Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tidak Ada Halangan Bermitra dengan Pemerintah, Asal Kritis

Tidak Ada Halangan Bermitra dengan Pemerintah, Asal Kritis
KH Abd A'la basyir (kanan) saat memberikan motivasi kepada kader potensial di kantor MWCNU Guluk-guluk, Sumenep, Jatim. (Foto: NU Online/Firdausi)
KH Abd A'la basyir (kanan) saat memberikan motivasi kepada kader potensial di kantor MWCNU Guluk-guluk, Sumenep, Jatim. (Foto: NU Online/Firdausi)

Sumenep, NU Online

Pegiat Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan tidak masalah bekerja sama dengan pemerintah. Namun yang harus diingat adalah bahwa kemitraan tersebut disertai dengan sikap kitis.

 

Penegasan disampaikan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abd A’la Basyir. Juga tidak boleh lupa untuk terus menjaga khidmah kepada masyarakat.

 

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini menyampaikan berbagai pesan kepada Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) di kantor Mejelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Guluk-guluk, Sumenep, Sabtu (12/9).

 

"Ingat, KPNU jangan sampai memberikan contoh yang jelek kepada masyarakat," pintanya.

 

Selanjutnya dikemukakan bahwa inti dari PKPNU adalah mendidik kader agar hebat dalam berkarakter, berilmu, ekonomi, berjejaring dan berbudaya. Bahkan bermitra dengan pemerintah sekali pun tidak dilarang asal kritis.

 

“Boleh bekerja sama dengan pemerintah, tetapi menjadi mitra kritis,” tegasnya.

 

Berikutnya, Kiai A’la melarang menjadikan NU sebagai organisasi yang disusupi oleh kepentingan sesaat. Karena saat ini mulai bermunculan oknum yang memiliki kepentingan politik. Hajatan pemilihan kepala daerah dan sejenisnya potensial melahirkan kalangan pragmatis seperti itu.

 

"Saat mencalonkan diri tiba-tiba ia mengaku bagian dari NU. Ini lucu,” sergahnya.

 

Dalam pandangannya, kalangan seperti ini adalah ingin merusak struktur organisasi. Padahal kader jangan sampai masuk pada jebakan tersebut, demi menjaga marwah NU.

 

Mantan Rektor UINSA Surabaya tersebut menegaskan bahwa ijazah PKPNU bukan menunjukkan jati diri, tetapi menjadikan kader memikul tanggung jawab besar selalu memberikan inovasi agar NU menyentuh masyarakat pedesaan. Sehingga yang harus dikedepankan adalah khidmat kepada umat. 

 

Dewan masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk tersebut mengajak kepada KPNU untuk menjadi pencerah pada yang lainnya. Tujuan tersebut akan tercapai jika menjaga kolektifitas tim.

 

"Ini bukan orasi tapi kami mengajak untuk mengingat-ingat kembali apa yang diperjuangkan pendahulu tanpa menghapusnya, sehingga kuat dalam berorganisasi dan jati diri menjadi satu kesatuan," pungkas dia.

 

KPNU merupakan program pengkaderan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang alumninya bisa menjadi garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ulama NU.

 

Kontributor: Firdausi

Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile