Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Malam Puncak Peringatan HUT RI di Pedalaman Papua

Malam Puncak Peringatan HUT RI di Pedalaman Papua
Malam puncak peringatan HUT ke-75 RI di komunitas Suku Kurwoto Papua. (Foto: Rifan)
Malam puncak peringatan HUT ke-75 RI di komunitas Suku Kurwoto Papua. (Foto: Rifan)

Sorong, NU Online

Puluhan anak memadati area depan layar lebar ketika proyektor mulai dinyalakan bakda Maghrib, Senin (17/8) malam lalu. Sementara para orang tua dan orang dewasa, terlihat duduk-duduk agak jauh dari layar lebar. Namun, mata mereka memandang ke layar yang mulai disorot cahaya yang berasal dari proyektor.

 

Itulah salah satu dari sekian ekspresi  antusias masyarakat Kurwato di Papua Barat dalam menyambut rangkaian perayaan HUT ke-75 RI. Selain nonton bareng, malam itu juga diadakan pentas seni dan penyerahan hadiah untuk para juara perhelatan lomba. Lomba-lomba ini telah dilangsungkan usai upacara bendera pagi harinya.

 

Ada 13 lomba yang dihelat. Delapan di antaranya diperuntukkan bagi anak-anak; tiga untuk bapak-bapak; dan dua untuk mama-mama. Semuanya berjalan lancar dan cukup sukses.

 

Acara pentas seni yang diselenggarakan malam ini dibuka dengan pembacaan puisi. Ada tiga anak yang berani tampil. Yaitu Silvi Naila Arafah Tagate, Ardiyanti Biowa dan Nahiya Irwanas. Setelah itu dilanjut dengan mop, yaitu cerita monolog dari seseorang.

 

Ada dua yang tampil mop, yaitu bapak Jono Pauspaus dan seorang anak remaja. Nining Aryani Biowa kemudian melanjutkan acara pentas seni ini dengan menyanyikan lagu tradisional Papua. 

 

Setelah itu, ketika pembawa acara mengumumkan bahwa pertunjukan selanjutnya adalah silat, semua yang hadir terlihat sangat antusias ingin menyaksikan. Silat yang dipentaskan oleh Putro ini yaitu Gasmi. Namun, semua yang datang tampak kecewa karena pertunjukan silatnya cuma sebentar sekali. Tidak ada lima menit bahkan.

 

Usai penampilan pencak silat, pentas seni menampilkan Tifa Gong, sebuah tradisi masyarakat suku Kokoda. Beberapa orang membunyikan tifa serta gong dan sebagian lainnya menari-nari. Di tengah-tengah pertunjukan Tifa Gong ini, saya bingung karena nama saya dipanggil dan diminta untuk berdiri di depan. Tidak hanya saya, ternyata mas Triantoro, sekretaris Kompipa, juga diminta hal yang serupa.

 

Keduanya ternyata diberi penghargaan oleh kepala suku dengan diangkat sebagai anak adat. Dengan diiring Tifa Gong dan tarian, dua mama-mama yang membawa piring gantung diarak ke arah saya.

 

Sesampai di Agus, salah seorang mama itu memberikannya kepada Abdullah Irwanas, sesepuh Kurwato. Setelah Abdullah menerimanya, kemudian ia memberikan piring gantung itu kepada Agus dan Tri, sebagai simbol bahwa mereka diangkat menjadi anak adat suku Kokoda.

 

"Bapak mewakili masyarakat mengucapkan terimakasih banyak kepada anak ustadz Agus dan mas Tri yang selama ini telah membina anak-anak. Karena itu kami harus memberikan penghargaan sebagai anak adat kepada anak dua," ucap Abdullah Irwanas yang disambut dengan tepuk tangan gegap gempita oleh masyarakat.

 

"Saya pun tidak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan banyak terimakasih. Segunung air mata sebenarnya hendak tumpah andai saya tidak mampu membendung rasa haru," kata Agus.

 

Begitu pula yang dilakukan terhadap mas Tri. Tapi yang memberikannya bukan bapak Abdullah Irwanas, melainkan bapak kepala suku. Acara pun kemudian dilanjutkan dengan nonton bareng hingga pukul dua belas malam.
 

Kontributor: Rifan Efendi

Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile