Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARI SANTRI 2020

Meneguhkan Nilai-nilai Sejarah Resolusi Jihad melalui Tangan para Seniman

Meneguhkan Nilai-nilai Sejarah Resolusi Jihad melalui Tangan para Seniman
Salah satu seniman Jombang melukis gambar bersejarah resolusi jihad. (Foto: Istimewa)
Salah satu seniman Jombang melukis gambar bersejarah resolusi jihad. (Foto: Istimewa)
Jombang, NU Online
Semangat menyemarakkan Hari Santri di Kabupaten Jombang, Jawa Timur tidak hanya menggebu di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) dan santri pada umumnya. Namun, panitia penyelenggara juga memberi ruang para seniman untuk ikut andil menuangkan karya seninya melukis tokoh-tokoh penggerak NU dan dokumen atau gambar bersejarah dalam resolusi jihad. 
 
Koordinator kegiatan, Muhammad Akhyak mengatakan, ada sekitar 20 seniman yang ikut melukis berbagai gambar yang memiliki nilai sejarah perjuangan itu. Sementara dipilihnya tokoh NU dan momentum resolusi jihad sebagai objek lukisan adalah semata meneguhkan nilai sejarah heroik santri dan peran NU kepada para generasi muda sekarang.
 
"Kita ingin mengenalkan para kaum muda tentang sejarah resolusi jihad itu seperti apa. Agar para generasi muda Jombang tidak buta akan sejarah perjuangan ulama Jombang," katanya saat diwawancarai di depan pendopo Pemerintah Kabupaten Jombang, Rabu (21/10).
 
Baginya, sejarah berharga, apalagi terkait dengan perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia harus terus didengungkan oleh elemen bangsa saat ini. Tentu dengan cara yang beragam sesuai kemampuannya masing-masing.
 
"Kami berterimakasih kepada panitia yang telah memberikan ruang kepada kami para seniaman lukis untuk memeriahkan Hari Santri tahun 2020 ini," ungkapnya.
 
Bila sejumlah lukisan tersebut disimpulkan secara sederhana, maka tergambar secara berurutan situasi-situasi genting yang mengharuskan para kiai melakukan konsolidasi menyatakan sikap, sehingga muncul resolusi jihad. Kemudian terjadilah peperangan mengusir penjajah dan puncaknya pada 10 November 1945 di Surabaya.
 
Ia menyampaikan, kegiatan semacam ini baru pertama kali di Jombang, bahkan mungkin secara nasional. Sebelum-sebelumnya, lanjut dia, meski ada momentum yang cukup mendukung untuk melakukan kegiatan itu, tetapi belum pernah terealisasi, apalagi dengan fasilitas kanvas berukuran 10x1,5 meter seperti yang dilakukan saat ini.
 
Karenanya, Akhyak berharap, kegiatan seperti ini perlu ditindaklanjuti tidak hanya sebagai acara pertama dan terakhir pada momentum Hari Santri, tetapi pihak pemangku kebijakan perlu membuat sebuah kebijakan untuk mewadahi potensi para seniman agar bisa lebih eksis mewarnai Kabupaten Jombang.
 
"Kami berharap di Kabupaten Jombang ada semacam geleri, sehingga bisa untuk menjadi sebuah wadah karya-karya lukis seniman Jombang bisa memamerkan hasil lukisanya di situ," pungkasnya.
 
Kontributor: Rohmadi
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile