Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Para Santri Terpapar Covid-19 di Jombang Berangsur Sembuh

Para Santri Terpapar Covid-19 di Jombang Berangsur Sembuh
Ilustrasi: Santri
Ilustrasi: Santri

Jombang, NU Online
Kondisi para santri yang terkena Covid-19 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur terus membaik. Dari sekitar 61 santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan diisolasi di Apartemen Mahasiswa (Aparma) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan, Jombang sejak akhir September, kini tersisa kurang lebih 18 santri.
 

"Jumlah santri update terakhir tinggal 18 santri," kata Penanggung Jawab Aparma Unipdu, dr HM Zulfikar As'ad kepada NU Online, Rabu (7/10).


Dari semua santri tersebut, sebagian dijemput orang tuanya untuk diisolasi mandiri di rumahnya. Sementara sebagian lainnya sudah dinyatakan sembuh oleh petugas kesehatan dan kembali ke pondoknya masing-masing.


"Ada yang pulang ke asrama dan sebagian pulang ke rumahnya. Dan yang kembali ke asrama kita pastikan mereka sudah tanpa gejala," jelasnya.


Pria yang kerap disapa Gus Ufiq ini menjelaskan, selama diisolasi di Aparma, para santri diperlakukan dengan sangat baik sebagaimana pasien Covid-19 pada umumnya. Bahkan setiap hari para petugas kesehatan melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi santri.


"Dokter kita secara intens memberikan kontrol kepada yang tinggal di Aparma," ucapnya.


Ketua Asosiasi Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (Arsinu) ini mengajak kepada segenap pengelola pesantren agar membiasakan pola hidup sehat dan bersih kepada santrinya. Di samping itu, baik pengasuh maupun pengurus pesantren harus selalu memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sebagaimana yang dikeluarkan pemerintah di lingkungan pesantren.


"Tetap menetapkan 3 M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Baiknya itu menjadi yang utama untuk kita semuanya," ujarnya.


Menurutnya, upaya preventif terhadap Covid-19 hendaknya dimulai dari masing-masing individu. Ini tentu memerlukan kesadaran yang tinggi dari masyarakat. Karena naiknya angka pasien terkonfirmasi Covid-19 sebagian besar disebabkan sikap tak acuh atau meremehkan keberadaan Covid-19.


"Anggapan bahwa garda terdepan Covid-19 adalah dokter atau tenaga medis itu keliru, yang benar garda terdepan yang sesungguhnya adalah kita sendiri," pungkasnya.


Pewarta: Syamsul Arifin
Editor: Muhammad Faizin

BNI Mobile