Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
BULAN BAHASA

Sejumlah Langkah Membuktikan Cinta Bahasa Indonesia

Sejumlah Langkah Membuktikan Cinta Bahasa Indonesia
Sastrawan Ahmad Tohari mengatakan cinta kepada Indonesia harus dibuktikan dengan mencintai Bahasa Indonesia. (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Sastrawan Ahmad Tohari mengatakan cinta kepada Indonesia harus dibuktikan dengan mencintai Bahasa Indonesia. (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)

Jakarta, NU Online
Bulan Oktober ini dikenal juga sebagai Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia. Peringatan Bulan Bahasa merujuk pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Salah satu ikrar Sumpah Pemuda, berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia."

 

Terkait Bulan Bahasa ini, sastrawan Ahmad Tohari menyampaikan pesan serius untuk masyarakat Indonesia agar sungguh-sungguh mencintai Bahasa Indoensia. Kecintaan pada Bahasa Indonesia dengan berbahasa secara bangga dan hati-hati. "Tak perlu mengucapkan kata asing kalau kita bisa mencarinya dalam bahasa Indonesia," kata Ahmad Tohari dalam perbincangan dengan NU Online baru-baru ini.

 

Ia menyebutkan beberapa kata asing yang masyarakat Indonesia sering gunakan. Seperti kata donasi, rental, dan laundry. Padahal, kata tersebut versi Bahasa Indonesia masih tersedia, yakni bantuan, sewa, dan binatu. Penggunaan kata asing yang terus menerus, dikhawatirkan Tohari akan menghilangkan kata asli dalam Bahasa Indonesia.

 

Menurut sastrawan yang terkenal dengan karyanya Ronggeng Dukuh Paruk, untuk mempertahankan Bahasa Indonesia, dilakukan dengan tiga hal. Pertama, menguasai dan mencintai Bahasa Indonesia. Orang yang ingin membutikan kecintaan kepada Indonesia, harus mencintai Bahasa Indonesia.

 

"Kedua, wajib melestarikan bahas ibu. Orang Sunda dengan bahasa Sunda-nya, orang Banyumas dengan bahasa penginyongan, orang Tegal harus menguasai Bahasa Tegal. Kalau tidak, itu  malapetaka budaya," ujar penulis yang cerpennya Mereka Mengeja Larangan Mengemis terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2019.

 

Ketiga, warga Indonesia karena berada di dunia global, agar menguasai setidaknya Bahasa Inggris. "Syukur-syukur juga bisa menguasai Bahasa Perancis, Jerman atau lainnya," sambungnya.

 

Tohari menegaskan, ketiga hal itu: menguasai Bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing, harus berjalan bersama-sama.

 

Menguatkan bahasa daerah
Pegiat sastra Banyumas lainnya, Wanto Tirta mengatakan bulan Bahasa adalah salah satu momentum. Ia beranggapan, mencintai Bahasa Indonesia tidak hanya di bulan Oktober. Bulan Bahasa sebagai spirit, karenanya di bulan Bahasa ini pihaknya turut berpartisipasi mengembangkan kegairahan berbahasa Indonesia.

 

Penulis yang terkenal dengan sebutan Presiden Geguritan ini, mengatakan pihaknya  terus mengupayakan agar bahasa ibu atau bahasa daerah, dalam hal ini Bahasa Banyumas, ke depan tidak punah. 

 

"Syukur-syukur bisa dikembangkan karena ini bagian dari bahasa nasional. Jadi kita wajib mempelajari bahasa daerah, Indonesia, dan internasional," tegasnya seraya menambahkan bahwa ketiganya saling berkait sehingga tidak ada yang dipertentangkan.

 

Menularkan kecintaan berbahasa pada peserta didik
Trisnatun, Kepala SMPN 1 Wangon, Kabupaten Banyumas berpendapat secara umum seharusnya ada perhatian lebih dari pemerintah terkait peringatan Bulan Bahasa. Ia mengatakan mungkin di tingkat provinsi ada perlombaan dalam rangka Bulan Bahasa. 

 

"Di SMP Wangon yang saat ini masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh mengadakan peringatan Bulan Bahasa, menulis dan membaca puisi, direkam dan dikirim untuk diberi niai. Dengan begitu, anak dilatih menghasilkan karya, dengen koordinasi Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan guru  Bahasa Indonesia," ujarnya.

 

Di samping itu, menurutnya sangat penting untuk terus dikembangkan budaya menulis dan berbahasa dengan pendekatan dan keilmuan yang benar. Tujuannya agar masyarakat dapat memilih istilah yang tepat dalam berbahasa, karena setiap kata akan berdampak sosial. "Harus belajar lebih peka tentang bahasa," imbuh penulis kumpulan Jonggrang ini.

 

Sementara Isdiyati, guru Pendidikan Sejarah di Banyumas mengatakan, terkait bahasa yang merupakan bagian dari Sumpah Pemuda juga sebagai ajang mengingat sejarah. Karena bangsa yang baik tidak melupakan sejarahnya. Peristiwa sejarah akan membuat orang bijaksana.

 

Budaya memperkokoh agama
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam banyak kesempatan mengatakan umat Islam tak bisa lepas dari budaya. Budaya, dalam Islam, bukan untuk dipertentangkan justru memiliki fungsi sebagai penguat. Budaya dalam hal ini tentu saja termasuk berbahasa. 

 

Kiai Said menegaskan, agama dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa budaya menjadi keras, sementara budaya tanpa agama menjadi sekuler.
 

Kiai Said menambahkan, Allah SWT menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW dimulai dengan iqra yang dapat didefinisikan sebagai bacalah, cerdaslah, pandanglah dengan luas. Cerdas tapi tetap beriman. 

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile