Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Pesantren Mahasiswa NU untuk Jaga Amaliyah Generasi Muda Nahdliyin

Pesantren Mahasiswa NU untuk Jaga Amaliyah Generasi Muda Nahdliyin
Rais PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh (kiri) (Foto: NU Online/Samsul Huda)
Rais PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh (kiri) (Foto: NU Online/Samsul Huda)

Semarang, NU Online

Kehadiran pesantren mahasiswa yang diasuh para kiai Nahdlatul Ulama (NU) di dekat kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan menjaga ke-NUan generasi muda dari berbagai daerah yang sedang menempuh di kampus ini.

 

Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, pendirian pondok mahasiswa ini salah satunya adalah untuk menjawab pertanyaan para orang tua dan pengurus NU di berbagai daerah yang dilanda kegelisahan sehubungan dengan kian maraknya perkembangan ideologi yang bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah.

 

"Selama ini tidak sedikit anak-anak NU yang sebelum datang ke Semarang untuk kuliah, kesehariannya rajin dengan amaliyah-amaliyah nahdliyah seperti dzibaan, manaqiban, tahlilan, dan sebagainya, namun setelah menjadi mahasiswa di Semarang mengalami perubahan," kata Kiai Ubed di Semarang, Sabtu (29/8).

 

Pernyataan kiai Ubed itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam upacara peletakan batu pertama pembangunan pesantren mahasiswa NU di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (29/8).

Dikatakan, saat mereka kembali ke kampung halaman perilakunya berubah, tradisi amaliyah-amalaiyah nahdliyah ditinggalkan bahkan mengharamkan amaliyah itu. Setelah diteliti ternyata selama menjadi mahasiswa, mereka terjebak dalam aktivitas komunitas yang berseberangan dengan aqidah Aswaja an-nahdliyah.

 

"Fenomena ini ternyata sudah merata di berbagai kawasan di lingkungan kampus-kampus besar berstatus negeri terutama yang memiliki program studi keguruan dan ilmu pendidikan. Mahasiswa keguruan menjadi incara utama untuk dicuci otak agar terpapar ideologi radikal," tegasnya.

 

Disampaikan, manuver para ideolog radikal sangat sistemasis, satu mahasiswa radikal sedikitnya akan mencetak minimal 30 orang radikalis setiap tahun dari kalangan siswa yang dia ajar setelah selesai kuliah dan menjadi seorang guru.

 

"Padahal setiap tahun ribuan mahasiswa baru dari kalangan keluarga NU berbondong meninggalkan kampung halaman migrasi ke kota-kota besar untuk masuk ke perguruan tinggi, tentu mereka harus dijaga ke-NU-annya," ucapnya.

 

Karena itu lanjutnya, PWNU Jateng mengambil prakarsa untuk membangun pesantren mahasiswa NU sehingga anak-anak NU dari berbagai daerah  saat datang ke Semarang memiliki tujuan jelas untuk menyambung mata rantai ideologinya.

 

Ketua PWNU Jateng, Muhammad Muzammil mengatakan kendati pondok ini dikekola wilayah namun warga sekitar termasuk ranting, dan MWCNU terdekat bisa ikut memanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan.

 

"Pondok pesantren mahasiswa ini didesain  tidak eksklusif tetapi terbuka. Kami berharap nahdliyin di sekitar pondok ikut memakmurkan pondok ini," pungkasnya.

 

Ketua panitia pembangunan Mochamad Fauzi mengatakan, untuk menyelesaikan pembangunan pesantren di dekat Kampus Unnes Semarang dibutuhkan dana sebesar Rp12,5 miliar. Dijadwalkan pembangunan akan selesai dalam waktu satu tahun.

 

Kontributor: Samsul Huda
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile