Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
KONBES NU 2020

Rais ‘Aam PBNU Ungkap Hikmah Pandemi dalam Pidato Iftitah Konbes NU 2020

Rais ‘Aam PBNU Ungkap Hikmah Pandemi dalam Pidato Iftitah Konbes NU 2020
Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan pidato iftitah dalam Konbes NU 2020, Rabu (23/9) yang diselenggarakan secara daring. (Foto: NU Online/Suwitno)
Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan pidato iftitah dalam Konbes NU 2020, Rabu (23/9) yang diselenggarakan secara daring. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari enam bulan dan menjangkit lebih dari 200 ribu penduduk Indonesia. Meskipun demikian, hal tersebut tidak boleh menghentikan laju roda organisasi. Karenanya, Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2020 digelar secara virtual.


“Pelaksanaan Konbes kita pun melakukan dengan melihat kemaslahatan ammah untuk umat. Roda organisasi jangan berhenti,” kata Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar dalam pidato iftitahnya di Konbes NU 2020 pada Rabu (23/9).


Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftah menguraikan berbagai hikmah mengenai adanya pandemi ini. Pertama, Allah mengingatkan tentang kekuasaan-Nya yang begitu luas. Jangankan mengenai virus Corona, soal virus secara umum saja belum pasti diketahui secara merinci.

 

Hal demikian, katanya menjadi bukti bahwa pengetahuan manusia sangat sedikit, tidak lebih dari satu tetes di tengah lautan pengetahuan dan kuasa-Nya.


Kedua, adanya pandemi memberikan kesempatan bagi manusia untuk muhasabah diri, bahwa kita adalah makhluk yang lemah. “Setinggi apapun pengetahuan ilmuwan, sekuat apapun usaha medis, setiap hari masih ada baru dan kasus kematian baru,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah, Surabaya itu.


Virus, lanjutnya, membuat kita sadar betapa kuatnya kita memberi manfaat pada orang lain, tapi sering kali tak sadar apa yang terjadi pada diri sendiri.

 

“Kita makhluk yang lemah, namun jangan menyerah menjadi hamba yang kuat dalam beribadah dan meramaikan kewajiban terhadap sesama kita,” tegas Kiai Miftah.


Di samping itu, virus tersebut juga memberikan momen muhasabah level keimanan manusia kepada Allah. Pandemi ini, katanya, menjadi tamparan bagi kita yang masih memiliki kedudukan hati terhadap dunia.

 

“Bagaimana keberadaan musibah dan cobaan pengingat kita akan segera mati, di manapun kapanpun. Tapi yang menjadi masalah adalah mati dalam kondisi apa,” ujarnya.


Keberadaan pandemi ini, menurutnya, efektif menguji kesiapan menghadapi musibah dan mempersiapkan kematian. Kadar keduanya ditentukan berapa besar iman kepada Allah dan memandang ketetapan Allah.

 

“Apakah kita memandang bahwa Allah sedang berusaha memuliakan kita atau justru menghinakan kita. Pandangan terbaik adalah prasangka baik kepada Allah,” katanya.


Mengutip sebuah hadis diriwayatkan Abdurrahman bin Lailah dan Syueb, Kiai Miftah menjelaskan bahwa semua urusan sebetulnya baik bagi seorang yang beriman dengan syarat tetap bersyukur di kala tenang dan senang, dan bersabar saat tertimpa kesusahan.

 

“Maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya,” katanya memungkasi kutipan Hadis Riwayat Imam Muslim itu.


Hal lain yang menjadi catatan Kiai Miftah adalah pandemi virus Corona menyatukan ulama untuk berinovasi dalam mengemukakan ijtihad bersama. Sebab, virus tersebut sangat berdampak terhadap umat Islam, seperti shalat harus berjarak, berbalik dari kesunnahannya, dan sebagainya.


“Demi memberikan panduan terbaik bagi umat Islam, ulama diharapkan melahirkan berbagai anjuran atau fatwa yang diciptakan melalui berbagai bahtsul masail dan diskusi dengan kalangan alim ulama dan ilmuwan,” katanya.


Pandemi juga menguji ego diri terhadap kesepakatan dan ketetapan para ulama. Sebab, beragam reaksi yang muncul ketika ulama mengemukakan fatwanya. Ada yang menyatakan tak sepantasnya orang beriman takut virus tersebut sehingga tetap mendatangi masjid, ada juga yang melaknat dan memutus diri dari rahmat Allah, dan ada pula kalangan yang mulai hilang kepercayaannya terhadap ulama.


Kiai Miftah mengingatkan bahwa fatwa dikeluarkan tidak dengan sia-sia. Semua fatwa yang ditetapkan, katanya, bertujuan demi kemaslahatan umat Islam dan anak bangsa. “Walaupun berat, percayalah Allah tidak akan menyia-nyiakan. Suatu saat nanti insyaallah vaksin coronavirus ditemukan dan gambarannya demikian insyaallah semua akan menjadi normal kembali,” katanya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile