Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Rais Aam PBNU: Santri Bisa Dikatakan Miniatur Islam

Rais Aam PBNU: Santri Bisa Dikatakan Miniatur Islam
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: dok. istimewa)
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyebut santri sebagai miniatur Islam. Kata pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Kota Surabaya ini, bicara Islam maka otomatis bicara santri.


“Santri itu bisa dikatakan miniatur Islam atau memang mutafaqoh terhadap nama Islam itu dan itu harapan kita. Sehingga kita bicara tentang Islam otomatis membicarakan para santri,” kata Kiai Miftach saat sambutan di Webinar Internasional bertajuk Diplomasi Santri untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia yang digelar secara virtual, Selasa (15/9) malam.


Menurut tokoh NU asal Jawa Timur ini, sebagai miniatur Islam, santri memiliki berbagai tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tantangannya adalah mewujudkan perdamaian dunia. Tantangan itu lanjutnya sejalan dengan keinginan para ulama yang tidak henti-hentinya mencari orang yang mampu menerjemahkan Islam secara sempurna.


“Bagaimana bisa kita temukan seorang yang fasih, yang bisa mampu menyediakan untuk menerjemahkan tentang Islam untuk membicarakan tentang Islam secara sempurna. Tanpa dia mengeluh dan merasa sangat kurang di dalam memahami Islam,” tutur Kiai Miftach.


Atas persoalan yang ada, maka santri harus menjadi bagian dari apa yang dicita-citakan para ulama yaitu orang yang memiliki sikap bijaksana merespons keindahan agama Islam melalui setiap pesan yang disampaikan pada firman Allah SWT.


Kemudian, Islam sendiri harus dipahami santri sebagai agama yang memiliki ajaran paling lengkap termasuk agama yang paling sering mendorong manusia dekat dengan Tuhannya yakni Allah SWT sebagaimana yang telah diterangkan dalam Surat Luqman ayat 27.


“Seandainya pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah keringnya niscaya tidak akan habis-habisnya tulisan kalimat Allah sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana,” ucap Kiai Miftach menterjemahkan surat Lukman dalam Al-Qur’an.


Orang yang bisa menjawab hal tersebut lanjut Kiai Miftach adalah manusia yang diberikan cahaya oleh Allah SWT. Tanpa disadari mereka telah membongkar pemahaman tentang Islam secara baik dan benar.


Bahkan orang tersebut diibaratkan sebagai matahari penerang dunia. Untuk melihat hal itu, masyarakat dapat melihatnya kepada santri. Sebagai kelompok yang memiliki ilmu Islam yang tinggi dan mumpuni sehingga santri santri tersebut mampu mewujudkan perdamaian dunia sebagaimana cita-cita para ulama.


“Perdamaian bukan sesuatu yang asing bagi santri, karena dengan kesempurnaan Islam itu sendiri agama yang dibawa sebagai penutup dari agama-agama yang lain dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi,” ungkapnya.


Pewarata: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile