Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kata 'Anjay' Belum Tentu Negatif, tapi Sebaiknya Tidak Digunakan

Kata 'Anjay' Belum Tentu Negatif, tapi Sebaiknya Tidak Digunakan
Karena menimbulkan kekeliruan makna oleh sebagian pihak, menurut dia akan lebih baik apabila anak muda menggunakan bahasa gaul dengan sebutan yang lain.
Karena menimbulkan kekeliruan makna oleh sebagian pihak, menurut dia akan lebih baik apabila anak muda menggunakan bahasa gaul dengan sebutan yang lain.

Bandung, NU Online

Sekretaris Pergunu Kota Bandung Jawa Barat, Rifa Anggyana mengatakan kata 'anjay' yang menjadi viral beberapa hari ini tidak selalu berarti caci maki. Ia mengakui ada banyak sebutan, istilah atau kosakata baru dalam pergaulan anak muda. Bahkan istilah tersebut bertambah dari waktu ke waktu.

 

"Memang banyaknya sebutan baru dalam pergaulan anak muda semakin bertambah, seperti kata anjay yang sekarang diperdebatkan dan menjadi viral di media sosial," kata Rifa Anggyana, Senin (31/8).

 

Sebagai guru, ia mengatakan pasti menegur para siswa yang menggunakan kata anjay. Akan tetapi, jika dipahami, kata anjay sebagai kedekatan antarteman. Mungkin saja bagi sebagian orang kata tersebut dianggap tidak baik diucapkan.

 

"Akan tetapi diucapkan dengan suasana candaan, sehingga orang yang menjadi sasaran pengucapan kata anjay dapat menerimanya tanpa sakit hati. Maka kita bisa memaklumi jika kata anjay dipakai dalam suasana apa, kepada siapa dan dengan tujuan apa," jelasnya.

 

 

Namun demikian, karena menimbulkan kekeliruan makna oleh sebagian pihak, menurut dia akan lebih baik apabila anak muda menggunakan bahasa gaul dengan sebutan yang lain. "Misal hebat pisan, juara atau apa ketimbang kata anjay," kata Rifa yang juga Guru SMAN 1 Bandung.

 

Dirinya berharap jangan sampai perdebatan ini menjadi larut berkepanjangan apalagi situasi saat ini di mana masyarakat masih dihadapkan pada wabah Covid-19. "Masih banyak yang harus diselesaikan," pungkasnya.

 

Sementara itu Ahli Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Makyun Subuki mengatakan bahwa kata tidak bisa dikurangi atau dihentikan penggunaannya.    

 

"Perundungan itu berkurang dengan edukasi. Kalau cuma makian biasa, itu manusiawi. Seluruh kebudayaan juga punya kata buat memaki. Ngapain repot-repot dikurangi," katanya kepada NU Online pada Senin (31/8).  

 

Makyun membenarkan penjelasan Komnas Perlindungan Anak bahwa kata anjay memang bisa bermakna positif karena menjadi sinonim kognitif atau sinonim proporsional dari keren. Sebaliknya, kata itu juga bisa mengandung hal negatif seperti makian karena menjadi sinonim kognitif atau sinonim proporsional dari bentuk makian lain.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Muchlishon

BNI Mobile