Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ngaji, Cara Mengenal Allah Menurut Gus Mus

Ngaji, Cara Mengenal Allah Menurut Gus Mus
Mustasyar PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus)
Mustasyar PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Jakarta, NU Online

Saat ini banyak orang yang semangat untuk berislam namun berhenti karena tidak mengenal pemilik Islam itu sendiri yakni Allah SWT. Ketika seseorang tidak mengenal Allah SWT, maka ia tidak bisa menyenangkan dan mendapatkan ridhanya Allah. Jadi hal yang pertama kali dalam berislam adalah mengenal Allah SWT.

 

“Untuk mengenal Allah harus ngaji. Maka kalau anda lihat orang-orang yang tidak ngaji itu, dia bersemangat berislam, tapi kadang-kadang kelakuannya justru bertentangan dengan apa yang digariskan oleh Allah SWT,” jelas KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Kamis (28/8) malam.

 

Hal ini dicontohkannya dengan fenomena banyak orang mengaku berdakwah namun di dalamnya berisi caci makian dan melaknati sesama hamba Allah. Ini menurut Gus Mus bertentangan dan tidak masuk akal. Bagimana mau menyenangkan Allah sementara di sisi lain melaknati hamba-hambaNya?.

 

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini pun mengingatkan umat Islam untuk belajar dari tokoh pewayangan Dewa Ruci yang memiliki enam ajaran kemanusiaan, selaras dengan perintah-perintah agama. Pertama adalah tidak berbicara atau melakukan sesuatu sebelum mengerti dan memiliki ilmu tentang hal itu.

 

“Kedua, harus bisa membedakan antara emas dan loyang. Artinya kita harus ngaji, harus belajar. Kalau tidak belajar (tidak bisa membedakan) besi kuning dengan emas, tembaga dengan emas,” lanjutnya.

 

Ketiga, jangan kagetan dan jangan bingungan. Sikap ini banyak dimiliki oleh orang yang kurang berilmu. Untuk memiliki sikap ini, lanjutnya, seseorang harus ngaji dan memiliki keluasan ilmu. 

 

"Inilah yang menjadi niatan utama para santri terdahulu belajar di pesantren yakni hanya ingin mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan. Dan kita tahu kebodohan tidak akan hilang. Karena begitu anda pandai, anda merasa lebih bodoh dari kemarin. Kalau anda sudah merasa pandai, di situ anda mulai bodoh,” tegasnya.

 

Keempat lanjutnya, harus bisa mengendalikan nafsu yang membawa kita kepada hal yang tidak baik. Kelima, mengamalkan ilmu yang sudah dimiliki karena ilmu yang tidak diamalkan bukanlah ilmu. 

 

"Dan keenam, harus memahami tentang kefanaan dunia termasuk kefanaan diri kita sendiri sebagai manusia," ungkap Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Rembang Jateng ini.

 

Gus Mus menilai, saat ini keenam ajaran kemanusiaan ini sudah mulai hilang. Manusia di zaman sekarang banyak yang menjadi dan memiliki mental instan sehingga tidak bisa bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan bekerja.

 

“Banyak yang memahami agama hanya di permukaannya saja. Tidak masuk ke dalam, karena kalau masuk ke dalam harus bijiddin wajtihadin (sungguh-sungguh),” katanya saat berbicara pada haul virtual KH Ahmad Mutamakkin yang diselenggarakan oleh Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen, Pati, Jawa Tengah.

 

Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile