Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kenang Humor Gus Dur, Ananda Sukarlan dan Sejumlah Musisi Gelar Konser Daring

Kenang Humor Gus Dur, Ananda Sukarlan dan Sejumlah Musisi Gelar Konser Daring
Melalui konsernya, Ananda mencoba menyampaikan humor lewat musik, karena humor menurutnya berlaku sama dalam semua bidang.
Melalui konsernya, Ananda mencoba menyampaikan humor lewat musik, karena humor menurutnya berlaku sama dalam semua bidang.

Jakarta, NU Online

Ananda Sukarlan dan sejumlah musisi mengingat Gus Dur perihal kemampuan diplomasinya melalui seni dan humornya. Kristalisasi ingatannya akan diwujudkan dalam bentuk konser daring bertajuk “Diplomacy through The Art & Humor” yang akan tayang pada kanal YouTube Budaya Saya milik Ditjen Kebudayaan RI tepat pada ulang tahun ke-80 Gus Dur, yaitu 7 September 2020 pukul 19.00 WIB.


Dalam berbagai kesempatan, sebagian orang sering berandai-andai “Seandainya Gus Dur masih ada...”. Misalnya, saat ada musibah intoleransi, orang mengharap hadirnya Gus Dur dengan kata “Andai Gus Dur masih ada, barangkali dia akan pertama kali membela”.


Dalam kesempatan lain saat terjadi sengketa dengan saudara sebangsa di Papua, sebagian orang juga masih merindukan kehadiran Gus Dur, seorang Presiden yang begitu memperhatikan Papua, yang mengembalikan nama Papua dari nama sebelumnya “Irian Jaya”.


Masih banyak orang mengandai-andaikan Gus Dur masih ada. Yang jelas, jika Gus Dur masih ada, saat ini, dia akan berusia 80 tahun atau 10 windu.


Gus Dur, walaupun hanya menjadi presiden dalam waktu yang sangat singkat, warisannya melekat dalam ingatan bangsa Indonesia hingga saat ini, bahkan setelah lebih dari 10 tahun kepergiannya. Menariknya, ingatan akan Gus Dur tak seragam. Sebagian orang mengingatnya karena perjuangannya terhadap kelompok yang dilemahkan. Sebagian mengingatnya karena humornya. Sebagian lain mengingatnya karena kedekatannya pada kelas miskin pedesaan.


Di mata Ananda Sukarlan sendiri, Gus Dur bukan hanya seorang Presiden yang banyak melakukan pembaruan, tapi juga seorang diplomat andal dan pecinta seni. Kecintaan pada seni merupakan hal penting bagi seorang pemimpin karena ia harus bisa mengerti dan merasakan, bukan hanya mengetahui, terampil dan ahli dalam strategi politik serta pembangunan fisik.


Lebih lanjut, Ananda Sukarlan menyadari bahwa kepemimpinan yang dipraktikkan Gus Dur berpusat pada pengembangan manusia. “Yang dia pimpin itu adalah manusia yang mengatur ekonomi, politik, atau apapun. Manusialah yang semua memiliki kecerdasaan dan perasaan. Nah, diplomasi Gus Dur itu melalui seni dan juga humor,” kata Ananda Sukarlan sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Senin (31/8).


Melalui konsernya, Ananda mencoba menyampaikan humor lewat musik, karena humor menurutnya berlaku sama dalam semua bidang. Baginya, konser ini juga sebuah penghormatan (tribute) bagi humor itu sendiri, yang sekarang banyak dilihat dari kacamata yang salah, bahkan kerap dibungkam oleh kelompok intoleran dan ekstremis dengan dalih penistaan agama, menghina tuhan, atau alasan lainnya. 

“Saya percaya sekali, jika saja Gus Dur masih hidup saat ini, beliau sudah diahokkan berkali-kali," kata Ananda sambil melontarkan tawa di sela-sela pengambilan gambar di Pojok Gus Dur lantai satu PBNU.


Lokasi pengambilan gambar ini juga sengaja diambil karena bagi Ananda Sukarlan ruang pojok Gus Dur merupakan ruang kerja Gus Dur sebelum dan setelah menjadi presiden. Di mata Ananda Sukarlan, ruangan ini memiliki nilai historis tersendiri. Di tempat ini Gus Dur sering menemui banyak warga yang mengadu, menemui tamu, para sahabat dan koleganya.


Konser tribute to Gus Dur ini sendiri dipersembahkan oleh para musikus yang ahli dalam instrumen musik. Ada dua musikus yang memiiki nama besar, yaitu dua pianis muda: Michael Anthony dan Randy Ryan.


Michael Anthony, seorang tunanetra dan autis yang saat ini berusia 17 tahun, yang pernah tampil pada konser daring "Tribute to BJ Habibie" beberapa waktu lalu. Randy Ryan adalah pianis muda berusia 25 tahun, satu-satunya orang Indonesia yang menjadi siswa dari pianis besar Leon Fleischer.


Randy adalah lulusan dari fakultas musik paling prestisius di AS, Juilliard School of Music di New York City. Ia diterima kuliah di sana setelah memenangkan Ananda Sukarlan Award tahun 2012 pada usia 16 tahun; pemenang termuda kompetisi sulit di Nusantara ini.


Konser ini diadakan sekaligus sebagai penghormatan Randi terhadap mendiang dosennya yang telah berjasa banyak untuk musik klasik Amerika. Randy berharap ia bisa meneruskan perjuangan dosennya, yaitu mengabdikan diri untuk kemajuan musik klasik Indonesia.


Bersama rekan-rekannya pemain flute, klarinet, oboe, fagot dan french horn, Ananda Sukarlan akan mempersembahkan karya-karya musik yang berhubungan dengan humor, seni visual, dan sebuah karya baru, "Mutahariana", yaitu sebuah trio untuk klarinet, french horn dan piano. Karya ini mengambil material dari melodi Syukur dan Hari Merdeka dari penulis lagu H Mutahar (1916-2004).


Selain itu juga akan dipersembahkan karya trio "Communication Breakdown" dengan formasi yang berbeda, yaitu flute, fagot dan piano. Communication Breakdown ditulis berdasarkan lukisan Kukuh Nuswantoro "Kegelapan" yang memenangkan UOB Painting of the Year 2017.


Pewarta: Ahmad Rozali

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile