Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Muhyiddin Jember Jelaskan Enam Pantangan agar Sukses Ber-NU

Kiai Muhyiddin Jember Jelaskan Enam Pantangan agar Sukses Ber-NU
Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad, saat memberikan pengarahan dalam Muskercab ke-1 NU Jember. (Foto: Istimewa)
Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad, saat memberikan pengarahan dalam Muskercab ke-1 NU Jember. (Foto: Istimewa)

Jember, NU Online 
Salah satu kunci penting dalam berorganisasi NU adalah terbangunnya ukhuwwah (persaudaraan) dan kebersamaan antarpengurus. Sebab, ukhuwwah dan kebersamaan akan mampu menyatukan energi dan langkah hingga dapat merengkuh cita-cita yang diharapkan. 


Ukhuwwah harus dibarengi dengan takwa kepada Allah,” ujar Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad, saat memberikan pengarahan dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke-1 NU Jember di Pondok Pesantren Islam Bustanul Ulum, Desa/Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahad (30/8).


Seraya menukil ayat Al-Qur’an, ia menegaskan perlunya menghindari enam pantangan agar bangunan ukhuwah tetap kokoh. Pertama, antarpengurus jangan saling meremehkan. Semua pengurus mulai dari tingkat ranting hingga pusat mempunyai fungsi dan perannya masing-masing sesuai dengan kondisi dan tugasnya. 


“Tidak ada yang lebih, semuanya saling menguatkan,” jelas Kiai Muhyiddin.


Kedua, jangan mencela diri sendiri. Maksudnya, antarpengurus tak perlu mencari-cari kekurangan pengurus lainnya. Sebab, ketika itu dilakukan, maka cepat atau lambat akan memancing pengurus lainnya untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, yang terjadi adalah saling serang dan saling membuka aib sesama pengurus.


“Padahal kita dalam berorganisasi seperti satu jasad. Salah satu anggota sakit, maka anggota tubuh yang lain juga merasakan sakit,” ungkapnya.


Ketiga, jangan memanggil dengan sebutan jelek. Meskipun terkadang tidak disengaja atau bahkan hanya sekadar bergurau. Tetapi, sebaiknya tidak dilakukan karena memanggil orang lain dengan sebutan jelek akan berpengaruh terhadap citranya.


Keempat, jangan berburuk sangka. Menurut Kiai Muhyiddin, buruk sangka itu berbahaya. Karena tak jarang menjadi sumbu pendek bagi terbakarnya emosi hingga menimbulkan kekacauan. Kenyataannya, banyak ketidakharmonisan antarpengurus dipicu lahirnya buruk sangka tentang sesuatu yang belum jelas asal-usulnya.  


“Apanya yang mesti buruk sangka. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa semua yang dilakukan oleh pengurus NU, demi kejayaan NU juga meski caranya kadang beda,” tuturnya.


Oleh karena itu, ia berpesan agar pengurus NU utuk berbaik sangka kepada pengurus NU lainnya dalam hal apapun. Ia meyakini tidak ada satupun pengurus NU yang ingin menghancurkan NU. Mungkin bisa jadi caranya kurang populer lalu ditafsiri salah.


“Marilah kita mulai melatih diri sendiri untuk berbaik sangka kepada siapapun,” pinta Kiai Muhyiddin.


Kelima, jangan mencari-cari kelemahan pengurus lainnya. Sebab, setiap manusia pasti punya kekurangan di samping kelebihan. Jika dicari kekurangannya, maka pasti banyak. Justru yang diperlukan adalah mencari kelebihan yang lain agar timbul sikap positif dalam berorganisasi.


“Dalam berorganisasi, jauhi sikap mencari-cari kesalahan pengurus lainnya. Karena itu akan merugikan NU sendiri,” pungkasnya di hadapan 400-an peserta dan 200-an undangan.


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Musthofa Asrori

BNI Mobile