Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Rais PBNU: Peringati Kelahiran Nabi Harus Gembira

Rais PBNU: Peringati Kelahiran Nabi Harus Gembira
Rais PBNU, KH Subkhan Ma'mun (dua dari kiri) (Foto: NU Online/Wasdiun)
Rais PBNU, KH Subkhan Ma'mun (dua dari kiri) (Foto: NU Online/Wasdiun)

Brebes, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Subkhan Makmun mengajak kepada umat Islam untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan gembira. 

 

"Jangan sampai bersedih hati, menyesali, apalagi sampai mencaci maki dengan adanya peringatan kelahiran Nabi SAW," ujarnya kepada NU Online saat silaturahmi di kediamannya, kompleks Pesantren Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Selasa (22/9).

 

Disampaikan, ada berbagai cara yang digelar masyarakat Indonesia untuk membuat semarak peringatan maulid, sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat setempat. Seperti Meuripee, tradisi patungan warga Banda Aceh, Masyarakat di Desa Lamglumpang, Banda Aceh, merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan memasak bersama. 

 

"Ada juga model Grebek Maulid, tradisi Kesultanan Yogyakarta. Masyarakat berdesakan berusaha mengambil gunungan yang dikeluarkan Keraton di halaman Masjid Besar Kauman, Yogyakarta," ungkapnya. 

 

Dikatakan, ada juga peringatan maulid dengan Sebar Udikan, tradisi masyarakat Madiun, Warga Dusun Sukarejo, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Madiun, merayakan maulid nabi dengan cara menyebar uang koin yang diwariskan dari nenek moyang. 

 

"Di Mojokerto, Jawa Timur ada Keresan, masyarakat memperingati maulid nabi dengan melakukan keresan, yaitu mengambil hadiah. Ratusan hadiah diikat dengan tali rafia pada ranting dua pohon kersen (keres dalam bahasa Jawa). Hadiah yang disediakan mulai pakaian, topi, sandal, sepatu, hingga buah-buahan," tuturnya.

 

Ada pula lanjutnya, Festival Endhog-endhogan, ada di masyarakat Banyuwangi dengan mengarak ratusan telur yang ditancapkan pada jodang pohon pisang dan ancak (wadah berisi nasi dan lauk pauk). Maulid Nabi di Karst Rammang-rammang, Maros, Sulawesi Selatan, dilakukan dengan cara mengarak ratusan paket makanan menggunakan lebih dari 50 unit perahu. 

 

"Untuk itu, Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H Pondok Pesantren Assalafiyah akan dibuat berbeda dengan tahun sebelumnya dengan tajuk Ger-geran (Saling Bergembira ria) di hari maulid, berupa penyajian berbagai kegiatan untuk membuat masyarat tampak gembira ger-geran," ucap Kiai Subkhan. 

 

Ditambahkan, biasanya acara Maulid Nabi hanya pengajian umum dan sehari saja, namun peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Assalafiyah akan berlasngsung selama 10 hari (9-18/10). 

 

Agendanya antara lain pasar malam dan hiburan rakyat diisi masyarakat Luwungragi dan sekitarnya dengan menjajakan produk jualannya. Baik makanan ringan, minuman, martabak bakso, dan lain-lain di sepanjang Jalan Sabilulhuda. 

 

"Di peringatan maulid 1442 H juga digelar produk UMKM Brebes, lomba hadrah, dan pentas wayang santri Ki Haryo Enthus Susmono dan diiringi group balasyik gambus," paparnya.

 

Gelar produk UMKM melibatkan unsur Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, Santri Assalafiyah dan UMKM binaan Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan, serta Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Brebes. 

 

“Yang membedakan, nanti ada Kirab Budaya dari Alun-alun Brebes hingga Pondok Pesanteren Assalafiyah Luwungragi sejauh lebih kurang tiga kilometer,” pungkas Kiai Subkhan. 

 

Kontributor: Wasdiun
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile