Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Jamaah Istighotsah di Mimika Serahkan Lahan untuk Pesantren Darussalam

Jamaah Istighotsah di Mimika Serahkan Lahan untuk Pesantren Darussalam
Hj Mudrikah dan putranya mewakafkan lahan ke Pondok Pesantren Darussalam Mimika. (Foto: Istimewa)
Hj Mudrikah dan putranya mewakafkan lahan ke Pondok Pesantren Darussalam Mimika. (Foto: Istimewa)
Mimika, NU Online
Santri menjadi salah satu elemen pokok dalam pengembangan pesantren. Tugas santri selain belajar ilmu agama kepada kiai, juga menempa kemandirian dan khidmah kepada masyarakat sekitar. Santri dididik untuk siap terjun ke masyarakat dengan membawa solusi.
 
Salah satu bentuk pembelajaran kemandirian dan khidmah santri adalah membersihkan kawasan pesantren seperti ditunjukkan di Pesantren Darussalam Mimika. Lokasinya di Kampung Karang Senang SP3 dengan pemotongan rumput dan dahan pohon.
 
Kegiatan ini sebagai rangkaian dari penyerahan wakaf dari Hj Mudrikah dan keluarganya kepada Pesantren Darussalam Mimika. Ikrar wakaf ini dilaksanakan pada momen sarat berkah yaitu di hadapan Majelis Nariyahan dan Maulidurrasul yang digelar Sabtu (24/10) lalu. Acara dipusatkan di rumah Hj Mudrikah di Kampung Karang Senang, SP3.
 
Dalam ikarnya, Hj Mudrikah menyatakan bahwa terhitung sejak Sabtu Pon, 7 Rabiul Awwal 1442 H mewakafkan lahan ke Pondok Pesantren Darussalam Mimika. 
 
“Tanah seluas 6.000 m2 di belakang perumahan bupati SP3, alat mesin jahit, Al-Qur'an senilai Rp5 juta, dan komputer beserta printernya," ucapnya di hadapan jamaah Nariyah didampingi putranya, Wahyu Wisnu Kencono Putro.
 
Wakaf ini atas nama keluarga Hj Mudrikah dan keluarga besar almarhum Tumiran Todikromo dan anak-anaknya.
 
Sementara itu, terkait pemanfaatan lahan wakaf, Ketua Pengurus Pesantren Darussalam, Ustaz Sugiarso mengajak jamaah memikirkan strategi memproduktifkan tanah tersebut. 
 
"Bapak dan ibu yang hadir di sini menjadi saksi bahwa ini milik kita dan perlu dipikir cara memproduktifkannya,” katanya saat itu. 
 
Jika di sana airnya layak minum, bisa saja akan dibuatkan usaha air isi ulang dengan mengajak jamaah atau pihak lain untuk investasi, sedekah jariyah, ataupun meminjami.
 
Pada kesempatan tersebut, Ustaz Sugiarso mengajak santri dan warga mempraktikkan Nahdlatut Tujjar sebagaimana dicontohkan KH Abdul Wahab Chasbullah. Hal tersebut apalagi berbarengan dengan peringatan hari santri.
 
"Pesantren perlu sumber penghasilan yang jelas sehingga bisa mandiri dan bisa menggratiskan biaya mondok. Ini juga sekaligus media dan pratik santri untuk berwirausaha,” terangnya kepada media ini, Selasa (27/10). 
 
Dijelaskannya bahwa jika Kotak Infak Nahdlatul Ulama atau Koin NU bisa dioptimalkan, maka pemegang Koin NU bisa menjadi pemilik usaha air isi ulang dengan membeli atau mencicil bulanan ke investor atau ke kreditor.
 
Pada acara ini hadir para santri Pesantren Darusssalam Mimika, Al-Ikhlas SP2, dan grup hadrah Nurul Mustofa Remaja Masjid Istiqlal Kampung Bhintuka SP13. dan remaja masjid lain. 
 
Juga tampak perwakilan jamaah istighotsah Kampung Mwuare, Kampung Kadun Jaya, Kampung Wonosarin Jaya, Jayanti, Koperapoka, Wanagon, Bhintuka dan lainnya.
 
Kegiatan ditutup dengan ceramah maulid dan doa oleh Ustadz Hasyim. Dia menjelaskan tentang keutamaan shalawat. 
 
"Salah satu keutamaan shalawat adalah memanjangkan usia dan wajah berseri. Juga Allah akan mempermudah rejeki, dan mengabulkan hajat kita,” terang Pengasuh Pesantren Darussalam Mimika tersebut.
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile