Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Mengenang H Saefullah, dari Bedah Rumah hingga Membentuk Kampung NU

Mengenang H Saefullah, dari Bedah Rumah hingga Membentuk Kampung NU
Almarhum H Saefullah. (Foto: dok. istimewa)
Almarhum H Saefullah. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi DKI Jakarta H Saefullah, wafat pada Rabu (16/9) setelah menjalani dua hari perawatan dan isolasi karena Covid-19 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.


Semasa hidupnya, H Saefullah telah meninggalkan banyak jasa dan peninggalan berharga, khususnya kontribusi nyata yang diberikan untuk masyarakat dan warga NU di Jakarta.


Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta KH Syamsul Ma’arif mengungkapkan bahwa H Saefullah pernah berpesan agar ketika wafat sedang berada dalam keadaan mengurusi NU. Hal itu supaya almarhum bisa terus didoakan oleh banyak orang.


Untuk internal organisasi, misalnya, H Saefullah telah berjasa dalam mendirikan Kantor PWNU DKI Jakarta di Jalan Utan Kayu Raya, Jakarta Timur. Hal tersebut dinilai bermanfaat bagi keberlangsungan organisasi PWNU DKI Jakarta.


Selain itu, almarhum juga merupakan sosok yang sangat peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kiai Syamsul menyebut, H Saefullah mencanangkan program bedah rumah yang telah berjalan sekitar dua tahun belakangan. Selama ini, terdapat sekira enam rumah yang sudah dibedah.


“Tapi karena ada pandemi, program tersebut berhenti. Program ini luar biasa menurut saya yang tidak dilakukan oleh PWNU lain di Indonesia,” jelas Kiai Syamsul kepada NU Online, Kamis (17/9) siang.


Tak hanya itu, H Saefullah juga mencanangkan program-program kebencanaan. Lembaga Penanggulanan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU DKI Jakarta pun diperkuat, sehingga ada agenda pengadaan mobil keliling untuk masak cepat saji saat ada bencana.


“Itu sudah masuk ke dalam rencana program PWNU DKI Jakarta tapi belum terlaksana. Impian beliau NU itu agar bisa lebih dekat dan dirasakan manfaatnya dengan masyarakat,” katanya.


Jadi, nilai-nilai sosial-kemanusiaan dan kepedulian terhadap masyarakat di Jakarta selalu diprioritaskan oleh H Saefullah sebagai Ketua PWNU DKI Jakarta. Di tengah kesibukannya sebagai birokrat, almarhum tetap memantau perkembangan kader NU di Jakarta.


“Seluruh kegiatan di PWNU itu selalu dipantau beliau, sekalipun dalam keadaan sibuk,” kata Kiai Syamsul.


“Beliau itu orangnya sangat disiplin yang tidak pernah meninggalkan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan. Termasuk izin cuti pun tidak pernah. Beliau pekerja keras,” tambahnya.


Ia berharap, sosok H Saefullah yang sangat mengedepankan nilai sosial-kemanusiaan dan peduli terhadap masyarakat itu dapat diteruskan oleh kader dan warga NU di Jakarta. 


“Kami ingin menjadikan beliau teladan dan kami akan meneruskan program-program yang belum terlaksana,” katanya.


Sementara itu, peninggalan dan kontribusi berharga H Saefullah pun diperkuat juga oleh keterangan yang diberikan Sekretaris PWNU DKI Jakarta H Muallif ZA. Menurutnya, jasa H Saefullah semasa memimpin NU Jakarta sangat tak terhingga. Salah satunya adalah berbagi kambing saat Idul Adha.


“Ketika Idul Adha itu, masing-masing pengurus ranting diberikan satu ekor kambing dan setiap pengurus cabang diberikan seekor sapi untuk dikurbankan. Program ini sampai sekarang masih berjalan,” katanya. 


Ia menambahkan, saat Ramadhan, PWNU berkolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta melakukan kunjungan-kunjungan ke tingkat cabang hingga ke ranting, dengan memberikan bantuan sembako, santunan anak yatim, dan bantuan-bantuan ke setiap masjid.


“Kemudian ada program bedah rumah. Bahkan di daerah Halim, Jakarta Timur, oleh LPBINU dibuat Kampung NU. Ada beberapa kegiatan-kegiatan yang berkelanjutan sampai sekarang. Seperti pelatihan daur ulang sampah, pelatihan tanggap bencana, ada juga taklim-taklim,” jelas Muallif.


Kemudian, ada beberapa program yang dicanangkan almarhum tetapi belum terwujud karena pandemi Covid-19. Program itu adalah santunan kepada guru-guru ngaji, ustadz, dan ustadzah yang selama ini berkegiatan dan terhenti karena ada musibah pandemi ini. 


“Lalu ada program yang belum terwujud itu adalah Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang mestinya sampai ke tingkat ranting. Tapi karena ada Covid-19, maka disederhakan menjadi setiap cabang hanya satu kegiatan saja dan peserta pun dibatasi,” jelas Muallif.


Selain itu, ia menyebut bahwa H Saefullah merupakan sosok yang peduli terhadap pengurus NU se-DKI Jakarta. Almarhum pernah memikirkan agar bagaimana seluruh pengurus cabang NU di Jakarta memiliki kantor sendiri. 


“Tinggal nanti kita bagaimana supaya bisa mewujudkan impian beliau itu, agar cabang NU di Jakarta bisa punya kantor sendiri dan bisa mandiri. Itu yang belum terwujud,” katanya.


Lebih lanjut, Ketua Satgas NU DKI Peduli Covid-19 ini berpesan kepada seluruh warga NU, terutama tokoh masyarakat, agar bisa ikut melakukan sosialisasi program pemerintah yakni protokol kesehatan.


“Jadi disosialisasikan kepada masyarakat agar selalu pakai masker, sering cuci tangan, dan jaga jarak,” imbaunya.


Kemudian, karena ada banyak pihak yang kerap menebarkan berita bohong di tengah pandemi ini, ia berharap kepada warga NU DKI Jakarta harus bisa memberikan penjelasan dan meluruskan, sehingga kabar tersebut bisa terarah.


“Dan yang paling utama menjadi kondusif sehingga keresahan di tengah kehidupan masyarakat, bisa kita minimalisasi. Mudah-mudahan kader NU dengan wawasan yang bagus, insyaallah bisa bermitra dengan pemerintah untuk menghadapi Covid-19 ini,” pungkasnya. 


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online