Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tiga Strategi Jitu KH Wahab Chasbullah Topang Pendirian NU

Tiga Strategi Jitu KH Wahab Chasbullah Topang Pendirian NU
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: dok. Perpustakaan PBNU)
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: dok. Perpustakaan PBNU)

Menilik sejarah tataran nasional, peran serta KH Wahab Chasbullah dalam perjuangan kemerdekaan memang tak setenar KH Hasyim Asy'ari maupun KH Wahid Hasyim. Terbukti, penyematan gelar Pahlawan Nasional bagi Mbah Wahab baru dilaksanakan tahun 2014 lalu, sementara Mbah Hasyim dan KH Wahid Hasyim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sejak 1964 cuma beda bulan.


Mbah Wahab memiliki peran sentral sebagai penggerak nasionalisme santri. Pengetahuan itulah yang tampak dari berbagai buku sejarah yang memuat tentang Mbah Wahab.


Uniknya, strategi Mbah Wahab pun terbilang terstruktur dengan menggerakkan tiga unit terpenting dari bagian-bagian kehidupan sosial kemasyarakatan yakni pendidikan, diskusi soal sosial keagamaan, dan ekonomi.


Pertama, dari segi pendidikan dengan Nahdlatul Wathan. Nahdlatul Wathan menjadi rintisan pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia guna mendidik dan membangun semangat nasionalisme.


Tujuannya, Nahdlatul Wathan diharapkan menjelma menjadi sebuah organisasi pergerakan untuk menggembleng pemuda pembela Islam dan pembela tanah air yang tangguh. Pergerakan ini resmi berbadan hukum tahun 1916.


Selaras dengan artinya, Nahdlatul Wathan yang berarti "pergerakan tanah air" memiliki cita-cita luhur untuk bergerak meraih kemerdekaan dengan semangat perjuangan, kecintaan terhadap tanah tumpah darah serta keinginan untuk mengusir penjajah.


Dalam perkembangannya, Nahdlatul Wathan berkembang menggurita dengan berdirinya berbagai cabang di berbagai tempat. Di antaranya, Nahdlatul Wathan Cabang Wonokromo diberi nama Ahlul Wathan (warga bangsa), di Gresik bernama Far'ul Wathan (elemen bangsa), di Jombang diberi nama Hidayatul Wathan (Pencerah Bangsa), dan di Pacarkeling diberi nama Akhlul Wathan (solidaritas bangsa). 


Kedua, tak hanya mencetuskan wadah penggemblengan pemuda yang menggurita di beberapa daerah, Mbah Wahab juga menginisiasi terciptanya madrasah Taswirul Afkar sebagai wadah diskusi pengembangan pemikiran yang membahas berbagai masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan.


Taswirul Afkar berarti konsepsi pemikiran atau potret pemikiran dengan anggota para ulama muda yang mempertahankan sistem bermazhab. Hal ini penting untuk pembekalan agama bagi peserta didik, anak-anak setingkat sekolah dasar sehingga generasi yang tercipta memiliki pemikiran inklusif yang tak hanya memahami teks secara letter lijk tapi juga kontekstual.


Sebab, secara konteks saat itu berbagai pemikiran keagamaan muncul bahkan pemikiran-pemikiran anti mazhab yang mulai mewabah seiring kondisi keagamaan yang berkembang di Timur Tengah. Harapannya, semangat nasionalisme kebangsaan bisa berjalan selaras dengan semangat keagamaan. Sehingga, keduanya tidak timpang. 


Ketiga, tidak hanya sekadar merintis pergerakan pendidikan sosial dan keagamaan, kesadaran akan pentingnya dukungan materiil membuat Mbah Wahab berinisiatif pula membangun basis ekonomi pergerakan dengan pembentukan lembaga dagang yang dikelola oleh para kiai pesantren dengan nama Nahdlatul Tujjar.


Lembaga dagang yang didirikan tahun 1918 ini menjadi tonggak pembiayaan pergerakan Nahdlatul Wathan dan gerakan Nasional lainnya yang ditanggung oleh para dermawan secara sukarela, serta untuk membiayai pendidikan atau aktivitas politik lainnya. Lembaga ini pula yang menjadi embrio terbentuk nya Nahdhatul Ulama (NU). Ketika NU berdiri, maka dengan sendirinya lembaga itu melebur dalam NU.


Dari dana Nahdlatut Tujjar, NU bisa membiayai delegasi yang mengikuti Komite Hijaz serta menyampaikan aspirasi terkait pentingnya kebebasan bermazhab. Alhasil, dengan kemandirian ekonomi pergerakan, NU bisa bergerak menyebarkan Aswaja dengan mengobarkan semangat kemerdekaan bebas dari campur tangan kolonial.


Dari strategi yang dirintis oleh Mbah Wahab baik dengan Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar dan Nahdlatut Tujjar selayaknya bisa menjadi refleksi untuk pengembangan santri dalam semangat nasionalisme mengisi kemerdekaan saat ini.


Harapannya, santri tidak hanya fokus pada pendidikan keagamaan saja tapi juga harus diimbangi dengan pemikiran tantang sosial, politik serta semangat untuk mengembangkan diri di bidang ekonomi salah satunya dengan berwirausaha. Sebab, tertumpu pada ilmu agama saja tak cukup, tanpa finansial sebagai penopang.


Penulis: Nidhomatum MR

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile