Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gubernur Bali: Saya Nyaman Bersama NU

Gubernur Bali: Saya Nyaman Bersama NU
Pembukaan Konferwil NU Bali oleh Gubernur I Wayan Koster (Foto: NU Online/Abraham Iboy)
Pembukaan Konferwil NU Bali oleh Gubernur I Wayan Koster (Foto: NU Online/Abraham Iboy)

Denpasar, NU Online
Gubernur Provinsi Bali I Wayan Koster mengatakan, sangat nyaman dan bangga berada di tengah-tengah keluarga besar NU. Sebab, sejak muda, ia telah banyak mengenal dan bergabung dengan pemuda lintas agama, utamanya kerja sama dengan Ansor.

 

"Sejak lama saya berada di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama, terutama dengan Ansor dalam kegiatan lintas agama," ujarnya.

 

Hal itu disampaikan saat menghadiri Konferensi Wilayah (Konferwil) VII Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Bali di Hotel Harris Denpasar, Ahad (6/9).

 

Gubernur asal Buleleng tersebut menambahkan, jika ia tidak mungkin meninggalkan NU, karena selama ini selalu bersama-sama membangun Bali. Dikatakan, peran serta NU dalam membangun Bali sangat dirasakan selama ini.

 

“Melalui forum ini saya berharap NU semakin baik ke depannya, dan terus bisa bersinergi. Selain itu, Konferwil ini bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang mendukung program pemerintah,” ungkapnya.

 

Gubernur Provinsi Bali, I Wayan Koster (Foto: Abraham Iboy)

 

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali KH Abdul Aziz menjelaskan, Konferwil VII PWNU Bali kali ini mengusung tema 'Meningkatkan Panyamabrayaan Potensi Generasi Milenial Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama'.

 

"Pilihan tema ini untuk menghimpun potensi generasi NU untuk menjadi penggerak NU di masa mendatang. Panyamabrayaan berasal dari kata 'menyamakanbraya' yang dalam Bahasa Bali berarti kebersamaan," jelasnya.

 

Menurutnya, kalau tidak ditekankan panyamabrayan kalangan milenial, kawatir apa yang telah dibagun oleh tokoh NU sejak dahulu akan tergerus. Pemikiran sekarang banyak dirasuki fundamental dan cenderung tidak adaptasi. 

 

"Kebersamaan antar agama sudah sangat bagus dalam konteks membangun kebangsaan. Ke depan konsep menyamabraya dapat dilanjutkan dan tidak diikutkan paham-paham intoleransi yang jauh dari NU," papar KH Abdul Aziz. 

 

Kepada NU Online Kiai Aziz mengungkapkan, peserta Konferwil tahun ini sengaja dibatasi karena pandemi Covid-19. Setidaknya ada maksimal 100 orang dari kapasitas aula yang dapat menampung 1.000 orang. 

 

"Peserta Konferwil terdiri dari para pengurus wilayah, perwakilan lembaga dan banom serta perwakilan pengurus cabang masing-masing sebanyak empat orang," ucapnya. 

 

Selain Gubernur Provinsi Bali hadir pula perwakilan Kapolda Provinsi Bali, Pangdam Udayana Provinsi Bali, Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Bali, Kapala Pengadilan Agama Provinsi Bali, dan para tokoh masyarakat lintas agama. 

 

Sementara hadir mewakili Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) H Sulthonul Huda.

 

Kontributor: Abraham Iboy
Editor: Abdul Muiz 

BNI Mobile