Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Shamsi Ali: Ulama Indonesia Harus Berperan di Dunia Global

Shamsi Ali: Ulama Indonesia Harus Berperan di Dunia Global
Imam Islamic Centre New York KH Shamsi Ali. (Foto: tangkapan layar)
Imam Islamic Centre New York KH Shamsi Ali. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online
Imam Islamic Centre New York KH Shamsi Ali mengatakan, para ulama Indonesia harus mengambil peranan penting dalam berkiprah di dunia Internasional.


Shamsi Ali menjelaskan, ketika terjadi peristiwa serangan 11 September 2001 (Nine Eleven) di Amerika Serikat, ada semacam hilangnya kepercayaan dunia Barat secara umum dan Amerika secara khusus kepada Timur Tengah. 


Beberapa pelaku yang tertuduh, mayoritas berasal dari Timur Tengah. Dengan begitu, mereka mencari wajah keslaman baru yang lebih moderat sebagai alternatif lain dari keislaman di Timur Tengah.  


“Amerika dan Barat hampir kehilangan kepercayaan dengan Timur Tengah dalam hal mewakili Islam, sudah tidak ada harapan. Maka sesungguhnya mereka mencari wajah Islam alternatif,” paparnya saat peluncuran Majelis Mudzakarah Masjid Istiqlal, Rabu (2/9).


Menurut dia, ada empat dasar mengapa muslim Indonesia dan para ulamanya harus berkiprah di dunia internasional. Pertama, karena hidup dalam dunia global, tentu hanya akan bisa selamat dan jaya ketika ikut menjadi pemain dalam dunia global sekarang ini.


“Apalagi agama kita ini adalah agama yang paling global, baik secara substansi ajaran Tuhan kita adalah rabbul alamin, rabbun nas, Muhammad rahmatan lil 'alamin, Al-Qur'an hudan linnas,” ujar Presiden Nusantara Foundation itu.


Begitu juga secara keumatan, Islam adalah agama yang dipeluk oleh umat yang paling mengglobal. Di mana saja berjalan di dunia ini, pasti akan bertemu umat Islam.


“Allah memberi kesempatan kepada kami untuk berjalan dari Selandia Baru sampai ke dunia yang paling barat di Eropa misalnya, kita mendapatkan betapa pengikut nabi muhammad ada di mana-mana,” sambungnya.


Garda terdepan
Maka, sebagai bangsa muslim terbesar tentu harus berada di garda terdepan untuk memainkan peranan Islam yang bersifat global itu dan harus diambil sebagai tugas keulamaan bangsa, menjadi bagian dari ulama sebagai solving the problem atau menyelesaikan permasalahan yang ada.


Kedua, secara sejarah Nusantara ini memiliki masa lalu yang sangat jaya dalam hal peranan global. Salah satu ulama yang terkenal sebagai penyebar Islam di wilayah Afrika Selatan, yakni Syekh Yusuf al-Makassari.



“Kita tidak banyak menyebutkan bahwa beliau adalah ulama besar yang memainkan peranan penting dalam menyebarkan Islam, baik di Srilanka maupun di Cape Town, Afrika Selatan atau di Afrika secara umum,” tuturnya.


Sejarah seperti ini, lanjut dia, perlu dikembalikan. Tidak hanya bernostalgia untuk kegemilangan sejarah di masa lalu. Akan tetapi, waktunya untuk dikembalikan peranan keulamaan ini dalam dunia global.


Ketiga, Indonesia sebagai negara muslim terbesar. Justru hal ini memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk bisa mewakili wajah Islam yang sesungguhnya. Itulah kemudian tertuang dalam amanah konstitusi untuk ikut menjaga perdamaian dunia. 


“Satu hal yang diperlukan oleh dunia kita sekarang adalah memberikan pemahaman tentang Islam yang sesungguhnya. Saya yakin, Indonesia menjadi negara muslim terbesar bukan by accident. Saya yakin karena amanah Allah SWT mengapa Indonesia dijadikan negara muslim hingga saat ini dan mudah-mudahan hingga masa mendatang,” terangnya.


Wajah Islam Indonesia
Ia mengatakan, pentingnya wajah Islam Indonesia hadir karena betapa banyaknya konflik di dunia itu disebabkan karena kesalahpahaman terhadap agama Islam, termasuk di Amerika Serikat. 


“Maka, menjadi kewajiban kita sebagai bangsa muslim terbesar di dunia untuk memainkan peranan ini,” tandasnya.


Keempat, pemahaman dan pengamalan agama Islam di indonesia adalah suatu pengenalan yang dirindukan dunia masa kini. Pemahaman dan pengamalan yang bisa mematahkan stigma yang keliru tentang Islam.


“(Stigma) Bahwa Islam tidaklah berdemokrasi, alhamdulillah kita adalah negara muslim di dunia dan kita adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Toleransi dan kerukunan sudah menjadi darah daging bangsa kita. Wajah Islam yang kita pahami dan kita praktikkan di Indonesia inilah yang menjadi amanah kebangsaan yang harus kita sampaikan,” tegasnya. 


Dari empat dasar tersebut, ia mengajak para ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia untuk saling berkiprah dan mengambil peranan ini sebagai tanggung jawab. Sebab, wajah Islam Indonesia yang menjunjung tinggi moderat dan toleran menjadi bagian penting yang dirindukan dunia.


“Terkadang kita ini hilang self confidence, seolah bangsa kita ini tidak mampu. Padahal, bangsa Indonesia dan umat Islamnya memiliki potensi luar biasa, tinggal bagaimana kita menampilkan potensi yang kita miliki ini,” tukasnya. 


Acara ini disiarkan secara virtual melalui zoom dan kanal YouTube Masjid Istiqlal TV. Peserta yang hadir dalam acara ini antara lain Prof KH Nasaruddin Umar, Habib Muhammad Quraish Shihab, Habib Said Agil Husin al-Munawar, dan Prof KH Nadirsyah Hosen.


Kontributor: Ahmad Rifaldi
Editor: Musthofa Asrori

  
 

BNI Mobile