Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Hijaukan Lingkungan Pondok, Santri Al-Mizan Majalengka Tanam Pohon Sawo

Hijaukan Lingkungan Pondok, Santri Al-Mizan Majalengka Tanam Pohon Sawo
Tanam sawo ikuti petunjuk Pangeran Diponegoro (Foto: NU Online/Tata Irawan)
Tanam sawo ikuti petunjuk Pangeran Diponegoro (Foto: NU Online/Tata Irawan)

Majalengka, NU Online
Penanaman pohon Sawo selain untuk menghijaukan lingkungan pesantren, juga  melaksanakan amanah dari Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang baru saja digelar di Pesantren Nurul Iman Kecamatan Cikijing, Majalengka, Jawa Barat.

 

Khadimul Ma'had sekaligus Kader PKPNU PCNU Majalengka angkatan 1 KHM Zaenal Muhyidin mengatakan, penanaman pohon sawo, selain melaksanakan amanah PKPNU, juga taqarruban Ilallah, serta melestarikan lingkungan yang hijau dan lestari.

 

"Sewaktu kecil sekitar usia 6-7 tahun saya pernah jatuh dari pohon sawo yang ada di samping kanan masjid di kampung halamanku. Jatuhnya dari pohon ini karena tidak hati-hati memegang ranting yang kering. Usia segitu belum bisa membedakan mana ranting basah dan mana ranting kering," ungkapnya. 

 

Dikatakan, dirinya tidak menyesal jatuh dari pohon aawo tapi hanya sakit pinggang saja. Apalagi pohon sawo itu ternyata sangat bersejarah dan menyimpan falsafah dan simbol.

 

"Saat ini pohon sawo itu telah tiada, seiring tanah kosong pinggir masjid itu diurug karena sebelumnya kolam. Saya juga tdk tahu, kenapa pohon itu ditanam di samping masjid dan kenapa juga akhirnya ditebang," ungkapnya. 

 

Dijelaskan, karena selesai SD dirinya tidak di kampung halaman lagi yakni mulai mengelana mencari ilmu alias mondok dari pesantren ke pesantren. Pulang ke rumah hanya 6 bulan sampai setahun sekali. Oleh karena itu penanaman ini juga dimaksudkan sebagai pengganti pohon sawo di kampung halamanku.

 

"Falsafah pohon sawo, sebagaimana dijelaskan Kiai Mun'im dalam bukunya 'Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara' adalah pesan dari Pangeran Diponegoro kepada Kiai Badrudin dan kepada kiai lainya seperti Kiai Basah Mintaraga, Kiai Kasan Besari, dan Kiai Maderan agar segera menanam pohon Sawo," tuturnya.

 

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa akibat kekalahanya dalam perang dengan Pangeran Diponegoro, beberapa kali Belanda meminta berunding untuk damai. Tapi oleh Diponegoro ditolaknya. Menurutnya menerima perundingan berarti menerima kehadiran Belanda sebagai penjajah. Pihak Belanda melakukan segala cara untuk bertemu dan berunding dengan Diponegoro termasuk meminta bantuan kepada para raja dan kiai. 

 

"Akhirnya, persis di hari Idul Fitri Pangeran Diponegoro mau menerima tawaran Belanda tapi bukan untuk berunding akan tetapi bersilaturrahim karena momen lebaran," ungkapnya. 

 

Selain itu syarat yang diajukan Pangeran Diponegoro adalah pihak Belanda tidak boleh membawa senjata. Pihak Belanda menyetujuinya. Akan tetapi di hari pertemuan pihak Belanda mengingkari janjinya. Bahkan pihak Belanda selain membawa senjata lengkap juga pasukannya. Akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkap. Karena Pangeran Diponegoro seorang yang waskita maka dihadapinya dengan tenang dan tidak melakukan perlawanan. 

 

Dalam keadaan tenang itulah Pangeran Diponegoro membisikkan pesan terakhir kepada Kiai Badrudin untuk segera menanam pohon Sawo. Kemudian Kiai Badrudin menyampaikanya kepada para kiai lainnya. Para kiai tersebut merupakan para kiai yang mempunyai kelebihan, linuih, atau karamah. 

 

"Kemudian para kiai menanamnya di depan pesantren dan masjid sebagai sandi bagi laskar Diponegoro untuk terus melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda," ucapnya.

 

Pohon sawo yang ditanam itu ada dua macam yaitu Sawo kecik (kecil dan kemerahan) dan sawo manila (buahnya besar dan warna coklat muda). Dengan adanya sandi maka para pejuang lebih mudah untuk melakukan perlawanan karena bisa berlindung di setiap pesantren yang terdapat pohon sawo.

 

"Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Pohon sawo tampaknya digunakan sebagai 'perlambang' (isyarat) dari perintah untuk taat meluruskan shaf ketika hendak shalat. Sawwu shufufakum (luruskan shafmu), kata peneliti dunia pesantren di kawasan selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi. Sedangkan sawo kecik itu memberi pesan setelah meluruskan shaf (bersatu membentuk jaringan) jadilah orang yang 'becik' (baik)," bebernya.

 

Kontributor: Tata Irawan
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile