren lanjutnya, peran panti asuhan juga penting. Dirinya  memperhatikan masih kurangnya para pengelola panti asuhan yang aktif di NU lantaran yayasan yang dimiliki belum terakomodir secara kelembagaan.

 

"Oleh karena itu, RMINU dalam proses pendataan saat ini memasukkan panti asuhan dalam database. Istilahnya nanti mungkin pesantren dhuafa atau kami cari istilah lain yang lebih bisa diterima," ungkapnya.

 

Padahal sambungnya, banyak para tokoh NU yang mempunyai yayasan sosial dan memiliki peran dalam menjaga ritme kaderisasi NU dari para santri dhuafa. Namun belum tentu aktif di organisasi NU. 

 

"Di Kota Semarang ini ada banyak panti asuhan dengan ciri khas pesantren NU dan bahkan mengajarkan keNUan. Mereka perlu diakomodir," tegasnya.

 

Sekretaris RMINU Kota Semarang Kiai Agus Ramadhan menambahkan, peran pesantren dan panti asuhan dalam kaderisasi NU akan menambah kekuatan NU baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. 

 

"Melalui pesantren NU akan menghasilkan kader yang tak sekedar mengikuti budaya NU, akan tetapi juga menghasilkan kader yang benar-benar mengikuti mekanisme kaderisasi dengan baik," ucapnya.

 

Menurut Pengasuh Pesantren Durrotu Ahlissunnah wal Jamaah ini, mengenalkan santri dengan lembaga dan badan otonom NU akan banyak manfaatnya. Besar kemungkinan bagi para santri untuk mengikuti jenjang pengkaderan yang ada, baik di NU maupun banomnya. 

 

"Mereka yang melanjutkan ke perguruan tinggi tentu akan mengikuti organisasi mahasiswa yang bernuansa NU. Entah PMII, Matan, Ansor, atau yang lainnya," jelasnya.

 

Memperhatikan peran Ansor-Banser yang kerap dilibatkan dalam pengawalan ulama dan menjaga pengajian dengan ikhlas, Kiai Agus sangat mengapresiasi bila para santri maupun panti asuhan menjadi seorang Banser. 

 

"Akan kelihatan keren dan menarik, Banser yang berseragam ala militer tapi sebelum mengikuti kaderisasi resmi rata-rata sudah memiliki kemampuan baca tulis Al-Qur'an dan kitab kuning," harapnya.

 

Dengan demikian, khidmah para santri terhadap kiai masih berlanjut dalam kapasitasnya sebagai Banser. Selain itu sambungnya, para anggota Banser bisa juga berceramah karena latar belakang santrinya. 

 

"Pada intinya, santri bisa mengisi semua posisi untuk kebaikan dan tetap dalam karidor ahlussunnah ala NU," pungkasnya.

 

Kontributor: Ahmad Rifqi Hidayat
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile