Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

4 Masukan Rais Aam PBNU untuk Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation

4 Masukan Rais Aam PBNU untuk Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation
Rais Aam PBNU
Rais Aam PBNU

Jombang, NU Online
KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan satu kesatuan dengan Nahdlatul Ulama. Karena itu, berbagai pemikiran dan gagasan yang ditinggalkannya harus terus menjadi sumbangan besar bagi NU, lebih-lebih dalam memasuki usia satu abad NU, beberapa tahun lagi.

 

Hal tersebut diungkapkan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam acara peluncuran secara virtual Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation, yang disiarkan langsung dari Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Ahad (30/8) malam.

 

Kiai Miftah berharap kepada lembaga yang baru diluncurkan ini agar juga bisa berkontribusi dan memberikan sumbangan kepada NU. Terdapat empat hal yang menjadi perhatian Kiai Miftah. Keempatnya adalah grand idea, grand concept, grand strategy, dan grand control.

 

"Pertama, grand idea. Sebuah kumpulan gagasan dan pemikiran untuk seratus tahun NU. Ini bisa digodok di Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation untuk bisa melahirkan sebuah konsep dan jatidiri NU dalam memasuki abad kedua nanti," jelas Kiai Miftah.

 

Kedua, grand desain. Menurutnya, NU mesti mendesain kembali sekalipun tidak secara total berbagai persoalan ke depan. Seperti misalnya bagaimana soal tradisi amaliah NU di tengah menghadapi tantangan masa kini.

 

"Ini kami harapkan dari Kiai Wahab Chasbullah Foundation ini untuk bisa ikut menyajikan atau memberi masukan kepada NU yang kira-kira tiga atau empat tahun ini memasuki usia 100 tahun," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, Jawa Timur ini.

 

Ketiga, grand strategy. Kiai Miftah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah strategi dalam menghadapi masalah saat ini. Ia memberi contoh, bahwa agama atau akidah akan bisa berjalan baik apabila seiring-sejalan dengan kekuasaan.

 

"Tapi kan toh NU tidak harus berkuasa. Melainkan bagaimana kekuasaan ini bisa seiring sejalan dengan Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah yang kita miliki. Dulu, para Walisongo juga masuk kepada kekuasaan. Bahkan ada yang menjadi menantu dan akhirnya menjadi raja," kata Kiai Miftah.

 

Namun demikian, lanjutnya, sekalipun bergabung dengan kekuasaan, para Walisongo tetap tidak meninggalkan ciri khas dakwahnya, yaitu dakwah yang penuh simpati, dakwah yang mengajak bukan mengejek, dan merangkul bukan memukul.

 

"Maka strategi kita adalah bagaimana Kyai Abdul Wahab Chasbullah Foundation ini bisa melahirkan kader-kader yang bukan kadir (maha kuasa) apalagi kader-kader yang keder (bingung) dengan cara kaderisasi yang baik dan didistribusikan di tempat yang bisa beriringan dengan NU," kata Kiai Miftah.

 

Jadi, lanjutnya, Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation harus bisa melahirkan kader terbaik untuk didistribusikan ke semua lini. Ke depan, apabila NU membutuhkan berbagai hal yang bersifat darurat, kader-kader itu pasti akan hadir membantu. 

 

Keempat, grand control. Pengawasan dilakukan setelah distribusi kader ke berbagai tempat dan lembaga, dengan kaderisasi yang terus berlanjut dan berkesinambungan. Kemudian para kader itu, setelah didistribusikan harus diawasi dan dikontrol agar bisa memberikan manfaat untuk NU.

 

"Itu harapan kita. Artinya, kita membuat agar bagaimana antara Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation dengan NU tidak beda. Sebab NU tidak bisa dilepaskan dengan Mbah Wahab. Melalui lembaga ini, pelajaran dan ilmu beliau bisa dipelajari lagi sebagai penguatan," jelas Kiai Miftah.

 

Menurutnya, dengan wafatnya Mbah Wahab pada 45 tahun lalu, maka sudah banyak ilmu yang ditinggalkan dan hanya sekian persen saja yang telah dipelajari. Kiai Miftah kemudian mengutip satu riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ketika Allah mengambil kembali para ulama, maka di saat itulah ilmunya pun ikut serta diambil. 

 

"Akhirnya, muncul generasi-generasi yang buruk. Generasi yang memahami Islam hanya kulitnya saja, yang senang menyalahkan orang lain, mengumpat orang lain seperti hanya dia saja yang paling benar. Padahal Islamnya masih Islam kulit," tegas Kiai Miftah.

 

Generasi-generasi yang seperti itu, kata Kiai Miftah, tak segan-segan memusuhi dan menghancurkan NU. Mereka, generasi yang memahami Islam hanya kulitnya saja, sangat berbahaya untuk sebuah kelompok atau komunitas yang sedang menginginkan kedamaian bersama.

 

"Jadi kita sekarang ini menghadapi kelompok yang sedang mencari untung untuk mengadu-domba, tapi tidak bisa karena kebesaran dan kemuliaan NU. Semoga kebesaran ini, bukan hanya secara jumlah, tetapi juga besar produk dan pikirannya yang saat ini sedang dinantikan oleh bangsa dan negara," pungkas Kiai Miftah.

 

Untuk diketahui, selain KH Miftachul Akhyar, acara ini dihadiri oleh banyak tokoh. Beberapa diantaranya adalah Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang hadir secara virtual, Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, Bupati Jombang Ny Hj Mundjidah Wahab, serta Mubaligh NU dari Yogyakarta KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq.

 

Acara peluncuran Kiai Abdul Wahab Chasbullah Foundation ini ditandai dengan penulisan kalimat motivasi sekaligus tanda tangan di atas kanvas oleh KH Miftachul Akhyar, Gus Muwafiq, Ny Hj Mundjidah Wahab, dan KH Marzuki Mustamar.

 

Dilakukan pula penyerahan secara simbolis beasiswa untuk 100 mahasiswa dan 100 pelaku usaha UMKM, yang diwakili masing-masing tiga orang dari mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. 

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile