Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

KH Hafidzi Syarbini dan Kiai Pandji Taufiq Pimpin NU Sumenep

KH Hafidzi Syarbini dan Kiai Pandji Taufiq Pimpin NU Sumenep
Kiai Pandji Taufiq (tengah) terpilih sebagai Ketua PCNU Sumenep. (Foto: NU Online/Habib)
Kiai Pandji Taufiq (tengah) terpilih sebagai Ketua PCNU Sumenep. (Foto: NU Online/Habib)

Sumenep,  NU Online

Konferensi Cabang atau Konfercab Nahdlatul Ulama (NU)  Kabupaten Sumenep, Jawa Timur yang dipusatkan di Pesantren Nasy'atul Muta'allimin,  Gapura telah usai. Permusyawaratan tertinggi tersebut berakhir tepat pada pukul 01.40 WIB, Senin (28/9) dini hari.

 

Sidang pleno yang dipimpin KH Ahsanul Haq dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU)  Jawa Timur memutuskan KH Hafidzi Syarbini sebagai Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep masa khidmah 2020-2025. Sedangkan KH A Pandji Taufiq kembali dipercaya sebagai Ketua PCNU Sumenep untuk periode ketiga.

 

Kiai Pandji, sapaannya, terpilih secara aklamasi setelah KH A Busyro Karim gagal lolos karena memiliki jabatan politik, yakni Bupati Sumenep.

 

Kendati Kiai Busyro suaranya lebih 75 suara sebagai prasayarat untuk lolos ke tahap pemilihan selanjutnya, namun gagal karena tersandung jabatan politik yang disandangnya.

 

Karena pada sidang pleno tata tertib yang dilaksanakan siang sebelumnya, telah disepakati dan diputuskan bahwa calon ketua di lingkungan NU tidak boleh rangkap jabatan, apalagi dengan jabatan politik.

 

KH Ahsanul Haq dalam sidang tersebut menjelaskan, bahwa jabatan politik yang dimaksud meliputi presiden, wakil presiden, gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati. Juga wali kota, wakil wali kota, menteri, DPR dan DPD.

 

"Karena Kiai Busyro saat ini masih tercatat aktif sebagai Bupati Sumenep, maka dengan demikian ia tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Dan Kiai Pandji diputuskan terpilih secara aklamasi," tegas Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut.

 

Dalam sidang pleno pemilihan ketua ini sedikitnya ada 314 suara yang berhak melakukan pemilihan. Dengan rincian, 24 suara untuk Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), dan sisanya perwakilan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) yang tersebar se-Kabupaten Sumenep. Namun demikian, hanya ada 305 perwakilan yang menggunakan hak suara, sedang 9 perwakilan lain memilih absen.

 

Sebelum membacakan surat pernyataan, terlebih dahulu Kiai Pandji menyampaikan beberapa hal. Bahwa sejatinya sudah tidak bersedia untuk dicalonkan lagi menjadi Ketua PCNU Sumenep mengingat sudah mulai tua. Ia justru banyak berharap kepada kader Nahdliyin yang lebih muda.

 

"Namun, melihat fenomena yang tidak biasa belakangan ini, saya siap. Ini demi NU, tidak demi yang lain. Bismillah,  saya siap mengemban amanah ini," ujarnya disambut pekikan shalawat dan tepuk tangan hadirin.

 

Dalam surat pernyataan, kiai asal Guluk-guluk ini menegaskan bahwa siap berpegang teguh pada qanun asasi, Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) dan Peraturan Organisasi (PO) Nahdlatul Ulama.

 

Selain itu, dirinya juga tidak akan melibatkan diri baik secara langsung maupun tidak langsung dalam jabatan politik praktis. Baik legislatif maupun eksekutif, sebagaimana diatur dalam AD/ART dan PO Nahdlatul Ulama.

 

"Apabila di kemudian hari saya melanggar salah satu dari pernyataan tersebut, saya bersedia mengundurkan diri atau diberhentikan dari jabatan Ketua PCNU Sumenep masa khidmah 2020-2025," tegasnya.

 

Kiai Hafidzi Syarbini sebagai Rais

Sementara itu, sebelum dilakukan pemilihan Ketua PCNU Sumenep, terlebih dahulu dilakukan penentuan tim Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Mereka melakukan musyawarah dan menunjuk Rais PCNU Sumenep masa khidmah 2020-2025.

 

Kiai Ahsanul Haq sebagai pimpinan sidang yang didampingi H Rasyidi sebagai sekretaris membacakan hasil tabulasi usulan dari perwakilan MWCNU dan PRNU untuk dipilih sebagai tim AHWA.

 

Lima suara tertinggi dalam tabulasi AHWA ini meliputi, KH Hafidzi Syarbini 269 suara, KH Ramdhan Siraj dengan 202 suara; KH Thoifur Ali Wafa sebanyak 145 suara, KH Abd A'la Basyir 79 suara dan KH Amiruddin Jazuli dengan 77 suara.

 

Namun, karena nama kedua hingga ketiga tidak hadir, maka sebagaimana aturan yang telah ditetapkan pada Muktamar NU di Jombang 2015 lalu, suara terbanyak yang ada di bawahnya naik menggantikan posisi yang tidak hadir.

Akhirnya pimpinan sidang memutuskan KH Taufiqurrahman FM, K Munif Zubairi, dan KH A Pandji Taufiq untuk menggantikan nama yang tidak hadir.

 

Sebagaimana laporan panitia kepada media ini, proses tabulasi disaksikan sebagian perwakilan MWCNU, meliputi KH Abdus Shabar (Lenteng), KH Murtadi Fadhail (Gapura), KH Ach Nawawi (Pragaan), K Ahmad Bahrudin Ihsan (Pragaan), dan K Warri (Bluto).

 

Kelima anggota AHWA yang dikoordinatori KH Amiruddin Jazuli kemudian memutuskan dan menunjuk KH Hafidzi Syarbini untuk menjadi Rais PCNU Sumenep masa khidmah 2020-2025.

 

Sementara itu, Kiai Hafidzi dalam pernyataan di hadapan forum rapat pleno menyatakan siap menjalankan amanat yang dipercayakan kepadanya sebagai rais. Juga bersedia menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan Peraturan Organisasi (PO) .

 

”Dengan penuh kesadaran dan memohon pertolongan Allah, saya bersedia menjalankan kepercayaan jamiyah yang diamanatkan dalam konferensi,” ucapnya.

 

Kontributor: A Habiburrahman

Editor: Ibnu Nawawi 

BNI Mobile