Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kenapa Harus Pakai Masker?

Kenapa Harus Pakai Masker?
Memakai masker menjadi penting saat ini karena faktanya sampai sekarang kasus positif Covid-19 di Indonesia terus mengalami kenaikan dan sudah menyentuh angka 200 juta lebih.
Memakai masker menjadi penting saat ini karena faktanya sampai sekarang kasus positif Covid-19 di Indonesia terus mengalami kenaikan dan sudah menyentuh angka 200 juta lebih.
Jakarta, NU Online
Di tengah pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum mereda di Indonesia dan seluruh dunia, setiap individu harus mampu menjaga diri untuk tidak tertular dan menularkan virus Corona. Di antara langkah konkret yang bisa dilakukan adalah menggunakan masker. Berdasarkan penelitian, memakai masker mampu menurunkan risiko penularan Covid-19 hingga 75%.
 
“Penularan penyakit ini melalui cipratan-cipratan cairan yang keluar dari mulut dan hidung (droplet) ketika berbicara, batuk, bersin, mengaji, azan, menyanyi dan lain-lain,” kata Ketua Umum Gerakan Pakai Masker (GPM) Sigit Pramono pada acara Penyuluhan Pakai Masker (PPM) Penyuluhan untuk Penyuluh Pondok Pesantren angkatan Ke-6, Jumat (11/9).
 
Memakai masker juga menjadi penting saat ini karena faktanya sampai sekarang kasus positif Covid-19 di Indonesia terus mengalami kenaikan dan sudah menyentuh angka 200 juta lebih. Rata-rata, saat ini kasus perharinya sudah mencapai 3.000 orang dan sudah mengakibatkan 8.000 orang lebih meninggal dunia.
                                   
“Covid-19 tanpa kita sadari semakin hari semakin mendekati kita. Apa buktinya? Awalnya yang menjadi korban Covid-19 adalah warga dari provinsi lain, kemudian warga satu provinsi, lalu warga satu kota yang sama dan kemudian mulai ada korban tetangga kita sekampung. Sekarang korbannya bahkan mulai ada orang-orang yang kita kenal,” ungkapnya.
 
Sigit menilai juga bahwa memakai masker mampu menempatkan masyarakat sebagai subjek bukan objek. Kesadaran memakai masker lebih demokratis. “Ini lebih mudah dari pada PSBB yang menempatkan rakyat sebagai objek yang diatur pergerakannya,” ujarnya.
 
Memakai masker juga ia nilai relatif lebih mudah diterapkan di tengah masyarakat yang memiliki kedisiplinan rendah dan sulit diatur seperti di Indonesia. Kebiasaan memakai masker juga sudah diterapkan saat pandemi Flu Spanyol pada 1918 dengan berbagai model masker aneh. “Lebih baik terlihat konyol daripada mati konyol,” ungkapnya.
 
Masker di Pesantren
Pemakaian masker di pesantren juga menjadi penting di era new normal. Saat ini harus dibiasakan kepada santri untuk mengenakan masker selain kebiasaan lama seperti memakai sarung dan peci. Pemakaian masker ini juga harus dipadu dengan dua kebiasaan baru lainnya yang ia sebut Tri Tunggal atau 3 in 1 yakni pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan.
 
Pentingnya protokol kesehatan seperti pemakaian masker di pesantren ini karena ahli epidemologi bernama Dicky Budiman mengungkapkan bahwa tempat atau ruang tertutup dengan banyak orang di dalamnya sangat rentan menjadi pusat penularan. Penyebab penyebaran di pesantren atau asrama umumnya faktor ventilasi dan sirkulasi udara yang tidak normal.
 
“Faktor VDJ (Ventilasi, Durasi, Jarak). Selain itu juga kebiasaan saling pinjam barang-barang atau satu barang digunakan bersama-sama,” ungkapnya.
 
Beberapa kejadian kasus positif Covid pun juga sudah terjadi di beberapa pesantren. Inilah yang menggerakkan Gerakan Pakai Masker menggelar kegiatan Penyuluhan untuk Penyuluh Pondok Pesantren bagi 23 pesantren di Provinsi Jawa Barat. 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin 
BNI Mobile