Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Humor Kiai: KH Wahab Chasbullah soal ‘Talafuz Binniyah’

Humor Kiai: KH Wahab Chasbullah soal ‘Talafuz Binniyah’
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: dok. NU Online)
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: dok. NU Online)

Di era Kabinet Hatta pada 1948, umat Islam yang tergabung dalam Masyumi diajak untuk bergabung dalam kabinet. Dalam wadah yang berisi sejumlah ormas Islam tersebut, Raden Hajid dari Muhammadiyah seketika menolak ajakan tersebut karena Kabinet Hatta ikut menyetujui Perjanjian Renville.


Nahdlatul Ulama (NU) sedari awal menolak hasil Perjanjian Renville karena banyak merugikan rakyat Indonesia. Namun demikian, bukan berarti NU menolak ajakan Bung Hatta untuk bergabung di dalam kabinet.


Di situlah perdebatan muncul, terutama antara KH Wahab Chasbullah dan Raden Hajid. Kiai Wahab dengan kekuatan karakter, wawasan, dan kemandiriannya menegaskan, bagaimana mungkin umat Islam dapat meluruskan pemerintah soal Perjanjian Renville jika menolak bergabung di kabinet.


“Saya usulkan agar kita menerima tawaran Bung Hatta,” ujar Kiai Wahab dengan suara cukup lantang.

 

“Tapi orang-orang kita yang duduk dalam kabinet itu atas nama pribadi sebagai warga negara yang loyal kepada negara. Jadi yang duduk di kabinet itu bukan Masyumi sebagai partai yang tegas-tegas menentang Persetujuan Renville dan Persetujuan Linggarjati!”


“Loh, alasannya apa kita duduk dalam kabinet yang akan melaksanakan Renville padahal sejak semula kita menolak Renville? Apa ini tidak melakukan perbuatan mungkar?” kata Raden Hajid tidak kalah lantangnya.


“Kita tidak hendak melaksanakan perkara mungkar, bahkan sebaliknya, kita hendak melenyapkan mungkar,” tutur Kiai Wahab merespons reaksi Raden Hajid.


Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab.


“Tetapi kenapa dulu kita menolak Renville, lalu kini hendak melaksanakannya?” ujar Raden Hajid kembali mempertanyakan.


“Sejak pertama kita menentang Persetujuan Renville, sekarang dan seterusnya pun kita tetap menentangnya. Tapi cara penentangan kita dengan falyughoyyirhu biyadih dengan perbuatan jika kita bisa duduk dalam kabinet. Sejak semula kita mencegah orang membakar rumah kita. Setelah rumah terbakar, apakah kita cuma duduk berpangku tangan?” kata Kiai Wahab merumuskan analogi.


Akhirnya, Raden Hajid bisa menerima usulan dan pendapat Kiai Wahab dengan menyampaikan agar kelak anggota DPP Masyumi yang diangkat menjadi menteri di Kabinet Hatta supaya mengikrarkan janji, tidak cukup hanya berniat dalam hati untuk terus berkomitmen menolak Perjanjian Renville.


Terkait niat ini, Kiai Wahab menjelaskan salah satu Hadits Nabi SAW yang menyebutkan, “Ista’inu  ‘ala injaahil hawaiji bil kitmaan...” (HR Imam Thabrani dan Baihaqi). Artinya, 'Mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya'. Sebab itu cukup dengan niat dalam hati,” jelas Kiai Wahab.


“Tapi niat mereka harus dinyatakan agar saudara-saudara yang bakal menjadi menteri itu berjanji di hadapan kita, tidak cukup dinyatakan dalam hati,” tanggap Raden Hajid.


“Ooh...jadi saudara menghendaki niat itu diucapkan?” Kiai Wahab mengulurkan pancingan.


“Ya, supaya disaksikan kita-kita ini,” ujar Hajid tegas.


“Mana bisa niat harus diucapkan...? Mana haditsnya tentang talafuz binniyah...(melafazkan niat atau mengucapkan niat)?” seloroh Kiai Wahab.


Geeeeeerrrrr....” hadirin di forum yang tadinya sempat tegang menjadi cair dengan candaan Kiai Wahab kepada Raden Hajid yang Muhammadiyah itu. (Fathoni)

 

 

Sumber: buku “Berangkat dari Pesantren” (KH Saifuddin Zuhri, LKiS, 2013)

BNI Mobile