Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ribuan Pelayat Iringi Kiai Nasrudin ke Peristirahatan Terakhir

Ribuan Pelayat Iringi Kiai Nasrudin ke Peristirahatan Terakhir
Ribuan pelayat antarkan KH Nasrudin ke peristirahatan terakhir (Foto: NU Online/Yaser Arafat)
Ribuan pelayat antarkan KH Nasrudin ke peristirahatan terakhir (Foto: NU Online/Yaser Arafat)

Brebes, NU Online

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah almarhum KHM Nasrudin yang wafat Senin (7/9) di Rumah Sakit Darmais Jakarta hari ini Selasa (8/9) dimakamkan di pemakaman keluarga di kompleks Pesantren Modern Al-Falah Jatirokeh Songgom, Brebes.

 

Wakil Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Taufiqurrohman Yasin ikut hadir dan melepas jenazah yang diiringi ribuan pelayat dari rumah duka menuju pemakaman.

 

Tampak hadir bertakziyah Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, Rais PBNU KH Subkhan Makmun, Sekda Brebes Djoko Gunawan MT, mantan Bupati Brebes Indra Kusuma, jajaran Pengurus NU, para ulama dan santri dan pejabat Pemkab, politikus hingga masyarakat seputar  pondok.

 

Bupati Brebes Idza Priyanti dalam sambutan pelepasan yang disampaikan Sekda Brebes Djoko Gunawan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Dirinya berharap keluarga yang ditinggalkannya diberi kesabaran dan ketabahan serta senantiasa berdoa semoga almarhum KH Nasrudin diterima amal ibadahnya dan mendapatkan tempat terindah di Surganya Allah SWT.

 

“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya dan semoga almarhum diampuni segala kesalahanya dan diterima segala amal ibadahnya. Semoga yang ditinggalkannya diberi ketabahan, kekuatan lahir dan batin, serta melanjutkan perjuangan beliau, membangun Brebes agar maju dan sejahtera,” ucap Bupati sebagaimana disampaikan Sekda Djoko Gunawan.

 

Wakil Katib PBNU KH Taufiqurrohman Yasin mengungkapkan, KH Nasrudin sudah pulang. Untuk itu, mari minta halal halalan. PBNU sudah tahu kalau almarhum sudah sakit lama. PBNU sering mendoakan agar diberi kesehatan tetapi Allah berkehendak lain. 

 

“Diobati apapun tidak bisa sembuh, karena kehendak takdir dari Allah SWT telah datang. Kehendak Allah lebih baik ketimbang kehendak makhluk. Dasare wong bagus, akan husnul khatimah maka wafat saat ini,” ucap Kiai Taufiq. 

 

Dikatakan, berita wafatnya Kiai Nasrudin cepat terdengar dan tersebar luas.  Ucapan bela sungkawa mengalir deras di grup grup WA, Facebook, Twitter, dan lain-lain. Ini membuktikan kalau almarhum adalah orang yang baik. 

 

“Pulangnya Kiai Nasrudin menjadi pembelajaran bagi kita bahwa nasehat yang paling baik adalah kematian. Kemarin-kemarin Kiai Nasrudin dinasehati oleh kita, saat ini almarhum lebih menasehati bahwa kita akan menuju kematian,” ucapnya.

 

Namun demikian lanjutnya, kita tidak usah merasa pesimis. Insyaallah esa hilang dua terbilang. Satu Kiai Nasrudin wafat akan lahir kader-kader NU yang kapasitasnya bisa melanjutkan perjuangan kiai Nasrudin. 

 

 

Mewakili keluarga, Kiai Mas Mansyur Tarsudi menceritakan riwayat perjalanan hidup almarhum yang memiliki nama kecilnya Tohid. Dia teringat, kalau Agustusan itu banyak bambu yang dibuat tiang bendera. 

 

“Pring sing lempeng di tegor, pring sing ora lempeng di jor bae, Insyaallah Adikku Nasrudin termasuk orang yang lurus yang baik, amin,” ucap Kiai Mas Mansyur Tarsudi.

 

Kiai Mas Mansyur berpesan agar santri jangan pulang, karena masih ada penggantinya yang mengasuh. Tidak usah cemas, pesantren tetap berjalan. Dan Wali Santri agar terus menasehati anaknya, agar anak-anaknya yang mondok di Al-Falah tetap betah nyantri.

 

Prosesi pelepasan jenazah dilakukan pembacaan doa oleh Pengasuh Pesantren Al-Hikmah 1 Benda Sirampog, Bumiayu KH Labib Sodiq, sedangkan Imam Shalat Jenazah dipimpin Rais PBNU KH Subkhan Makmun. 

 

Kiai Nasrudin yang lahir di Brebes, 24 Mei 1957 itu meninggalkan seorang istri Hj Danilah dan 7 orang anak yakni Neli Kurnia, Faisal Kadafi, Moh Iqbal Tanjung,  Abdurahman Zuhad, Mafida Ria Kartika, Husen Haekal, dan Reza Pahlevi.   

 

Kontributor: Yaser Arafat, Wasdiun
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile