Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

NU Banyumas: Bertani adalah Jihad

NU Banyumas: Bertani adalah Jihad
Ketua PCNU Banyumas, Jateng, Sabar Munanto (Foto: NU Online/Kifayatul Ahyar)
Ketua PCNU Banyumas, Jateng, Sabar Munanto (Foto: NU Online/Kifayatul Ahyar)

Banyumas, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyumas, Jawa Tengah Sabar Munanto menegaskan, sektor pertanian sesungguhnya merupakan garapan utama warga NU yang mayoritas tinggal di pedesaan. Merekalah penolong negeri ini untuk menyediakan dan mensuplai aneka makanan.

 

"Bertani adalah berjihad," tegasnya.

 

Dikatakan, untuk mengembangkan pertanian, pihaknya bersama Lembaga Pengembangan Pertaian Nahdlatul Ulama (LPPNU) memilih pertanian alami merupakan model budi daya pertanian yang lebih menekankan kepada pemanfaatan sumberdaya lokal sehingga hemat, ramah lingkungan, serta berkelanjutan.  

 

"Di Banyumas sumberdaya lokal dan ramah lingkungan berlimpah," ungkapnya.

 

Kepada NU Online, Rabu (16/9) Sabar mengungkapkan, selain ramah lingkungan dan berlimpah, kebutuhan pupuk alami juga mudah didapat. "Seperti menggunakan pestisida alami dan kotoran ternak untuk pupuk sehingga para petani tidak bergantung pada pestisida kimia yang harganya mahal dan cenderung merusak lingkungan," ucapnya. 

 

Disampaikan, pengembangan pertanian sebenarnya sudah digalakkan sejak NU berdiri. Misalnya ungkapan petani adalah penolong negeri. Ungkapan ini begitu terkenal dan sering kita dengar di mana-mana. 

 

"Ungkapan ini saya kutip dari artikel pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari berjudul Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani (Andjoeran Memperbanyak Hasil Boemi dan Menjoeboerkan Tanah, Andjuran Mengoesahakan Tanah dan Menegakkan Ke’adilan) itu ditulis di media Soera Moeslimin Indonesia No. 2 Tahun ke-2, 19 Muharom 1363," jelasnya. 

 

 

NU secara organisatoris lanjutnya, juga terbilang sangat perhatian dalam bidang pertanian. Hal ini dibuktikan dengan hasil bahtsul masail alim ulama NU tahun 1926-1945 yang banyak membahas soal pertanian seperti soal tanah, tambak, petani dan sedekah bumi. 

 

"Bahkan salah satu tujuan berdirinya NU sendiri adalah untuk melindungi kaum tani. Adalah muskil jika saat ini ada yang mengatakan NU tidak berpihak pada petani," tuturnya. 

 

Ketua LPPNU Banyumas Sulkhan Chakim mengatakan, sistem kerja pupuk alami adalah mengembalikan keragaman mikroorganisme tanah yang telah berkurang akibat dari penggunaan bahan kimia dalam kurun waktu yang lama, sehingga kesuburan tanah akan semakin meningkat tanpa bergantung pada pupuk kimia. 

 

"Kita tidak hanya berorientasi pada hasil panen yang berlimpah, tetapi juga bagaimana menghasilkan panen yang baik tanpa harus merusak lingkungan," katanya.

 

Disampaikan, untuk meningkatkan kapasitas petani di Banyumas, pihaknya menggelar pelatihan yang diikuti oleh 30 kader penggerak pertanian selama sehari di Joglo Qoryah Barokah Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas pekan lalu. 

 

"Pada pelatihan tersebut peserta dilatih kiat sukses melakukan pertanian alami dan praktek pengembangannya. Sehari tidaklah cukup untuk belajar pertanian alami," ujarnya.  

 

"Butuh waktu dan kesabaran yang panjang untuk mempelajarinya. Untuk itu LPPNU Banyumas sudah menyiapkan program berjenjang untuk fokus pada pengembangan pertanian alami. Tidak cuma itu, di sektor peternakan dan perikanan juga menjadi fokus garapan," sambungnya. 

 

Kontributor: Kifayatul Ahyar
Editor: Abdul Muiz
 

BNI Mobile