Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Melihat Aktivitas Masjid NU di Jepang di Tengah Wabah Corona

Melihat Aktivitas Masjid NU di Jepang di Tengah Wabah Corona
Suasana ibadah shalat warga NU di masjid di Jepang. (Foto: Istimewa)
Suasana ibadah shalat warga NU di masjid di Jepang. (Foto: Istimewa)

Tokyo, NU Online 
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang mempunyai dua masjid, yaitu Al-Ikhlas di Kabukicho Shinjuku dan Nusantara di Akihabara. Keduanya sama-sama berada di Tokyo. Kabukicho Shinjuku adalah pusat hiburan malam terbesar di Tokyo, sedangkan Akihabara adalah pusat elektronik.

 

Ketua NU Care-LAZISNU Jepang, Muhammad Anwar, menceritakan jarak antara kedua masjid itu hanya  7,3 kilometer, atau sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan kereta commuter. Sedangkan dari Tokyo ke masjid Nusantara memakan waktu 15 menit dengan moda tranportasi yang sama

 

Kedua masjid itu bukan permanen milik NU. Namun, hanya disewa oleh Pengurus Cabang Istimewa Lembaga Amil Zakat, Infak, Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jepang untuk jangka waktu sekian tahun. Masjid Al-Ikhlas asalnya adalah bangunan pertokoan tiga lantai. Masing-masing lantai ukurannya hanya 4 x 4 meter persegi. Kapasitasnya hanya untuk 50 jamaah.

 

Sedangkan Masjid Nusantara asalnya adalah gedung perkantoran setinggi lima lantai. Jamaah masjid Nusantara menempati lantai 5, kapasitanya 90 orang. Namun, belakangan lantai 4 juga disewa oleh LAZISNU Jepang atas sponsor sebuah perusahaan jasa pengiriman uang.

 

"Kenapa kami pakai sponsor untuk menyewa itu, karena sejak ada  Corona, pemasukan masjid dari kotak amal berkurang jauh," ujarnya, Jumat (25/9).

 

Saat virus Corona menghunjam Jepang, kedua masjid itu ditutup. Namun sejak lima bulan lalu Masjid Nusantara sudah dibuka kembali untuk kegiatan ibadah dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara Masjid Al-Ikhlas masih ditutup karena daerah Kabukicho Shinjuku masih berstatus zona merah. 

 

Menurut pria kelahiran Jakarta itu, semangat  beragama Pekerja  Migrant Indonesia (PMI) di Jepang cukup besar. Terbukti sabelum virus corona menghantam Jepang, Masjid Nusantara yang berkapasitas 90 orang itu, selalu membludak  saat shalat  Jumat. Namun ketika dibuka lagi, jamaah wajib menjaga jarak jika berkegiatan di masjid tersebut, sehingga jamaah shalat Jumat dibatasi hanya 45 orang.


"Memang dibuka kembali Masjid Nusantara tapi tidak dipublikasikan karena kapasitasnya diperkecil karena jamaah harus physical distancing," jelasnya.

 

Hal yang menarik setelah selesai melaksanakan shalat Jumat, para jamaah makan bersama. Kebiasaan tersebut dimaksudkan sebagai ajang menjalin kebersamaan. Pasalnya, untuk makan bersama sekali seminggu tidak gampang lantaran masing-masing PMI disibukkan dengan pekerjaannya.

 

Selain untuk tempat Shalat Jumat, masjid Nusantara juga dipergunakan buat kegiatan pengajian dan sebagainya. Juga, seringkali dipergunakan untuk tempat ikrar membaca syahadat mualaf. Hingga saat ini sudah 19 mualaf yang membaca syahadat di masjid tersebut.

 

"Dari 19 mualaf itu, 18 adalah warga Jepang, dan satu orang Finlandia," pungkas Muhammad Anwar. 

 

Pewarta:  Aryudi A Razaq

Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile