Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Hadapi Krisis, Gus Ghofur Ingatkan Pemimpin Bangsa Teladani Nabi Muhammad

Hadapi Krisis, Gus Ghofur Ingatkan Pemimpin Bangsa Teladani Nabi Muhammad
Keberadaan pemimpin yang merakyat di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu kunci utama menghadapi krisis.
Keberadaan pemimpin yang merakyat di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu kunci utama menghadapi krisis.
Jakarta, NU Online
Salah satu situasi paling berat yang dihadapi Nabi Muhammad Saw di Madinah adalah saat terjadinya Perang Khandaq atau Perang Ahzab (Perang Parit). Perang ini terjadi saat berbagai kabilah atau kelompok masyarakat bersepakat untuk memerangi Madinah. 
 
Pada saat itu terjadilah pengurungan atau blokade terhadap Madinah selama tiga pekan. Kehidupan di Madinah benar-benar sulit. Dalam kondisi ini, Allah menurunkan wahyu berupa surat Al-Qur'an kepada Nabi Saw yakni Surat Al-Aḥzab. 
 
Terdapat ayat masyhur pada surat ini yang berada di tengah-tengah surat yakni ayat 21 yang artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah".
 
Menurut Katib PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen, ayat ini mengisyaratkan bahwa kesulitan apapun yang dihadapi umat Islam Madinah akan dilalui dengan baik selama masih ada Nabi Muhammad Saw di tengah mereka dan selama mereka tetap iman kepada Allah dan Nabi-Nya. 
 
"Keberadaan pemimpin yang merakyat di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu kunci utama menghadapi krisis," ungkap Gus Ghofur, Sabtu (5/9).
 
Kisah lain yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar menjadi teladan saat krisis adalah saat umat keluar dari Madinah untuk menghadapi Kuffar Quraish dengan jumlah tentara Islam 300 lebih sedikit. Saat itu tentara umat Islam hanya memiliki 70 unta dan 2 kuda. Jumlah kendaraan tidak berimbang dengan jumlah tentara. 
 
Mereka pun harus bergiliran menaikinya, satu kendaraan untuk dua, tiga, atau empat orang. Termasuk Rasulullah Saw. Beliau bergiliran dengan Ali bin Abi Thalib dan Martsad al-Ghanawi ra. 
 
"Kedua sahabat ini mengatakan kepada Rasulullah Saw “Wahai, Rasulullah, kami berdua saja yang jalan menggantikan engkau.” Rasulullah menjawab, “Kamu berdua tidak lebih kuat dari saya, dan saya tidak kalah butuhnya pada pahala daripada kamu berdua," Gus Ghofur mengisahkan lewat akun Facebook pribadinya.
 
Namun perjalanan ke Badar yang amat berat itu serasa ringan karena umat Islam bersama Rasulullah Saw yang penuh dengan teladan dan menjadi jaminan kenyamanan.
 
"Jika seorang disuruh memilih antara naik Suzuki Carry dan Toyoya Alphard, hampir pasti dia akan memilih naik Alphard. Tapi, bagaimana jika di dalam Carry itu ada istri mempesona yang sangat dia cintai, apakah dia masih tetap memilih Alphard? Sangat mungkin dia akan memilih mengendarai Carry, karena kenyamanan sering kali ditentukan oleh bersama siapa, bukan dengan apa," ungkapnya.
 
Sehingga menurutnya di tengah situasi Indonesia yang masih dalam kondisi menghadapi krisis Covid-19 dibutuhkan pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh yang mampu menjadikan diri sebagai bagian dari mereka, seperti Nabi Muhammad Saw.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin 
BNI Mobile