Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Perlu Keberanian Pengambil Kebijakan untuk Awali Pembelajaran Tatap Muka

Perlu Keberanian Pengambil Kebijakan untuk Awali Pembelajaran Tatap Muka
Kendala teknis seperti tidak ada sinyal, tidak ada kuota sering menjadi alasan sehingga pembelajaran tidak efektif.
Kendala teknis seperti tidak ada sinyal, tidak ada kuota sering menjadi alasan sehingga pembelajaran tidak efektif.

Pringsewu, NU Online
Kondisi pandemi Covid-19 yang belum tahu kapan akan berakhir menuntut semua pihak untuk berani mengambil keputusan dengan mengawali kegiatan pembelajaran tatap muka sesuai protokol kesehatan. Saat ini, di era new normal, sudah mulai terasa kejenuhan dialami dan dirasakan peserta didik serta guru dengan sistem pembelajaran secara online.

 

"Perlu keberanian dari pengambil kebijakan di daerah-daerah zona kuning untuk memutuskan pembelajaran tatap muka. Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan," kata Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu, Suwarno kepada NU Online, Rabu (14/10).

 

Pembelajaran online, di samping tidak maksimal dalam mengajarkan aspek afektif, juga sangat terbatas bagi inovasi guru dalam mendidik. Guru tidak bisa mengawasi langsung sikap, kedisiplinan, akhlak, dan perilaku peserta didik sehingga dikhawatirkan akan memunculkan generasi yang tidak memiliki akhlakul karimah.

 

"Secara teori memang guru bisa memberikan banyak materi melalui mudahnya mengakses teknologi. Tapi apa mungkin anak didik dijejali terus dengan materi dan tugas? Fungsi guru sebagai pendidik harus kembali dimaksimalkan," tegasnya.

 

Sekarang ini juga pihaknya sering mendapat keluhan dari para guru tentang terbatasnya pembelajaran secara online. Kendala teknis seperti tidak ada sinyal, tidak ada kuota, dan sejenisnya sering menjadi alasan sehingga pembelajaran tidak efektif. Dan, menurutnya dalam pembelajaran online, guru juga lebih banyak memberikan tugas daripada menjelaskan materi.

 

"Kita bisa bayangkan, bagaimana siswa tidak stres kalau setiap guru memberikan tugas setiap pertemuan. Sehingga pada titik jenuhnya mereka akan apatis alias tak peduli dengan tugas yang diberikan melalui E-Learning," ungkapnya.

 

Faktanya juga ungkap Suwarno, saat ini aktivitas pelajar berinteraksi dengan teman sebayanya sudah mulai terlihat di luar pembelajaran di sekolah. "Anak-anak sudah sering kita lihat banyak yang berkumpul-kumpul sambil mainan HP bersama-sama di tempat yang ada wifi-nya. Waktu yang harusnya mereka belajar online malah dihabiskan untuk main game atau bersepeda bersama temannya. Harusnya kejenuhan ini harus disikapi oleh pengambil kebijakan," ujarnya.

 

Daripada mereka tidak maksimal dalam belajar, berkumpul-kumpul dengan teman sebaya dengan tidak menggunakan menerapkan protokol kesehatan, kata dia, alangkah lebih baiknya diterapkan sekalian pertemuan tatap muka agar mereka mendapatkan pendidikan yang lebih terjamin.

 

Keresahan orang tua

Bukan hanya pihak pendidik yang merasa bahwa pembelajaran online tidak bisa maksimal. Para orang tua pun merasa bahwa pembelajaran online dinilai membebani mereka dan anak-anak mereka. Pengawasan dan penanaman kedisiplinan anak-anak menjadi tugas berat para orang tua dalam sistem pembelajaran seperti ini.

 

"Anak-anak pingin-nya belajar tatap muka lagi seperti dulu. Saya pun tidak bisa mengawasi anak seratus persen saat pembelajaran online di rumah," kata Rahma, seorang warga di Pringsewu.

 

Sekarang, menurut Rahma, anak-anak malah lebih semangat berangkat mengaji di TPA karena banyak teman-temannya. 

 

Kondisi tidak maksimalnya pembelajaran online, kejenuhan siswa, dan keresahan orang tua ini menurut Wakil Ketua PCNU Pringsewu H Munawir harus segera direspon oleh pemerintah. Jangan sampai pemerintah membatasi pembelajaran tatap muka untuk menghindari berkumpulnya para siswa, tapi pada faktanya mereka malah memiliki perkumpulan sendiri yang di situ tidak menerapkan protokol kesehatan.

 

"Jangan sampai kita memiliki lost generation yang secara keilmuan lemah dan juga secara akhlak tidak sesuai dengan nilai-nilai agama karena pembelajaran yang tidak maksimal," katanya.

 

Khususnya di zona kuning dan hijau lanjutnya, ia berharap pemerintah mempersiapkan sarana dan prasana untuk mendukung protokol kesehatan guna mewujudkann pembelajaran tatap muka yang aman, sehat, dan berkualitas.

 

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile