Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Humor: Saat KH Wahab Chasbullah Berhasil Satukan Ulama Sunni dan Syiah

Humor: Saat KH Wahab Chasbullah Berhasil Satukan Ulama Sunni dan Syiah
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: dok. NU Online)
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: dok. NU Online)

Diceritakan oleh KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dalam salah satu ceramahnya, kala itu KH Hasyim Asy’ari sudah dikenal ulama seantero Arab karena keilmuannya dan beliau satu-satunya ulama Indonesia yang mendapatkan gelar Hadhratussyekh. Ulama di Arab juga menyebutnya al-‘allamah, gelar yang sangat dihormati di masyarakat Arab karena kedalaman ilmu seseorang.


Kiai Hasyim Asy’ari mengutus KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengonsolidasikan ulama-ulama di Arab untuk bertemu. Namun, tantangan berat dihadapinya karena para ulama di Arab hampir tidak percaya Kiai Wahab adalah salah seorang murid Kiai Hasyim Asy’ari yang tersohor itu.


Akhirnya dibantu Syekh Ghanaim al-Mishri dari Mesir, Kiai Wahab berhasil mengumpulkan ulama, baik dari kelompok Sunni dan Syiah. Dia menjadi perbincangan dan bisikan ramai di antara para ulama tersebut soal dirinya adalah murid Hasdhratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Kiai Wahab mendengar bisikan-bisikan dari kedua kelompok tersebut dan akhirnya makin percaya diri untuk berbicara.


“Kami diutus Hadhratussyekh Hasyim Asy’ari untuk meminta Anda sekalian bergerak. Bergerak tentang apa? Nanti kami ceritakan, sekarang kami mau bertanya dulu,” kata Kiai Wahab seperti dikisahkan Gus Muwafiq.


“Ulama di tempat kami, Indonesia, jika bertemu cium tangan, tapi ulama di sini kok cium pipi kiri dan pipi kanan, itu apa sebabnya?” tanya Kiai Wahab dalam komunikasi dengan bahasa Arab.


“Akhirnya sebagian ulama yang hadir ada yang menjawab. “Sebab jika pipi kiri kanan bertemu, antara kulit dengan kulit bertemu itu besok akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT,” jawab salah seorang ulama.


“Oh...ya... ya... ya...,” tanggap Kiai Wahab.


Lalu Mbah Wahab bertanya kembali. “Lha, kalau begitu apa bedanya dengan semut? Semut itu jika ketemu dengan temannya, juga cium pipi kiri dan pipi kanan?”


Semuanya diam tak ada yang menjawab. “Lha tidak ada dasarnya dalam Al-Qur'an dan Hadits,” akhirnya dijawab sendiri oleh Kiai Wahab saat itu.


“Anda sekalian tidak tahu toh, kenapa jika semut ketemu temannya cium pipi kiri pipi kanan?” Kiai Wahab kembali menukas.

 

Kiai Wahab menguraikan penjelasannya. Karena dulu saat banjir, Nabi Nuh mengarungi lautan. Semua hewan ikut naik kapal Nabi Nuh. Nabi Nuh berpikir, jika nanti hewan yang naik kapal ini kawin dan berkembang biak, maka akan dapat mengakibatkan kapal tenggelam.


Akhirnya Nabi Nuh memberi kebijakan, semua alat kelamin wajib dicopot dan dititipkan di lemarinya Nabi Nuh. Begitu perjalanan sampai daratan, semua hewan berlomba lari ke daratan karena rasa dan perasaan yang sangat senang.


Akhirnya ada yang melompat pertama kali, yaitu kuda. Kuda pertama kali lari dan mengambil dari kumpulan alat kelamin yang ada di lemari Nabi Nuh, tapi yang diambil adalah kelaminnya gajah (karena tertukar, makanya alat kelamin kuda itu besar).


Giliran pembagian alat kelamin, yang terakhir adalah semut. Semut pun sudah lari ke daratan. Nabi Nuh bertanya, “Lha ini alat kelaminnya siapa?” Ada yang menjawab, “alat kelaminnya semut”.


“Lha semut ke mana?”


“Sudah lari ke daratan dari tadi.”


Ditunggu lama, semut tidak juga kembali. Akhirnya alat kelamin semut dihanyutkan bersama lemari Nabi Nuh. Hilang tidak tahu ke mana.


Maka, mulai saat itu semut mencari alat kelaminnya. Dan setiap kali bertemu dengan temannya pasti bertanya: “Alat kelaminmu sudah ketemu apa belum?”


Akhirnya ulama Sunni dan ulama Syiah Syi'ah bisa tertawa bersama. Kemudian rukun, saling bertepuk pundak dan saling salam-salaman.


Mulai saat itu, mereka bersatu bersama menolak pembongkaran makam Kanjeng Nabi Muhammad oleh Kerajaan Arab Saudi beraliran Wahabi, hingga sampai saat ini makam Kanjeng Nabi masih utuh. (Fathoni)

BNI Mobile