Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Innalillahi, Mustasyar PCNU Surakarta KH Abdullah Asyari Wafat

Innalillahi, Mustasyar PCNU Surakarta KH Abdullah Asyari Wafat
Almarhum KH Abdullah Asy'ari (Foto: Istimewa)
Almarhum KH Abdullah Asy'ari (Foto: Istimewa)

Surakarta, NU Online

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun, Warga NU Soloraya kembali kehilangan ulama sepuh. Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta, KH Abdullah Asy’ari (Mbah Dullah) wafat, Selasa (13/10). 

 

Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta KH Shofwan Fauzi mengenang pribadi Mbah Dullah yang wafat di usia 72 tahun, sebagai tokoh penggerak dakwah yang konsisten.

 

"Almarhum Kiai Abdullah Asy’ari pribadi istiqamah mengajar kitab Tafsir Jalalain setiap Ahad pagi di kantor PCNU Surakarta, khususnya di bulan Ramadhan. Semoga beliau husnul khatimah min ahlil jannah. Amin," tutur Kiai Shofwan.

 

Salah satu muridnya Faridah Budi Astuti, yang kini menjadi pengajar di SMA Al-Muayyad, mengenang sosok gurunya tersebut sebagai tipe guru penutur yang mengajar dengan ikhlas. Murid yang berkelakuan seperti apapun di kelas beliau, tak akan mengecilkan semangat mengajarnya. Tak mengeluh dan tetap mengajar dengan tekun.

 

“Bersepeda ke manapun bepergian, bukan karena tak mampu membeli mobil. Mengajar mengaji dari satu majelis ke majelis lain, untuk menyampaikan ilmu dan menjalankan misinya dalam berdakwah. Beliau bahkan mendirikan sendiri Pesantren Darussholihin,” terang Faridah.

 

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, Muhammad Ishom mengenal pribadi Kiai Dullah yang merupakan putra salah satu perintis NU Surakarta, Kiai Asy’ari, sebagai sosok kiai yang sangat tawadhu, sabar, alim, dan shalih. 

 

"Terbiasa mendahului beruluk salam dan jabat tangan/salaman kepada siapa saja, termasuk kepada murid-muridnya sendiri. Selalu siap ketika dimohon mentalqin jenazah," ucapnya.

 

 

Disampaikan, kalau memberi ceramah kultum misalnya, selalu tematik sehingga materi jelas, detail dan tidak 'nglantur' ke mana-mana. Kalau jadi imam shalat, selalu ada jeda setelah selesai membaca al-Fatihah dan 'Amin' untuk memberi waktu yang cukup kepada makmum untuk membaca al-Fatihahnya sendiri sebelum beliau membaca surat yang disunnahkan dalam shalat.  

 

"Ini sesuai dengan adab menjadi imam shalat,” terang Ishom.

 

Jenazah Kiai Dullah dimakamkan di Kompleks Pemakaman Pesantren Ta’mirul Islam Tegalsari Laweyan Surakarta. Lahul fatihah.

 

Kontributor: Ajie Najmuddin
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile