Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Katib Aam PBNU Kembali Tampil di Majelis Umum PBB Besok

Katib Aam PBNU Kembali Tampil di Majelis Umum PBB Besok
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat menyampaikan pidato dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9). (Foto: dok. istimewa)
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat menyampaikan pidato dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9). (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Setelah usai menyampaikan presentasi tentang Hak Asasi Manusia (HAM), dengan mengangkat Hasil Bahtsul Masail NU 2019 mengenai larangan penyebutan kafir kepada non-muslim, pada Rabu (23/9) kemarin, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dijadwalkan kembali tampil di dalam perhelatan yang sama, pada Jumat (25/9) besok.


Kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu diminta untuk menyampaikan visi tentang Abrahamic Faiths Initiative (Prakarsa agama-agama Ibrahimiyah). Forum ini diselenggarakan oleh International Religious Freedom or Belief Alliance (Aliansi Internasional untuk Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan). Sebuah aliansi internasional yang berdiri pada 7 Februari 2020.


“Besok saya kembali diminta menyampaikan visi tentang bagaimana Prakarsa Agama-agama Ibrahimiyah dapat menjadi salah satu komponen strategis dalam upaya membangun konsensus global itu," katanya, Kamis (24/9).


Menurut Gus Yahya, prinsip kemerdekaan beragama dan kepercayaan adalah kunci yang dibutuhkan dalam sebuah kesepakatan bersama bagi umat manusia di dunia. Kemudian prinsip tersebut harus dibingkai dengan pemahaman yang jernih, konkret, dan definitif.


“Pemahaman-pemahaman itu terkait dengan nilai-nilai apa saja yang bisa direngkuh bersama sebagai konsensus serta perbedaan-perbedaan yang harus diterima secara toleran,” jelas Gus Yahya.


Ia melanjutkan bertutur, prakarsa agama-agama Ibrahimiyah harus bisa diperluas dengan menjangkau agama-agama dan kepercayaan di luar tradisi Ibrahimiyah. Secara keseluruhan, hal tersebut akan menjadi bingkai strategis untuk memperjuangkan perdamaian dunia.


“Perjuangan perdamaian dunia itu tentu melalui pendekatan keagamaan,” tutur kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah ini.


Pada forum besok, Katib Aam PBNU ini akan disandingkan dengan sejumlah pembicara lain. Beberapa di antaranya adalah Duta Besar Keliling Amerika Serikat untuk Kemerdekaan Beragama Internasional Samuel D. Brownback, Menteri Luar Negeri Republik Estonia Urmas Reinsalu, Wakil Ketua Aliansi Internasional untuk Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan (IRFBA) Nadya Tabbara, dan Duta Besar Republik Polandia untuk PBB Joanna Wronecka. 


Sebagai tambahan informasi, International Religious Freedom or Belief Alliance yang menjadi penyelenggara pada forum di Majelis PBB, Jumat (25/9) besok beranggotakan 27 negara di dunia.


Seluruh anggota di dalamnya berkomitmen kepada kebijakan-kebijakan untuk menjamin kemerdekaan beragama dan berkepercayaan. Beberapa negara yang terlibat sebagai anggota adalah Albania, Bosnia serta Herzegovina, Belanda, Republik Ceko, Inggris, Brasil, dan Colombia.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile